Image Slider

Di Haul Masyaikh IAA Gapura, Kiai M Faizi Bahas Jasa Guru Kepada Murid

Gapura, NU Online Sumenep

Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Kecamatan Gapura menggelar haul masyaikh PP. Annuqayah pada Selasa (24/02/2021) di Yayasan Mambaul Ulum, Desa Gapura Barat, Kecamatan Gapura. Kegiatan ini dimulai pada pukul 14.00 WIB dan berakhir pada pukul 16.00.

Kegiatan yang melibatkan alumni PP. Annuqayah se-Kecamatan Gapura dan wali santri tersebut dihadiri oleh masyaikh PP. Annuqayah diantaranya KH Muhammad Ali Fikri, K M Ainul Yaqin, Kiai M. Faizi, K. Ubaidillah Tsabit, K. Muhammad Shalahuddin, M. Hum, dan Kiai Naqib Hasan. Selain itu, panitia juga mengundang jajaran Rois Syuriah dan Tanfidziyah MWC NU Gapura. 

Kegiatan ini diformat dengan tahlil bersama yang dipimpin oleh K. Naqib Hasan dan Tausiyah Masyaikh oleh K M Faizi. Hadir pada kesempatan tersebut Bapak A. Latief Anwar yang membacakan puisinya di depan Alumni.

Selain membacakan puisi, salah satu pendiri majalah Muara PP. Annuqayah daerah Lubangsa ini juga menegaskan kepada seluruh alumni betapa pengorbanan dan perjuanganan kiai Annuqayah dalam mendoakan santrinya ketika di pesantren itu sangat berharga bahkan hingga menjadi alumni.

“Kiai Annuqayah rutin mendoakan santrinya setiap selesai shalat berjamaah karena itu adalah waktu istijabah,” ungkapnya.

Dalam sambutannya, Abd. Rasiq, Ketua Panitia menyampaikan beberapa kegiatan alumni yang sudah berjalan di Kecamatan Gapura. “Ada ajian kitab Arbain yang diampu oleh K. Munif Zubairi dan Ajian Kitab Tafsir yang diampu oleh K Muhammad Shalahuddin, M.Hum,” ungkapnya saat sambutan.

Sementara itu, tausiyah disampaikan oleh KM Faizi. Dalam penyampaiannya, selain menceritakan sekilas sejarah Pesantren Annuqayah dan hubungannya dengan pesantren lain, beliau juga menegaskan kurikulum pendidikan dalam agama Islam.

“Sebenarnya nama Annuqayah diambil dari kitab karangan Imam As-Suyuti, yang menurut Gus Dur, kitab ini dikarang karena ada orang bertanya tentang kurikulum pendidikan Islam, dikaranglah kitab ini oleh Imam As-suyuti yang berisi empat belas disiplin ilmu,” paparnya.

Walaupun begitu, menurut kiai yang juga mengarang buku Merusak Bumi dari Meja Makan ini mengatakan bahwa nama nama pesantren kuno biasa memang diambil dari nama daerahnya agar terangkat. “Dulu, bukan Annuqayah yang terkenal, tetapi pesantren Luk-guluk,” tambahnya.

Di akhir penyampaiannya, beliau mengatakan agar kiprah alumni Annuqayah dalam membalas jasa jasa gurunya harus dengan berbagai macam hal yang bisa dilakukan. Salah satunya dengan cara mengajarkan ilmu yang sudah diajarkan, shalat berjamaah, pengabdian di lingkungan masyarakat, meskipun jasa guru kepada murid tersebut tidak akan pernah bisa terbayar.

Pewarta : Abdul Warits
Editor : Ibnu Abbas

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga