Cerpen: Juwairiyah Mawardy*
1992, suatu hari yang akan kuingat dengan lekat…
Terkejut aku menatap pagar masjid desaku yang berubah warna cat. Kuingat selama ini warna catnya merah bata. Kini tiba-tiba warna masjidku berubah. Kuning mencolok! Tak penting siapa yang mengubahnya menjadi warna kuning ini. Yang penting adalah orang-orang yang bergerombol menatap pagar masjid. Seolah-olah mereka baru pertama kali melihat warna kuning seperti itu. Tatapan politik kurasakan berpendar dari mata orang-orang itu. Mereka berbisik-bisik seperti melihat hantu lupa jalan pulang.
Matahari semakin tinggi. Siang semakin memanggang bumi. Tapi orang-orang tak perduli dengan terik. Semakin banyak jumlah orang yang datang ke depan masjid. Seolah sebentar lagi akan dilaksanakan sebuah ritual keagamaan secara berjamaah.
Tak lama, salah satu kiai desa muncul.
“Siapa yang mengubah cat pagar ini?”
Tidak ada yang menjawab. Orang-orang saling berpandangan dengan tatapan politik. Dengung tak jelas bergaung.
“Apakah cat pagar ini berubah dengan sendirinya dari warna asalnya?” Suara kiai itu nampak menyimpan amarah.
Pertanyaan itu tetap tak terjawab. Bisik-bisik saling curiga mulai muncul.
“Ini warna politik,” bisik seseorang.
“Ya, tapi siapa yang melakukannya?”
“Entahlah, mungkin setan lewat,” seseorang iseng menjawab dengan suara menyimpan tawa tapi segera bungkam oleh pelototan mata temannya.
“Seriuslah! Kiai itu marah!”
“Masjid ini milik semua masyarakat. Tidak pantas segolongan orang memperlakukannya semau mereka meski sekadar urusan cat. Ini warna politik! Masjid tidak boleh diwarnai politik! Ini Rumah Tuhan!”
Orang-orang mengangguk-angguk. Kiai itu lantas pergi diiringi beberapa orang. Orang-orang yang bertahan di depan masjid tak tahu apa yang harus dilakukan.
Kiai itu kembali. Orang-orang yang mengiringinya membawa kaleng-kaleng cat.
Orang-orang yang bertahan di depan pagar masjid membantu mengecat kembali pagar masjid. Masjid itu dicat kembali dengan warna putih!
“Jadi seperti rumah sakit ya?” Seseorang berkomentar.
“Eh, lihat, mereka nampaknya belum selesai…” temannya menimpali.
Orang-orang yang membantu kiai itu mengecat kembali pagar masjid yang sudah berwarna putih. Dengan tegang orang-orang yang bertahan di depan pagar menunggu warna berikutnya.
“Hijau…” sebuah bisikan terlontar seperti kecewa.
Tampak warna hijau tua sewarna lumut kini menyelimuti pagar masjid kesayangan mereka. Suara seruan tertahan menyeruak di antara mereka. Tapi tak ada yang berani protes. Kiai itu masih berada di antara mereka dan mengawasi orang-orang yang menyelesaikan pengecatan pagar masjid.
Tatapan politik kembali mewarnai suasana.
“Apa bedanya dengan yang tadi itu? Ini juga warna yang tidak bisa kita miliki bersama…” suara bisikan itu nampak tertekan.
Sebagian orang bubar karena kecewa. Kiai itu melakukan hal yag baru saja ditentangnya. Orang-orang menyebar mengikuti suara hati mereka yang gulana. Ada yang memilih ngopi di warung. Sebagian pulang ke rumah dan bersungut-sungut pada istri mereka yang tak memahami apa yang terjadi.
Menurut ibu, ayah mengomel panjang pendek tentang kejadian itu dan kemudian membuat peraturan baru bahwa anggota keluarganya tidak boleh beribadah ke mesjid itu terhitung sejak siang itu sampai waktu yang tidak ditentukan.
“Warna pagarnya sudah menunjukkan bahwa masjid itu kini menjadi milik segolongan orang,” begitu kata ayah.
Ibu masih membantah bahwa yang berubah hanya pagar masjidnya, bukan masjidnya. Masjid tetaplah milik siapa saja hamba Allah yang mau beribadah di sana.
Tapi ayah sudah menjatuhkan ultimatum. Dan kami semua mematuhinya. Menurut ayah. surga itu bisa dicapai tak melulu melalui jalan bernama masjid.
Senja itu kami berjamaah di rumah. Subuh pun demikian. Aku membayangkan jika semua keluarga di desa ini mengucilkan masjid itu lantaran cat pagarnya yang menyiratkan suara politik tertentu, betapa sepinya masjid itu ditinggalkan jemaahnya.
Apakah Tuhan juga akan kesepian melihat hambaNya menjauhi rumahNya yang damai dan ngambek mogok ibadah bersama di sana?
Pagi hari orang-orang dikejutkan dengan warna cat pagar masjid yang kini merah! Merahnya politik.
Orang-orang kembali bergerombol. Menatap kembali pagar masjid dengan suatu tatapan politik yang kritis. Tatapan itu semakin tajam seolah hendak menguliti warna-warna yang telah tumpang tindih menyelimuti pagar masjid dalam dua hari ini.
“Kenapa orang-orang bermain-main dengan warna politik ini di masjid?”
“Kenapa orang-orang itu tidak mengecat saja pagar rumahnya sendiri sesuka hati?”
“Mengapa masjid yang jadi pelampiasan birahi politik mereka?”
