Oleh: Aldi Hidayat
Rasulullah SAW bersabda:
كاد الفقر أن يكون كفرا
Artinya: kefakiran hampir menjadi kekafiran.
Maksud hadits tersebut adalah bawa krisis ekonomi dapat mengantarkan manusia pada kekafiran, entah kufur nikmat atau kufur paling atas, yakni keluar dari Islam. Beberapa abad kemudian, Karl Marx secara tidak langsung melontarkan pernyataan yang senafas dengan hadits di atas. Ia menyatakan bahwa kebutuhan manusia akan ekonomi, seperti sandang (pakaian), pangan (makanan) dan papan (kediaman) mendahului kebutuhannya akan agama, seni, politik dan lain sebagainya. Secara faktual, saat balita, manusia tentu belum merasa butuh pada tiga bidang terakhir tadi. Tentu saja, ia masih butuh hal-hal yang bersifat ekonomi. Oleh sebab ekonomi sudah dibutuhkan sejak dini, maka keberadaannya memiliki andil besar terhadap aneka lini, termasuk agama.
Krisis ekonomi tentu bisa membuat orang buta mata hati. Gampangnya, orang yang kelaparan tidak akan berpikir bagaimana mendapatkan makanan halal. Yang berkuasa dalam benaknya ialah bagaimana memenuhi hasrat perutnya, kendati itu haram. Tidak hanya itu, keinginan akan ekonomi yang melimpah membuat sebagian orang menghalalkan segala cara, semisal prostitusi, judi, bisnis narkoba dan lain sebagainya. Bahkan lantaran ekonomi, manusia bisa pindah agama.
Ekonomi tidak dapat dipungkiri mendasari hampir permasalahan bangsa Indonesia. Demi ekonomi, beberapa oknum mendagangkan manusia melalui kedok pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Ini diungkap oleh Siprianus Edi Hardum lewat bukunya, “Perdagangan Manusia Berkedok Pengiriman TKI”. Sebab ekonomi pula, praktek suap tumbuh subur di negeri ini. Karena ekonomi juga, korupsi masih merajalela hingga kini. Lalu bagaimana mengentaskan semua ini?
Penulis akan menghidangkan dua pandangan. Pertama, pemerintah seharusnya tidak memberi kesempatan seluas-luasnya kepada investor asing hanya karena dalih ingin menyejahterakan bangsa. Jika bangsa ingin sejahtera, maka sumber primer adalah bangsa itu sendiri, bukan pihak pendatang dari luar. Kemudahan investor asing mengelola SDA bangsa secara sekilas membawa keuntungan instan, tapi pada akhirnya akan menjajah rakyat. Sebagai solusi, pemerintah semestinya memberi modal kepada rakyat yang berbakat dan kreatif. Sekadar contoh, di Jawa Barat mengutip keterangan Nur Cholish Madjid, dalam bukunya, “Atas Nama Pengalaman: Beragama dan Berbangsa di Masa Transisi” ada orang mampu merakit mesin motor sendiri. Orang tersebut sempat sukses mendirikan perusahaan motor dalam negeri. Akan tetapi, pihak Honda setelah mengetahui hal ini, segera menyogok orang yang bersangkutan supaya menutup perusahaannya itu, khawatir nanti menjadi saingan Honda di Indonesia. Oleh sebab orang seperti demikian tidak mendapat perlindungan hukum dari pemerintah, akhirnya ia bersedia memenuhi permintaan pihak Honda. Uang melimpah segera ia dapatkan, namun kreatifitas bangsa lantas menjadi korban.
Kedua, kita mesti meniru semangat persaudaraan ala pebisnis Cina. Salah satu prinsip hidup Cina, khususnya kalangan pebisnisnya ialah Guanxi, yaitu persaudaraan. Prinsip ini membuat mereka gotong-royong untuk saling menyukseskan. Tak ayal, jika salah satu pebisnis Cina bangkrut, maka pebisnis Cina lainnya akan berswadaya demi memulihkan bisnis si bangkrut tadi. Adakah solidaritas semacam ini kental terjadi antar sesama muslim? Justru kenyataan menunjukkan betapa individualitas semakin kentara pada diri umat Islam. Sekadar contoh, namun sebelumnya mohon maaf, orang kaya cenderung hidup mewah, namun biasa saja atau tidak sama sekali dalam hal sedekah. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa untuk diri sendiri dan keluarga, cukuplah kita sekadarnya saja. Akan tetapi, dalam bakti sosial, kita harus luar biasa. Adakah sunnah macam ini menggejala di tengah kita? Jika Indonesia ingin sejahtera secara ekonomi, maka sunnah Nabi SAW tadi harus tertanam dalam diri sebagian atau bahkan rata-rata rakyat Nusantara.
Wallahu A’lam.
*) Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep

