Guluk-Guluk, NU Online Sumenep
Daya saing merupakan kemampuan perguruan tinggi untuk
menunjukkan keunggulan atau nilai lebih dibandingkan perguruan tinggi lain. Inovasi dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing guna memenuhi ragam kebutuhan masyarakat. Perguruan tinggi dituntut memiliki competitive distinctive (ciri khas) dan comparative advantages (keunggulan) untuk memaksimalkan proses pembelajaran dan melahirkan lulusan terbaik.
Atas dasar hal ini, Abd Warits, Ketua Program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Program Pascasarjana Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk menulis disertasi dengan judul ‘Manajemen Inovasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam dalam Meningkatkan Daya Saing (Studi Multikasus di IAIN Madura dan Instika Guluk-Guluk).’
Ia dikukuhkan sebagai Doktor di bidang Manajemen Pendidikan Islam setelah berhasil mempertahankan penelitiannya tersebut di depan tujuh penguji yang dipimpin oleh H. M. Zainuddin di Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Jum’at (15/07/2022).
“Penelitian ini menelaah manajemen inovasi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura dan Instika Guluk-Guluk, Sumenep dalam meningkatkan daya saing, dengan tiga fokus penelitian. Pertama, konsep manajemen inovasi perguruan tinggi. Kedua, implementasi manajemen inovasi perguruan tinggi. Ketiga, implikasi manajemen Inovasi perguruan tinggi dalam meningkatkan daya saing,” terangnya.
Dosen Fakultas Tarbiyah Instika Guluk-Guluk ini mengungkapkan beberapa temuan penelitian dalam disertasinya tersebut. “Temuan penelitian ini meliputi tiga hal. Pertama, konsep manajemen inovasi dalam meningkatkan daya saing yang meliputi inovasi dikembangkan melalui adopsi dan modifikasi dengan menambahkan nilai-nilai baru berbasis local wisdom terhadap ide, gagasan dan produk; digali dari visi-misi dan karakter serta ciri khas institusi; inovasi dikembangkan sesuai kebutuhan dan kondisi lingkungan; serta dimenej dengan memaksimalkan seluruh sumber daya dan aset guna melahirkan kegiatan inovasi berbasis kearifan lokal,” ungkapnya.
Kedua, implementasi manajemen inovasi melalui penyusunan perencanaan berbasis RIP dan renstra, pengorganisasian sumber daya dan aset, pelaksanaan dan evaluasi terhadap capaian inovasi. “Pelaksanaan inovasi melalui beberapa model yaitu keuntungan, jaringan, struktur, proses, kinerja, produk, sistem produk, layanan, saluran dan merk, serta melibatkan konsumen,” jelasnya.
Ketiga, implikasi manajemen Inovasi dalam meningkatkan daya saing adalah dengan terbentuknya konstruksi keilmuan (kurikulum) berbasis keagamaan dan budaya lokal, tercipatanya integrasi keilmuan dalam proses pembelajaran, meningkatnya kompetensi dosen, tingginya publikasi dan sitasi karya ilmiah, terpenuhinya kebutuhan sarana dan fasilitas pembelajaran, pembiayaan
pendidikan terjangkau, bertambahnya jumlah mahasiswa, terbangunannya
karakter keilmuan dan profil lulusan, serta terakreditasi ISO dan BAN PT dengan status baik sekali.
“Dari hal itu, perguruan tinggi harus berani melakukan Inovasi dan terobosan baru dalam proses pembelajaran dengan melakukan adopsi dan modifikasi serta menjadikan ciri khas institusi sebagai keunggulan. Misalnya, kemampuan Instika Guluk-Guluk yang memiliki konstruksi keilmuan Baitul Hikmah dan Jargon Kampus Tatakrama, sementara di IAIN Madura memperkenalkan diri sebagai Kampus Kitabi dan Madurologi yang tercermin dalam Visi IAIN Madura yaitu Religius dan Kompetitif,” tegasnya.
“Dua hal ini merupakan ciri khas dan keunggulan institusi yang akan mendongkrak daya saing keduanya sehingga bisa berdaya saing,” tutur alumni Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk ini.
Ia juga menceritakan pengalamannya dalam usaha meraih gelar pendidikan tertinggi ini. “Saya kuliah doktor sejak tahun 2015, setelah lulus S2 dengan status wisuda terbaik, saya merasa yakin bahwa saya bisa melewati kuliah doktor dengan mudah,” paparnya.
“Tapi rupanya, kesimpulan saya salah.
Rupanya, kuliah doktor bukan hanya soal kematangan intelektual, tapi kematangan spiritual juga. Ada banyak hal tak terduga terjadi dalam perjalanan saya meraih gelar tertinggi itu, dan setelah saya amati, banyak juga teman-teman sesama pejuang S3 mengalami hal serupa,” katanya.
Dirinya juga berharap, dengan pendidikan yang lebih tinggi, ia hanya ingin menebar manfaat lebih banyak kepada sesama. “Saya berharap makin banyak kampus Islam yang berani berinovasi meski dengan segala keterbatasannya sehingga meningkatkan mutu pembelajaran,” pungkasnya.
Editor : Ach. Khalilurrahman

