Sumenep, NU Online Sumenep
Semangat kemandirian dan kreativitas pelajar SMAS Nahdlatul Ulama (SMA NU) Sumenep terus tumbuh melalui program kewirausahaan sekolah. Salah satu hasil nyatanya adalah sabun cuci piring bertajuk “NU Light”, produk karya siswa yang kini menjadi kebanggaan bersama dan dipasarkan secara internal maupun daring.
Program kewirausahaan tersebut telah berjalan sejak 2023 dan dirancang sebagai ruang belajar praktik, tidak hanya teori bisnis di kelas. Siswa terlibat langsung dalam seluruh proses, mulai dari peracikan formula, produksi, pengemasan, hingga strategi pemasaran.
Pembina Program Kewirausahaan SMAS Nahdlatul Ulama, Syafira Humairoh, menegaskan bahwa NU Light bukan sekadar produk komersial.
“NU Light bukan hanya sabun cuci piring, tetapi media pembelajaran karakter, kemandirian, dan tanggung jawab siswa. Mereka belajar manajemen usaha sekaligus membangun mental wirausaha sejak dini,” ujarnya kepada NU Online Sumenep, Rabu (11/2/2026), di SMA NU Sumenep, Jalan Intan No. 7 Bangselok.
Sabun NU Light diproduksi dengan formula yang efektif membersihkan noda dan lemak. Produk ini hadir dalam dua varian aroma, yakni jeruk nipis dan lemon, dengan kemasan sederhana namun menarik. Respons warga sekolah dan konsumen sejauh ini terbilang positif.
Menurut Syafira, keterlibatan siswa secara langsung dalam proses produksi menjadi nilai utama program tersebut.
“Anak-anak tidak hanya belajar teori kewirausahaan, tetapi benar-benar mempraktikkannya. Dari menghitung modal, menentukan harga, hingga melayani konsumen,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala SMAS Nahdlatul Ulama, Sri Farida Hartatik, berharap pemasaran NU Light ke depan dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
“Kami ingin produk ini tidak hanya dikenal di lingkungan sekolah, tetapi juga diterima masyarakat umum sebagai karya berkualitas dari siswa NU,” ungkapnya.
NU Light adalah simbol bahwa dari sekolah berbasis nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah bisa lahir karya nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.
“Kami berharap agar NU Light bisa lebih dari sekadar sabun cuci piring. NU Light bisa tumbuh sebagai bagian dari proses belajar—tentang bagaimana nilai, kreativitas, dan keberanian mencoba dapat diramu menjadi karya yang memberi makna,” pungkasnya.

