Lenteng, NU Online Sumenep
KH Jamal D Rahman, Ketua Yayasan Nurul Yaqin Lembung Barat, Lenteng mengungkapkan bahwa makna Idul Fitri ini adalah momentum saling berbagi, memperkuat kepedulian sosial, dan refleksi menghadapi tantangan pendidikan di era kecerdasan buatan (AI).
Hal itu disampaikannya saat mengisi Tausiyah dalam acara Halal Bihalal Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Yayasan Nurul Yaqin, di Lenteng Timur, Lenteng, Jum’at (03/04/2026).
Dalam tausiyahnya, Kiai Jamal menjelaskan bahwa Idul Fitri memiliki keterkaitan erat dengan tradisi makan sebagai simbol kebersamaan dan berbagi.
“Idul Fitri itu tellasan untuk makanan. Setelah satu bulan berpuasa, kita merayakan dengan makan sebagai bentuk syukur,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan pentingnya zakat fitrah sebagai instrumen pemerataan sosial. Menurutnya, zakat fitrah bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi bentuk kepedulian agar seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan kebahagiaan di hari raya.
“Zakat fitrah adalah zakat makanan pokok. Dan ia diberikan kepada orang lain sebelum pelaksanaan shalat idul fitri,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dosen Sastra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengingatkan bahwa Idul Fitri merupakan hari kemenangan umat Islam setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan.
“Setiap kaum mempunyai hari raya, dan ini adalah hari raya kita. Idul Fitri adalah waktu untuk makan, bersyukur, dan mempererat silaturahim,” ujarnya.
Ia juga menyinggung tradisi Hari Raya Ketupat sebagai bagian dari kekayaan budaya Islam Nusantara, yang diperuntukkan bagi mereka yang melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal.
“Hari raya ketupat itu adalah hari rayanya orang yang berpuasa enam hari di bulan Syawal,” jelas Pemimpin Redaksi Majalah Horison Jakarta ini.
Di akhir tausiyahnya, ia menyoroti tantangan besar dunia pendidikan di era kecerdasan buatan (AI). Ia menekankan bahwa para guru harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar tidak tertinggal.
“AI ini menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan. Guru harus bisa mengimbangi dan mengikuti perkembangan AI,” ujar Sastrawan Nasional ini.
Ia bahkan mengingatkan bahwa kehadiran teknologi dapat menjadi pesaing bagi peran guru jika tidak disikapi dengan bijak. “Guru sekarang punya saingan, yaitu AI,” pungkasnya.
Kegiatan Halal Bihalal ini berlangsung dengan penuh khidmat dan menjadi momentum refleksi bagi civitas LPI Nurul Yaqin untuk terus memperkuat nilai keislaman, kebersamaan, serta kesiapan menghadapi dinamika zaman.

