Image Slider

Ngaji Rutin MWCNU Lenteng, Kiai Hafidzi Ulas Pentingnya Amal dalam Berilmu

Lenteng, NU Online Sumenep
Pengasuh Pondok Pesantren Darul Istiqomah Batuan yang juga Rois PCNU Sumenep, KH. Hafidzi Sarbini, kembali menegaskan pentingnya mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disampaikannya dalam kajian rutin kitab Riyadhus Shalihin yang digelar di Musalla MWC NU Lenteng pada Jumat (25/7/2025) pukul 13.30 WIB.

Sebagaimana sudah menjadi tradisi di pesantren, kajian Kitab Tanbihulmughtarrin ini diawali dengan tawasul bisuratilfatihah. Secara garis besar, pesan utama dari hal 18-21 kitab ini adalah pentingnya amal dari sebuah ilmu.

Selain itu, ikhlas dan khusyuk (salat) dalam beramal juga menjadi ruh dari amalan tersebut. Bukan lagi tentang retorika seorang penceramah yang menjadi tolak ukur, tapi bagaimana pengaplikasian ilmu yang dimiliki. Jangan-jangan hanya pandai berbicara tapi nol besar dalam pengamalan.

Tidak seharusnya ulama selalu mengetuk pintu pemerintah kecuali ada kebutuhan mendesak berkaitan dengan umat. Sebisanya tidak menjadi corong pemerintah atau jurkam saat kampanye. Apalagi sampai menjadi aktor serangan fajar.

Tidak enak kedengarannya misal dikatakan kiai itu telah haji berkat dekat dengan pengusaha atau penguasa. Jangan sampai amalan akhiratnya (ilmu dan amal) malah dijadikan jembatan untuk tercapainya urusan dunia. Nauzubillah.

Di sela-sela kajian, beliau menyampaikan dauh almaghfurlah Mbah Yai Maimoen Zubair yang relate dengan pembahasan kitab. “Kamu itu jangan mau diberangkatkan haji oleh orang lain.”

Imam Sufyan ats-Tsauri menyampaikan perumpaan dari Nabi Isa AS. tentang orang yang alim tanpa amal dengan keadaan perempuan yang berzina. Saat berzina memang tidak ada yang tahu, tapi lambat laun akan ketahuan juga ketika perutnya semakin membesar. Begitu juga dengan orang alim tanpa amal, kelak di akhirat akan dipertontonkan di depan orang banyak sehingga ketahuan kebobrokannya.

“Tidak usah nunggu di akhirat, sejak di dunia orang seperti ini pasti ketahuan buruknya. Pasti tidak akan mulia dan dimuliakan meskipun banyak ilmu,” tambah Kiai Hafidzi.

Beliau juga menyampaikan dauh Mbah Moen tentang pesantren yang membuka jasa travel umrah. Maka lambat laun pesantren tersebut akan semakin menurun dalam segala hal. Tapi ini tidak berlaku secara keseluruhan, tetap ada pesantren penyedia travel umroh yang tulus tanpa ada niatan untuk kepentingan dunia. Kalau tidak pesantrennya, iya pribadi pengasuhnya. Hal ini karena kebanyakan kia menjadikan pesantrennya sebagai ladang penghasilan yang seharusnya menjadi ladang keilmuan.

Imam Fudhail bin ‘Iyad menegaskan bahwa orang yang beramal karena ingin dipuji adalah riya’ sedangkan tidak jadi melakukan sebuah kebaikan karena tidak ada yang memuji adalah sebuah kesyirikan. Orang yang benar-benar ikhlas akan diselamatkan dari keduanya oleh Allah SWT.

“Orang kalau sudah tidak peduli dengan pujian atau cacian orang lain, itu bagian pertanda ikhlasnya amal,” ujarnya. Dupuji tidak akan terbang, dicaci tidak akan tumbang.

Sebagai orang alim seharusnya menjadi contoh dalam perkataan dan perbuatan. Jangan hanya jadi pelita bagi orang lain, tapi dirinya malah gelap gulita. Jangan hanya menjadi bintang (kompas) bagi orang lain, tapi dirinya malah hilang arah. Kesana-sini memenuhi undangan ceramah dari pemerintah dengan amplop tebal, lalu datang ke masjid dengan qolal mushannifu.

“Demi Allah, bukan seperti itu akhlak para santri,” pesannya Imam Fudhail bin ‘Iyad pada Imam Sufyan ats-Tsauri.

Oleh karena itu, ilmu dan amalan terbaik adalah yang dirahasiakan. Bukan malah ditampakkan atau diceritakan kecuali dengan niat syiar atau menghidupkan agama. Karena terkadang orang sadar akan keburukannya sendiri, tapi tetap ingin disanjung orang lain. Bahkan yang lain selalu nampak buruk padanya. Ibarat kata orang nanam pohon duri, berharap panen kurma. Mana mungkin hal tersebut bisa terjadi kata Imam Ikrimah.

Di akhir kajian beliau juga menyampaikan dauh Mbah Maimoen perihal orang yang menikahkan 2 anak perempuannya dalam satu tahun, maka ajal ayahnya pada tahun itu juga. Dauh ini beliau tidak mendengar langsung dari almaghfurlah, tapi sudah ada yang terjadi.

Beliau mempersilakan orang percaya atau tidak, karena memang tidak terikat dengan rukun iman yang wajib diyakini. Hanya saja ini termasuk sunnatullah yang hanya diketahui dan disampaikan oleh para waliyullah.

Sebelum kajian ditutup, ada yang bertanya perihal lebih utama mana orang alim dan arif billah. “Alim itu sekedar tahu, sedangkah arif sudah kenal. Tentunya lebih utama yang kenal meskipun secara definitive alim adalah makrifah,” jawab Kiai Hafidzi. Akhirnya kajian ini ditutup dengan salat Asar berjamaah.

Kontributor: Ahmad Mawardi Imron
Editor: Ibnu Abbas

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga