Image Slider

Ketua MDSRA Sumenep Kupas Perjalanan RA Kartini Belajar Al-Qur’an

Lenteng, NU Online Sumenep

Ketua Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor Kabupaten Sumenep, KH Muhammad Wafi Chotib menjelaskan, tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini atau kelahiran Raden Adjeng Kartini, wanita yang memperjuangkan emansipasi wanita di Indonesia, seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional.

“Bukan hanya sekadar sosok pahlawan yang menjunjung tinggi harga diri perempuan, Kartini juga dikenal sebagai sosok yang religius. Ia haus akan ilmu pengetahuan agama, khususnya mempelajari Al-Qur’an beserta maknanya,” jelasnya.

Menurutnya, Kartini dituliskan oleh ulama besar sekaligus guru bagi para pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yaitu KH Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (Mbah Sholeh Darat) dalam kitab tafsir Faidhur Rahman.

“Di dalam kitab tersebut dijelaskan, Kartini merupakan perempuan yang terlahir berdarah biru, berkecukupan karena ia berasal dari keluarga priyai. Namun demikian tidak membuatnya menjadi merasa sombong, malahan sebaliknya ia sangat butuh pencerahan agama,” kata alumni Pondok Pesantren Al-Is’af Kalabaan Guluk-Guluk itu.

Dirinya menceritakan, suatu hari Kartini mempelajari Al-Qur’an namun tidak mengerti karena tak ada terjemahannya. Kartini pun mengibaratkan, bahwa belajar Al-Qur’an dengan model tersebut akan menjadikan umat Islam tidak mengetahui mutiara hikmah Al-Qur’an yang sebenarnya.

“Akibat keresahannya itu, Kartini berusaha tetap belajar Al-Qur’an beserta isi kandungannya, bukan sekadar terjemahannya saja. Berbagai macam bahasa asing seperti Belanda, Prancis dan Inggris saja ia telan dengan baik, maka bahasa agamanya, yaitu Arab juga ia pun berusaha pelajari,” ujar Kiai Wafi.

Dalam pandangannya, Al-Qur’an yang dibaca oleh Kartini yang menggunakan bahasa Arab membuatnya pusing, karena itu ia merasa harus mempelajarinya kepada guru yang tepat.

“Hingga pada suatu hari Kartini bertemu Mbah Sholeh Darat, dan ia berguru untuk menimba ilmu dari ulama besar tersebut, hingga akhirnya menjadi santri Mbah Sholeh Darat dalam mempelajari ilmu Tafsir Al-Qur’an,” terangnya.

Ia menambahkan, pertemuan antara Kartini dan Mbah Sholeh Darat itu jauh hari sebelum 1901. Dalam Tafsir Faidhur Rahman fi Tarjamati Tafsir Kalam Malikid Dayyan, dipaparkan sosok Kartini di jilid satu, ditulis selama 11 bulan oleh Mbah Sholeh Darat, yaitu pada 20 Rajab 1309 H/19 Februari 1892 sampai 19 Jumadal Ula 1310 H/09 Desember 1892 M.

“Jilid pertama tafsir tersebut berjumlah 503 halaman dengan bahasan Surah Al-Fatihah dan Surah Al-Baqarah. Kemudian kitab tafsir tersebut dicetak oleh Percetakan HM Amin Singapura pada 27 Rabiul Akhir 1311 H atau 7 November 1893,” lanjutnya.

Oleh alumni Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan ini ditegaskan, pertemuan Kartini dan Mbah Sholeh Darat sudah pernah dilakukan sebelum 1892, tepat sebelum Kartini dipingit.

“Seorang suami dari wanita yang merupakan buyut Mbah Sholeh Darat, yaitu Agus Tiyanto atau dikenal juga Abu Malikus Salih Dzahir, menjelaskan bahwa sumber data Kartini pernah nyantri ke Mbah Sholeh Darat ini awalnya ditemukan oleh Moesa Machfudz (dosen sejarah UGM),” tegasnya.

Dirinya melanjutkan, sebelum bertemu dengan Mbah Sholeh Darat, pernah suatu hari Kartini menuliskan surat kepada sahabatnya di Belanda, Stella EH Zeehandelaar yaitu pada 6 November 1899.

“Al-Qur’an terlalu suci untuk diterjemahkan dalam bahasa apapun juga. Di sini orang juga tidak tahu Bahasa Arab. Di sini orang diajari membaca Al-Qur’an, tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Saya menganggap itu pekerjaan gila, mengajari orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya,” demikian isi suratnya.

“Sama halnya seperti kamu mengajar saya membaca buku bahasa Inggris, yang harus hafal seluruhnya tanpa kamu terangkan maknanya kepada saya. Kalau saya mau mengenal dan memahami agama saya, maka saya harus pergi ke negeri Arab untuk mempelajari bahasanya di sana. Walaupun tidak saleh, kan boleh juga jadi orang baik hati. Bukankah demikian Stella?,” tambah Alumni Pondok Pesantren Amantul Ummah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur ini.

Dari itu, dirinya menarik kesimpulan bahwa isi surat Kartini kepada Stella mencerminkan bahwa ia begitu sangat kritis terhadap ilmu agama. Kartini tidak mau sembarang mempelajarinya, sebab itu semua berkaitan besar dengan akidah atau akhlak manusia yang sudah tertulis di dalam Al-Qur’an. Apalagi saat itu belum ada terjemahan Al-Qur’an ke bahasa Melayu.

“Akhirnya Mbah Sholeh Daratlah menjadi guru pilihan Kartini untuk mempelajari ilmu tafsir Al-Qur’an, di mana menurutnya hal itu bukan pelajaran yang mudah dan harus dipelajari dengan orang yang tepat seperti Mbah Sholeh Darat,” pungkasnya.

Editor : Firdausi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga