Giliraja, NU Online Sumenep
Perayaan akhir dirosah kini mulai marak diselenggarakan oleh lembaga pendidikan pesantren yang ada di Giliraja. Kegiatan yang juga dikenal dengan Haflatul Imtihan ini dimulai dari Yayasan Assa’eyah Desa Jate Giliraja, Ahad (13/06/2021) malam.
Pengasuh Yayasan Pesantren Assa’eyah, Kiai Harsono Ahmad menyampaikan harapannya agar wali santri betul-betul ikut serta menjaga dan mendidik anaknya saat ada di rumah.
“Waktu di madrasah hanya sedikit dan terbatas. Para santri lebih banyak bergaul di rumah bersama orang tua dan tetangga. Jagalah pergaulan anak-anak didik, aturlah jadwal belajar, serta waktu untuk bermain. Dan yang sangat penting lagi, berikan mereka contoh yang baik,” ungkap Kiai Harsono.
Bahkan lebih rinci lagi, kiai lulusan Makkah ini mengutip sebuah hadits tentang anak yang dilahirkan secara fitrah.
“Setiap anak itu sejatinya dilahirkan secara fitrah, anak itu dilahirkan dalam keadaan suci. Maka tugas kedua orang tua untuk mendidik mereka, apakah mau dijadikan orang Yahudi, Nasrani atau Majusi?,” ujarnya mengutip sebuah hadits.
Tentu saja, menurutnya, semua berharap agar anak didik menjadi insan kamil, menjadi muslim yang kaffah. “Dari itu, butuh kerja sama yang baik antara pihak sekolah dan wali murid,” imbuhnya.
Hal senada juga disampaikan Habib Salim bin Abdullah Assegaf dari Bangkalan, yang menjadi penceramah dalam acara tersebut.
“Tadi sudah disampaikan oleh Kiai Harsono Ahmad, bahwa durasi belajar murid di rumah itu terbatas. Murid lebih banyak waktunya di rumah. Tolong bantu pihak madrasah untuk menjaga anak didik, batasi mereka dalam penggunaan HP atau android, aturlah jam belajar mereka, jangan biarkan mereka terjerumus dalam pergaulan yang tidak baik. Terakhir, jagalah mereka dalam melaksanakan shalat lima waktu. Berikan mereka contoh, kalau orang tua sudah rajin shalat lima waktu, insyaallah anaknya akan mencontoh,” ujar Habib Salim.
Habib Salim juga menguraikan tentang peran wali murid dalam membiayai anaknya dalam mencari ilmu. Bahwa hendaknya wali santri jangan merasa miskin untuk membiyai anaknya dalam mencari ilmu. Karena tugas utama mendidik anak itu adalah orang tua, bukan guru. Guru hanya sekadar membantu.
“Oleh karenanya, jangan lupa untuk biaya anak, bantulah pihak madrasah. Jangan hanya pasrah ke pengasuh tanpa memperhatikan kebutuhan sarana madrasah dan kesejahteraan guru-gurunya,” jelasnya.
Sementara itu, Kiai Moh Adi Aziz, Ketua Yayasan Pesantren Assa’eyah menekankan pentingnya kolaborasi semua komponen pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan menurut pemerintah dan agama.
Menurut Kiai Adi, sapaan akrabnya, ada beberapa komponen penting yang harus selalu berkolaborasi dan saling mendukung dalam upaya mewujudkan cita-cita pendidikan yang dicanangkan oleh Pesantren Assa’eyah ini.
“Ada murid, orang tua, guru, dan masayarakat. Semuanya harus bersinergi dan kompak, saling mendukung dan ada komunikasi yang baik. Itu semua dimaksudkan agar keinginan pihak madrasah juga selaras dengan kemauan wali santri,” ucapnya.
Lebih tegas lagi, Kiai Adi mengajak kepada segenap stakeholder pendidikan agar mengutamakan proses daripada hasil.
“Jangan silau dengan hasil, tapi kagumlah dengan proses. Urusan hasil pasrahkan kepada Allah, yang penting kita ada upaya maksimal untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsa,” ujarnya.
Laporan Panitia
Dalam kesempatan itu, Ustadz Ahmadiyanto, Ketua Panitia Pelaksana Tasyakuran dan Wisuda Purnasiswa ke-11 mengungkapkan, bahwa kegiatan tasyakuran akhir dirosah yang dilaksanakan adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah.
“Kegiatan wisuda malam ini adalah bentuk tasyakkuran kami li ta’dzimil ilmi, karena ilmu itu adalah satu-satunya jalan menuju kesalamatan baik di dunia maupun di akhirat,” ungkap Ahmadi, panggilan akrabnya.
Lebih lanjut, ia melaporkan tentang jumlah wisudawan/wisudawati yang akan dikukuhkan oleh Ketua Yayasan Assa’eyah di malam penonabatan serta tasyakkuran kelulusan itu.
“Kami panitia juga melaporkan kepada seluruh wali dan pihak yayasan, jumlah wisudawan/wisudawati yang akan dikukuhkan malam ini berjumlah 35 orang. Semoga ilmu yang didapatkan oleh mereka bisa manfaat dan barokah. Amin,” pungkasnya.
Editor: A Habiburrahman

