Gapura, NU Online Sumenep
Dia biasa dipanggil Mus. Orangnya kalem, pendiam, dan rendah hati. Tapi senantiasa tegas dan penuh semangat dalam mengabdi kepada NU. Selalu hadir di setiap kegiatan NU terutama yang melibatkan dirinya sebagai anggota Banser. Totalitas pengabdiannya sesuai dengan motto hidupnya: Tak ada kata lelah dalam mengabdi. Itulah sebabnya lelaki kelahiran Gapura Timur, 23 Juni 1996 itu sanggup memanggul dua tanggung jawab besar di pundaknya, antara lain sebagai Wakil Ketua Satuan Koordinasi Rayon (Satkoryon) Barisan Ansor Serbagunan (Banser) Gapura dan juga sebagai Kepala Satuan Khusus Banser Maritim (Baritim)di Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser Sumenep.
Di sela-sela kesibukannya sebagai Banser dan menjaga toko, ia menggunakan waktu kosongnya dengan membuat kerajinan tangan yang bahannya terbuat dari bambu. Kerajinan yang dihasilkan antara lain miniatur perahu, figura, lampu tidur, dan gantungan kunci. Hingga saat ini, ia telah membuat dan menjual puluhan kerajinan tangan berbahan bambu kepada para pemesan dengan harga yang beragam atau sesuai ukuran dan tingkat kesulitannya.
“Harganya tergantung ukuran dan tingkat kesulitannya. Ada yang Rp. 50.000,- ada yang Rp. 75.000,- dan yang paling murah seharga Rp. 35.000,-” tuturnya kepada reporter NU Online Sumenep.
Selain dijual, Mushthafa juga memberikan karyanya itu secara cuma-cuma kepada kerabat dan teman-temannya sebagai hadiah.
Lelaki yang sudah mengikuti Diklatsus Baritim 2017 di Tuban, Susbalan 2018 di Pamekasan, dan Diklatsus BAGANA 2019 di Madiun ini mulanya sebenarnya hanya iseng melihat tutorial kerajinan berbahan bambu di Youtobe, kemudian penasaran ingin mencobanya. Maka ia pun langsung membuat miniatur perahu. Percobaan pertamanya gagal. Tapi ia tak mau menyerah begitu saja. Ia mencoba lagi untuk yang kedua kalinya, hasil yang kedua lumayan bagus. Karya percobaan itu awalnya ia berikan kepada teman-teman dekatnya. Dari teman-teman dekatnya itulah kemudian ia banjir pesanan dari banyak orang, sehingga ia menyiapkan waktu khusus untuk membuat kerajinan sesuai pesanan.
Saat ditanya tentang cara mengatur waktu antara mengabdi dan berkarya, Mushthafa menjelaskan bahwa dirinya lebih mendahulukan pengabdian, sepulang itu barulah ia kembali melanjutkan kerajinan yang digelutinya itu.
“Jika ada pesanan perahu, dan ada panggilan PAM atau acara lain, maka saya berangkat ngePAM dulu, sepulang dari ngePAM baru saya lanjutkan, intinya ketika ada waktu luang saya kerjakan,” ungkapnya.
Sebagai ikhtiar menyambung hasil karya dengan pengabdian, Mus menggunakan uang dari penjualan kerajinannya itu untuk membeli seragam Banser atau hal lain yang dibutuhkan saat mengabdi.
“Uang yg saya dapat dari penjualan kerajinan itu saya gunakan untuk membeli keperluan Banser, baik yang bersifat operasional pribadi, beli sepatu, dan beli seragam PDL. Dan alhamdulillah sekarang saya punya seragam PDH hasil dari menjual 3 buah miniatur perahu beberapa waktu lalu,” akunya kepada NUOS dengan senyum yang mantap.
Di akhir wawancara, Mus berpesan agar menjadikan waktu luang untuk mengabdi pada siapa saja asal baik dan bermanfaat serta berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi seorang pengabdi yang mandiri tanpa membebani orang lain dan organisasi.
Editor: Ibnu Abbas

