Image Slider

Penyakit Tuberculosis dan Cara Menanggulanginya

Gapura, NU Online Sumenep
Tuberculosis atau yang biasa dikenal dengan TBC adalah penyakit menular yang disebabkan kuman TBC yang menyerang tubuh manusia. Terutama di bagian inti, yaitu paru-paru. Meski bukan penyakit turunan, namun keberadaannya cukup membahayakan kesehatan manusia.

Di Indonesia sendiri, penderita penyakit TBC menempati peringkat ketiga setelah India dan China. Hingga saat ini jumlah kasusnya lebih dari 824 ribu dengan jumlah kematian hingga 93 ribu jiwa pertahun. Atau setara dengan 11 kematian perjam.

Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Gapura, dr. H. Slamet Riadi memaparkan, Provinsi Jawa Timur adalah daerah dengan jumlah penderita TBC tertinggi ketiga nasional. Sementara Kabupaten Sumenep, hingga saat ini masih menempati peringkat satu di Jawa Timur.

“Di Kecamatan Gapura sendiri, tahun 2021 kemarin tercatat 55 orang dan di tahun 2022 sekarang ada 21 orang penderita penyakit TBC,” ujarnya saat Sosialisasi Penyakit TBC bersama Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Gapura Tengah, Kecamatan Gapura, Sumenep, pada Kamis (28/7/2022).

Penyakit TBC bisa dikatakan mudah menular. Sebab, kuman TBC dapat menular ketika penderita TBC batuk, bersin dan berbicara. Kuman tersebut keluar ke udara melalui percikan dahak lalu terhirup oleh orang lain memalui saluran pernapasan.

“Dari situ penyakit TBC mulai menular,” ujar pria yang juga Pengurus Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU) Sumenep.

Bila kuman TBC sudah mulai masuk ke tubuh manusia, biasanya akan muncul gejala utama berupa batuk selama lebih dari dua minggu. Kemudian akan muncul gejala-gejala lain secara bertahap. Seperti batuk berdahak, demam, nyeri dada, berkeringat tanpa sebab, nafsu makan menurun dan berat badan menurun.

“Gejala demam ini tidak terlalu tinggi, layaknya meriang. Batuk berdahak yang terkadang disertai darah. Nyeri di bagian dada. Berkeringat tanpa sebab, utamanya pada sore dan malam hari. Nafsu makan menurun yang kemudian menyebabkan berat badan menurun,” tambahnya.

Dokter di Puskesmas Gapura itu juga menjelaskan, bila ada bagi orang yang menderita batuk lebih dari dua minggu, maka dilakukan pemeriksaan dahak terlebih dahulu. Kemudian dilanjutkan dengan rontgen foto dada bila pemeriksaan dahak hasilnya negatif, sementara gejala TBC lainnya ada.

“Jika sudah benar-benar positif mengidap penyakit TBC maka pengobatan dilakukan selama kurang lebih 6-8 bulan dengan dua tahap. Ini program yang sudah ditetapkan,” terangnya.

Pengobatan selama 6-8 bulan itu dibagi dua tahap. Untuk tahap awal, penderita diharuskan meminum obat setiap hari selama 2-3 bulan. Kemudian di tahap akhir, obat diminum tiga kali seminggu selama 4-6 bulan. Tentu dengan resep dokter yang telah teruji klinis.

Upaya Pencegahan
dr. Slamet pun menegaskan, bahwa penyakit TBC dapat disembuhkan. Meski begitu ia menyarankan agar melakoni pola hidup sehat. Sebagai ikhtiar menanggulangi penularan penyakit infeksi paru-paru tersebut.

“Tentu dengan pola hidup sehat. Makan-makanan yang bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Membuka jendela agar rumah mendapatkan cukup sinar matahari dan udara segar. Menjemur alas tidur agar tidak lembab,” ungkapnya.

Antisipasi dini juga dapat dilakukan. Seperti suntikan vaksin BCG bagi anak di bawah usia 5 tahun untuk menghindari penularan TBC berat (meningitis dan milier). Dan tidak kalah penting juga olahraga dengan teratur serta tidak merokok.

“Tuberculosis bisa disembuhkan. Perika dan obati TBC gratis di Puskesmas,” pungkasnya.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga