Kota, NU Online Sumenep
Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia. Bahkan menjadi ancaman pula terhadap kemampuan daya saing bangsa. Mengapa demikian? Karena anak yang stunted bukan hanya mempengaruhi pertumbuhan fisiknya saja, melainkan juga perkembangan kognitifnya.
Menurut dr. Virzannida Busyro, salah seorang Ketua Bidang Kesehatan dan Lingkungan Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Sumenep, stunting pada anak akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas dan kreativitas di usia-usia produktif. Itulah sebabnya stunting menjadi ancaman yang cukup serius bagi lahirnya generasi emas Indonesia.
“Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak pada anak yang disebabkan karena kekurangan asupan gizi dalam waktu lama, infeksi berulang, dan kurangnya stimulus psikososial,” ujarnya kepada NU Online Sumenep, Senin (22/8/2022).
Anak yang stunting salah satunya dapat ditandai dengan panjang/tinggi badan anak lebih pendek dari anak seusianya. Selain itu memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal. Stunting juga menjadikan anak lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan berisiko menurunkan produktivitas.
dr. Virza, sapaan akrabnya, menyebutkan bahwa penyebab utama dari stunting ini adalah kurangnya asupan gizi yang diterima janin atau bayi. Sehingga berdampak pada kondisi anak yang mudah sakit, kemampuan kognitif berkurang, saat tua berisiko terkena penyakit yang berhubungan dengan pola makan.
“Selain itu juga fungsi-fungsi tubuhnya tidak seimbang, mengakibatkan kerugian ekonomi dan postur tubuh tak dapat tumbuh maksimal saat dewasa,” tambahnya.
Otak anak mulai berkembang pesat sejak dalam kandungan hingga usia 2-5 tahun. Pada masa ini seringkali disebut sebagai golden age. Sehingga bila mengalami stunting akibat kurang gizi pada masa golden age, akan berakibat fatal hingga tumbuh dewasa.
“Perkembangan sel saraf otak anak yang normal dapat berkembang dengan baik. Sedangkan yang stunted perkembangan saraf otaknya sangat terbatas. Karena anak yang mengalami kurang gizi kronis menunjukkan sel otak yang abnormal dengan lebih sedikit percabangan atau sel otak,” jelasnya.
Kurangnya asupan gizi pada anak yang kemudian berakibat pada stunting sangat mempengaruhi pertumbuhan fisik, mental dan intelektualnya. Sehingga menghambat perkembangan otak, kecerdasan, kemampuan belajar, dan rendahnya produktivitas yang bersifat permanen.
“Karena fisik anak yang kurang gizi dapat diperbaiki. Namun perkembangan otaknya tidak dapat diperbaiki, atau permanen,” terangnya.
Dokter Umum di UPT Puskesmas Kecamatan Gapura itu menambahkan, untuk mendeteksi balita stunting, salah satunya bisa melalui cara menimbang berat dan tinggi badan anak.
“Dalam menimbang, hendaknya menggunakan alat timbangan yang direkomendasi dokter, pakaian yang digunakan seminimal mungkin dan hindari sikap anak yang takut dan jengkel,” pintanya.
Upaya Pencegahan
dr. Virza menyembutkan, upaya pencegahan bisa dilakukan dengan, pertama memenuhi kebutuhan gizi sejak hamil. Tindakan yang relatif ampuh dilakukan untuk mencegah stunting pada anak adalah selalu memenuhi gizi sejak masa kehamilan. Selain itu, perempuan yang sedang menjalani proses kehamilan juga sebaiknya rutin memeriksakan kesehatannya ke dokter atau bidan.
Kedua, memberi ASI Eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan, ib disarankan untuk tetap memberikan ASI Eksklusif selama enam bulan kepada sang buah hati. Protein whey dan kolostrum yang terdapat pada susu ibu pun dinilai mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi yang terbilang rentan.
Ketiga, dampingi ASI Eksklusif dengan MPASI sehat. Ketika bayi menginjak usia 6 bulan ke atas, maka ibu sudah bisa memberikan makanan pendamping atau MPASI. Dalam hal ini pastikan makanan-makanan yang dipilih bisa memenuhi gizi mikro dan makro yang sebelumnya selalu berasal dari ASI untuk mencegah stunting.
Keempat, terus memantau tumbuh kembang anak. Orang tua perlu terus memantau tumbuh kembang anak mereka, terutama dari tinggi dan berat badan anak. Bawa si Kecil secara berkala ke Posyandu maupun klinik khusus anak.
“Dengan begitu, akan lebih mudah bagi ibu untuk mengetahui gejala awal gangguan dan penanganannya,” ujarnya.
Kemudian yang kelima, selalu jaga kebersihan lingkungan. Anak-anak sangat rentan akan serangan penyakit, terutama kalau lingkungan sekitar mereka kotor. Faktor ini pula yang secara tak langsung meningkatkan peluang stunting.
Selain itu, juga ada upaya pencegahan melalui konvergensi intervensi. Setiap ibu hamil, menyusui, nifas dan anak usia 0-23 bulan mendapatkan akses layanan atau intervensi untuk penanganan stunting secara terintegritas. Termasuk dalam aspek perubahan perilaku.
“Intervensi ini meliputi peningkatan penyediaan air minum dan sanitasi. Peningkatan akses dan kualitas pelayanan gizi dan kesehatan. Peningkatan kesadaran, komitmen dan praktik pengasuhan dan gizi ibu dan anak. Serta peningkatan akses pangan bergizi,” pungkasnya.
Editor: A. Habiburrahman

