Kota, NU Online Sumenep
Remaja usia 12-21 tahun rentan dengan prasangka, baik antar remaja maupun dengan yang tidak seusia. Lebih-lebih di media sosial (medsos), remaja seolah masuk ke dalam hutan belantara dengan berjalan linglung.
Penegasan ini disampaikan langsung oleh Kiai Fathol Haliq, Pengurus Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) PCNU Sumenep saat mengisi program ‘Pengarus Utamaan Gender (PUG)’ di Studio Pro-1 Radio Republik Indonesia (RRI) Sumenep, Rabu (01/06/2022).
“Tidak saling mengenal dan saling memahami antara satu dengan lainnya. Maka, timbullah prasangka dimana orang saling mengancam dan terancam baik secara realistik, simbolik, perasaan dan stereotip negatif,” tegasnya.
Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk ini menyatakan, hal itu diperparah dengan adanya injeksi prasangka yang memiliki kepentingan untuk merusak mental remaja.
“Tujuan politik, sosial bahkan ekonomi menjadi bagian yang memberikan stimulasi bagi remaja seperti ini sehingga timbul agresi verbal antara pengguna medsos. Saling mengejek, mencaci, membenci, dan mengkafirkan antara satu dengan yang lain,” tuturnya.
Menurutnya, data tentang pengguna internet di dunia ada 4.95 Miliar (tahun 2021), sementara pengguna medsos aktif 4.62 Miliar, naik 10,1%.
“Sementara di Indonesia, dari penduduk total Indonesia 277,7 juta, Mobile (HP dan Gadget) ada 370,1 juta, dengan pengguna internetnya (204,7 juta) dan pengguna medsos aktif 191,4 juta (naik 12,6%). Medsosnya bisa berupa WhatsApp (88%), Instagram (84%), Facebook (81%), Tiktok (63.1%), Telegram (62.8%) dan Twitter (88%),” tandasnya.
Upaya Pencegahan
Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura ini menambahkan, sebagai hal yang mengganggu tentu prasangka hendaknya dicegah dengan berbagai cara mulai dari pendekatan individual sampai sistemik.
“Pendekatan individual dimaksudkan untuk mencegah terjadinya proses agresi pada remaja sehingga sebelum agresi itu terjadi, dapat dicegah secara otomatis pada diri individu itu sendiri,” tambah alumni Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk itu.
Alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta mengatakan, pencegahan melalui pendekatan individual ini diharapkan terjadi pada setiap individu melalui nilai-nilai yang dapat mencegah perilaku maladaptif tersebut.
“Sementara dengan pendekatan sistemik perilaku yang mengganggu proses interaksi dimasukkan ke dalam proses pembelajaran di sekolah sehingga dapat melibatkan guru dalam mencegah prasangka,” lanjut alumni Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta itu.
Alumni Program Doktor Universitas Negeri Malang (UM) ini juga mengajak kepada orang tua dan teman agar menjadi prevensi prasangka di media sosial dengan memberikan pendidikan individual dan sistem dalam keluarga.
“Sementara memperbanyak bermain dengan teman dapat mengalihkan medsos sekaligus menghilangkan prasangka. Pemerintah daerah dan lingkungan pendidikan dapat membuat taman bermain bagi remaja,” pungkas Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum (PPMU) Gapura Barat, Gapura ini.
Editor : Ach. Khalilurrahman

