Kota, NU Online Sumenep
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menjelaskan, bahwa proses awal berdirinya NU tidak lepas dari isyarat yang diberikan Syaikhona Muhammad Cholil Bangkalan.
Disampaikan Kiai Miftah, bahwa Syaikhona Muhammad Cholil Bangkalan memberikan isyarat berupa tongkat. Hal tersebut termaktub dalam Surah Toha ayat 17-23 dan seutas tasbih kepada Hadratussyeikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari.
“Di ayat (Al-Qur’an) itu, berisi kisah tongkat mukjizat Nabi Musa. Sebagai penegasan bahwa NU dilahirkan untuk melakukan komando agar menjadi tongkat sakti Nabi Musa as.,” tutur Kiai Miftach saat menyampaikan Khutbah Iftitah di acara Pembukaan Muktamar ke-34 NU di Pondok Pesantren Darussa’adah, Lampung, Rabu (22/12/2021).
Selain menjadi pertanda bahwa berdirinya NU mendapatkan restu dari Kiai Cholil, juga sebagai penegas bahwa NU harus menjadi komando dalam menjaga nilai-nilai luhur Ahlussunah wal Jamaah, bangsa, dan negara.
Tongkat Nabi Musa, menurut Kiai Miftach merupakan simbol komando dalam menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Bahkan, sistem yang diberlakukan dalam tatanan kenegaraan juga menjadikan tongkat sebagai komando. Sebagaimana panglima tertinggi, seperti Presiden yang memegang tongkat komando, begitu pula di Nahdlatul Ulama.
“Itulah yang diharapkan para pendiri. Agar kelahiran NU bukan sekadar memperbanyak jumlah organisasi yang ada di masyarakat, melainkan juga menjaga dan menegakkan nilai-nilai Ahlussunah wal Jamaah,” imbuhnya.
Warga NU, atau yang lebih akrab disebut Nahdliyin, menurut Kiai Miftach, memiliki kewajiban untuk menjaga dan mengembangkan nilai-nilai Ahlussunah wal Jama’ah, baik dalam tatanan kebangsaan, maupun keagamaan. Yakni sebuah bangsa yang majemuk dan berkumpul dalam wadah besar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), juga menjadi atensi besar bagi segenap Nahdliyin untuk dijaga dengan baik.
Sementara di tingkatan pengurus, memiliki kewajiban untuk memberikan pengarahan dan kontrol kepada setiap anggota. Hal itu menjadi sangat penting mengingat situasi saat ini ada banyak kelompok lain yang ingin merongrong NU dan mengikis nilai-nilai Ahlussunah wal Jamaah yang selama ini mengakar di kehidupan masyarakat.
“Maka, harus ada kader-kader NU yang berperan seperti tongkat Nabi Musa,” pintanya.
Bilamana terdapat beberapa kader NU yang berperan sebagai ular-ular jelmaan tongkat Nabi Musa, seperti yang dijelaskan dalam Surah Toha tersebut, tidak lain tujuannya adalah untuk berdakwah, membasmi kedzaliman, kemaksiatan dan kemungkaran.
“Menjadi anggota legislatif, bupati, gubernur, atau mengisi jabatan publik apapun yang mampu menjadi kekuatan, hanya untuk mengajak kebaikan, meratakan kesejahteraan dan keadilan,” pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, gelaran Muktamar ke-34 NU di Lampung itu dijadwalkan mulai hari ini, Rabu (22/12/2021) hingga Kamis (23/12/2021) esok. Muktamar tersebut maksimal diikuti 600 peserta dngan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat sesuai arahan pihak berwenang.
Editor: A Habiburrahman

