Kota, NU Online Sumenep
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siradj sempat menyinggung soal pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia yang melimpah-tuah. Selain menggenjot pertumbuhan dalam pengelolaannya, juga diperlukan pemerataan.
Menurut Kiai Said, SDA yang ada Indonesia luar biasa. Perlu dikelola oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Agar manfaatnya betul-betul dirasakan oleh masyarakat.
“SDA kita ini luar biasa. Diperlukan SDM yang unggul untuk mengelola dengan baik, agar manfaatnya dirasakan oleh masyarakat,” ungkap beliau saat mengisi sambutan di momentum Pembukaan Muktamar NU ke-34 di Pondok Pesantren Darussa’adah, Lampung. Rabu (22/12/2021).
Dihadapan Presiden Jokowi, Kabinet Indonesia Maju, dan muktamirin, Alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri itu mengungkapkan, bahwa dalam mengelola SDA perlu diseimbangkan antara melakukan pertumbuhan dengan pemerataan. Hal ini menjadi sangat penting mengingat masih banyak masyarakat Indonesia yang miskin.
“Bukan hanya pertumbuhan yang terus digenjot. Terpenting juga adalah bagaimana melakukan pemerataan. Karena masih banyak bangsa kita yang miskin-miskin,” imbuhnya.
Pasalnya, Kiai Said menyebutkan, kekayaan SDA merupakan salah satu dari lima jenis kekayaan Indonesia yang perlu dijaga dan dikembangkan.
Selain kekayaan SDA, terdapat pula kekayaan di bidang sosial kapital. Di dalamnya mencakup 17 ribu lebih pulau, 300 etnis, 1340 suku bangsa dan 1211 dialektika bahasa. Kesemua itu bersatu dalam tenda besar bernama Pancasila.
“Tenda Pancasila ini untuk saling menguatkan satu sama lain,” terangnya.
Terdapat pula kekayaan kultur-budaya. Menurut Kiai Said budaya luhur yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia adalah Akhlaqul Karimah. Itulah yang dapat menjunjung tinggi martabat bangsa.
“Sebab, martabat suatu bangsa tergantung pada akhlaknya. Bila akhlaknya hancur, maka hancur pula martabatnya. Sebaliknya, bila akhlaknya baik, maka baik pula martabatnya,” tandasnya.
Selain itu, terdapat pula kekayaan simbol dan sumber daya politik yang keberadaanya perlu dikembangkan dan dilestarikan, guna menjawab berbagai tantangan dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kendati digelar terpisah di empat titik lokasi, Pelaksanaan Muktamar NU ke-34 tetap berjalan khidmat. Sesuai jadual yang telah diatur, usai pembukaan, para muktamirin akan melangsungkan agenda sidang komisi-komisi hingga esok jelang pemilihan Ketua Umum PBNU.
Editor: A. Habiburrahman.

