Pragaan, NU Online Sumenep
Pagar Nusa bukan sebuah aliran tetapi wadah penyatuan seni bela diri atau rumah besarnya semua pencak silat yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah.
Penegasan ini disampaikan oleh KH. Ahmad Junaidi Mu’arif saat menyampaikan sambutan di hadapan pengurus Pimpinan Cabang (PC) Pagar Nusa Sumenep yang sedang melakukan kunjungan di auditorium Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan, Sabtu (31/10/2020).
Ketua MWCNU Pragaan tersebut menegaskan bahwa Pagar Nusa adalah bentengnya ulama dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Siapa pun yang ingin merongrong NU dan mengusik keutuhan bangsa dan negara maka akan berhadapan dengan para pendekar NU,” katanya.
Tenaga pendidik Pondok Pesantren Al-Ihsan Jaddung tersebut berharap agar kunjungan ini ada tindak lanjut nyata dari pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pagar Nusa Pragaan.
“Semoga kunjungan yang bertajuk silaturrahmi ini bisa menggerakkan program,” harapnya.
Di kesempatan yang berbeda, K. Ach Subairi Karim mengutarakan bahwa di Kecamatan Pragaan terdapat beragam aliran pencak silat. Sebut saja Pamor, Cimande, Karate, PSHT, Tapak Suci yang notabene para pelatih dan anggotanya dari kalangan nahdliyin.
Wakil Ketua MWCNU Pragaan berharap kepada kepengurusan PAC bisa mengkoordinir beberapa aliran tersebut. Bahkan setiap menggelar latihan, pasti menggunakan tabuhan musik tradisional sehingga menarik masa atau menjadi hiburan masyarakat.
“Tokoh-tokoh kunci disetiap aliran harus disatukan melalui wadah ini dan tidak dijadikan rival oleh aliran lain,” ungkapnya. Jelaskan bahwa Pagar Nusa pemersatu kelompok pencak silat yang berpaham Aswaja An-Nahdliyah, imbuhnya.
Penegasan PC Pagar Nusa Sumenep
Pada saat yang sama, K. Abd Muiz menjelaskan bahwa tujuannya ke Pragaan adalah ingin mewujudkan program prioritas cabang. Yakni penguatan kelembagaan dan peningkatan pembinaan latihan pencak silat baik di lingkungan pesantren dan pedesaan.
Ketua PC Pagar Nusa Sumenep menceritakan bahwa para pendekar NU mendirikan wadah tersebut karena memudarnya seni bela diri di beberapa pesantren.
Menurutnya, pesantren tidak sekedar tempat menimba ilmu pengetahuan agama tetapi juga mengasah dan memunculkan para pendekar masa kini.
“Inilah alasan kami datang ke Pragaan demi mengembalikan tradisi para leluhur,” sargasnya.
Selanjutnya, semakin suburnya beberapa aliran pencak silat, tidak semua berpaham Aswaja. Terkadang ada ego dan kefiguran yang menimbulkan gesekan antara satu perguruan dengan yang lainnya.
“Inilah alasan utama mengapa Pagar Nusa dirumuskan pada tanggal 3 Januari 1986 di Lirboyo sehingga melahirkan wadah persatuan silat NU dan menginfentarisir para pendekar,” tegasnya. Pagar artinya benteng dan Nusa adalah NU dan Bangsa, tambahnya.
Mantan Wakil Bupati tahun 2000-2005 tersebut mengutarakan bahwa akan mengunjungi 21 MWCNU se-Kabupaten Sumenep demi menjaga kondusifitas dan pengkaderan atau SDM.
“Kami sudah menyapa 8 MWCNU dan membentuk pengurus PAC. InsyaAllah tanggal 12 Desember 2020 sudah selesai,” ucapnya.
Perlu diketahui, Pagar Nusa tidak mengenal usia. Siapa pun boleh bergabung. Karena misi PC adalah menanamkan nilai-nilai Aswaja sedini mungkin. Namun untuk kenaikan sabuk pasti ada ujian khusus.
Dirinya berharap, penguatan kelembagaan ini bisa menggerakkan kaderisasi di seluruh pesantren, madrasah, dan pedesaan.
“Susun struktur, program, dan dewan pendekar bisa mendorong para aliran pencak silat lainnya untuk berkumpul dalam satu payung tanpa merubah dan meninggalkan jurus-jurusnya,” pungkasnya.
Sebelum mengakhiri acara, dewan pendekar menampilkan sebagian pakem jurus Pagar Nusa kemudian Ketua PC Pagar Nusa Sumenep memparipurnai dengan menetapkan K. M. Zainul Khalis Afifi sebagai Ketua PAC dengan lantunan surat Al-Fatihah.
Pewarta: Firdausi
Editor: Ach. Khalilurrahman