Memang beberapa minggu lagi akan dilaksanakan pesta rakyat pemilu raya pemilihan presiden. Pemilu yang hanya akan menghabiskan uang negara dan menjadi formalitas negeriku setiap lima tahun sekali. Pemilu yang sebenarnya bukanlah pesta rakyat melainkan pesta sebagian besar oknum pejabat negara yang menutup mata pada penderitaan rakyat yang sesungguhnya. Bagaimanapun pemilunya, pemimpinnya akan sama saja seperti puluhan tahun selama ini. Tidak akan berubah. Kalau ada yang memaksa mengubahnya, orang itu berarti bunuh diri.
Demikianlah bangsaku yang terkungkung dalam suatu kekuasaan yang entah kapan akan berakhir. Di negeriku ini jangan sampai ada orang cerdas yang kritis. Orang itu akan hilang seperti ditelan siluman. Atau ia akan ditemukan mati seperti dicekik drakula!
Pagar masjid itu kini berwarna merah seperti darah sapi yang baru disembelih. Orang-orang dengan geram merasa dipermainkan entah oleh siapa. Siapa yang punya ulah mempermainkan hati masyarakat yang merasa memiliki terhadap masjid ini? Siapa yang sedang berolok-olok dengan Tuhan?
Masjid ini dibangun dengan cikal-bakal semangat keikhlasan para warga yang ingin memiliki rumah ibadah. Mereka bahu membahu menyumbang untuk masjid ini dengan keringat mereka sendiri. Dan kini hasil jerih payah itu dikotori oleh tangan-tangan politik yang najis.
Orang-orang geram tapi tak berdaya.
“Ini harus dihentikan!” Tiba-tiba seseorang berteriak.
Orang-orang terpana.
“Ini sudah tidak benar! Ini masjid kita semua!”
Orang-orang mengangguk-angguk membeo.
Orang itu pergi dan kemudian datang lagi dengan berkaleng-kaleng cat. Orang-orang tak segera beranjak membantu. Mereka masih trauma dengan perubahan cat pagar sejak kemarin. Tapi ketika melihat orang itu mulai melabur sebuah warna, mereka seperti dikomando untuk membantu. Sebuah warna keadilan yang menentramkan hati mereka.
Kemudian dari tiga arah berbeda, muncul tiga tokoh yang menjadi panutan mereka selama ini. Diiring para pendukung mereka. Orang-orang sempat ragu meneruskan pekerjaan mereka. Tapi melihat semangat sebagian yang lain, mereka meneruskan pengecatan pagar masjid itu.
Tiga tokoh itu menatap pagar masjid yang kini sewarna tanah. Orang-orang tak lagi memandang dengan tatapan politik. Warna tanah adalah warna bumi, tempat kembali setiap orang jika telah usai menjalani tugas kehidupannya di dunia.
Tiga tokoh itu berbalik pulang bersama para pengiringnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tiga tokoh yang sebenarnya bersaudara kandung itu seperti tak saling mengenal satu sama lain. Semua lantaran kekotoran politik. Politik telah memecah belah para panutan. Memecah belah masyarakat menjadi serpihan-serpihan yang saling menusuk satu sama lain. Menjadikan mereka semua saling melupakan suatu jalan yang seharusnya mereka tempuh bersama. Jalan keadilan….
Aku menutup lembaran buku harian ibuku yang lusuh. Rasa haru menyeruak dalam batin. Segenang bening mengerjap di mataku. Tak kusangka ibuku memiliki pemahaman demikian mendalam tentang keadilan.
Kini aku memahami benar mengapa ibuku demikian anti pada partai politik. Melarangku terjun pada dunia politik. Bahkan melarangku menjadi bagian dari pejabat pemerintah. Meski ini sekadar perspektif ibu saja, tapi aku harus memerhatikan ucapan yang semi nasihat itu
“Tidak perlu kau masuk dalam pusaran air bah yang suatu hari nanti akan menelanmu dan memuntahkanmu kembali seperti seonggok daging tak berguna,” ujarnya suatu kali.
“Menjadi apa pun kau nanti di masa depan, jika kau terjun pada suatu partai politik, maka kau hanya akan menjadi pembela bagi warna partaimu sendiri. Kau akan melupakan keadilan.”
Ibu tak pernah tahu bahwa masjid yang dulu sangat dicintainya itu kini sepi. Sepi tanpa seorang pun lagi menjadi jamaahnya sebab beberapa waktu lalu masjid itu telah dirusak oleh sekelompok orang berjubah yang tak dikenal warga. Kini masjid itu masih dalam rencana perbaikan yang dimotori oleh seorang anggota dewan yang sedang menjadi trending topic karena kasus dugaan korupsi proyek pengadaan kitab suci.
Ibu tak sempat melihat bahwa segenap bangsanya kini berlepotan warna politik yang semakin kotor. Ibu tak sempat menjadi bagian dari suatu bangsa yang kini dipimpin oleh para pemimpin yang sibuk berbaku hantam memperjuangkan suara kepentingan mereka sendiri.
Aku membolak-balik buku harian ibuku yang kumal. Seperti sejarah bangsaku yang compang –camping didera ketidakadilan.
Tiba-tiba aku merasa demikian bersalah pada ibuku.
*JUWAIRIYAH MAWARDY, penyair dan cerpenis perempuan kelahiran Sumenep. Karyanya tersebar di berbagai media lokal dan nasional. Salah satu cerpennya MATI TUA memenangkan lomba cerpen kemdiknas tahun 2009. Ketua Bidang Politik PC Fatayat NU Sumenep. Wakil ketua PAC Fatayat NU Pragaan. Aktif di komunitas literasi Kata Bintang Sumenep dan bekerja sebagai advokat desa serta aktivis sosial. Tinggal di Karduluk.

