Oleh: Lukmanul Hakim
Menumpahkan semua krisis moral yang akhir-akhir ini mengemuka di kalangan pelajar atau siswa kepada gagalnya sistem pembelajaran di sekolah atau madrasah memang kurang tepat. Krisis moral bukanlah masalah yang berdiri sendiri, melainkan sesuatu yang bersifat sosiologis dan bahkan sistematik. Pesatnya laju ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang meniscayakan perubahan cara pandang bagi setiap orang disegala bidang seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya merupakan tantangan global pendidikan agama.
Agus Maimun dan Abdul Mukti Bisri (2003) mengemukakan ada dua macam tantangan yang dihadapi oleh dunia pendidikan, yaitu internal dan eksternal. Tantangan internal menyangkut lini program, pemahaman, perencanaan, pelaksanaan, penerapan, dan evaluasi sistem pembelajaran di sekolah atau madrasah. Sedangkan, tantangan eksternal menyangkut bidang kemajuan Iptek, globalisasi informasi, perubahan politik, ekonomi, sosial, dan budaya bangsa.
Memaknai dua macam tantangan di atas, senyatanya ingin dikatakan bahwa problematika kegagalan pembelajaran di sekolah begitu kompleks. Aspek psikologis, kultur, dan sosial-budaya siswa berpengaruh besar dalam proses internalisasi nilai-nilai agama ke dalam sikap dan perilakunya. Seorang guru, misalnya ketika mentransfer pesan-pesan moralitas agama kepada siswa, disarankan mampu memperhatikan perkembangan siswa dari berbagai aspek. Aspek akal (kognitif), yaitu melalui penjelasan manfaat dan hikmah ritual agama. Aspek emosional (afektif), yaitu dengan membangkitkan rasa cinta, penghargaan, dan apresiasi terhadap agama. Aspek minat, yaitu dengan memperhatikan perkembagan minat siswa terhadap agama. Aspek sosial, yaitu dengan membiasakan siswa melakukan tindakan-tindakan yang terpuji.
Menurut hemat penulis, setidaknya ada tiga penyebab kebiasaan-kebiasaan negatif yang dilakukan oleh siswa. Pertama, saat memasuki masa remaja. Masa remaja adalah masa transisi yang mana pada masa ini letupan naluri seksual memuncak. Masa ini juga kerap disebut masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Dia bukan lagi seorang anak yang polos dan senang bermain, tetapi juga bukan orang dewasa yang bijaksana dan sempurna. Kedua, kebiasaan itu muncul karena desakan kawan dekatnya. Secara emosional, remaja cenderung meniru kawan-kawannya dan ia sama sekali tidak mau menampakkan perseteruan dan pertengkaran. Mula-mula perilaku negatif itu dilakukan sebagai solidaritas perkawanan pada kelompoknya. Namun, lambat laun ia pun kecanduan. Meniru adalah modal utama remaja untuk bergaul dengan sesamanya. Ketiga, siswa yang hidup dalam keluarga yang retak dan sarat problem internal, sosial, dan psikologis cenderung bersikap dan berperilaku negatif.
Problematika dalam pembelajaran di sekolah yang paling krusial adalah terletak pada posisi guru dan siswa. Di masa kini, posisi guru di sekolah bukanlah sesuatu yang bergengsi. Sebab, melihat pergeseran orientasi pendidikan yang mengharuskan link and match kendati guru mempunyai hak dalam mengantarkan kualitas sumber daya manusia, tetapi posisi agung dan mulai ini belum menjadi primadona atau alternatif utama dalam relasi pembelajaran di sekolah atau madrasah. Posisi guru kadang hanya menempati posisi dideretan bawah atau profesi yang dikemudiankan (dikelas duakan), meskipun seharusnya posisi guru wajib menjadi primadona.
Stigma guru yang dikelas duakan ini mengimplikasikan sikap negatif dan asal-asalan bagi guru yang bersangkutan dalam membelajarkan siswanya. Akhirnya, paradigma jam kerja dari pada jam perjuangan membangun masa depan siswanya menjadi sangat dominan. Jam kerja menunjuk pada kerja-kerja yang terbatas , sedangkan jam perjuangan tidak mengenal waktu dalam bekerja atau berjuang. Jika jam kerja menakar waktu untuk meraup keuntungan material, maka pada jam perjuangan menakar diri untuk mengukur besaran waktu yang ia hibahkan untuk berjuang tanpa memperdulikan keuntungan material.
Masalah lain adalah siswa. Siswa mengidap penyakit moral, seperti enggan belajar, apatis terhadap keadaan buruk yang menimpanya, pergaulan yang menohok perilaku sosialnya, dan penyakit mental dan sosial lainnya, sehingga siswa tersebut akan sulit diberikan pesan-pesan dan nilai-nilai sahih. Kepiawaian guru diperlukan untuk meng-install kembali perilaku mental dan sosial siswa saai ini. Tenaga mekanik itu harus mampu mengkombinasikan sentuhan-sentuhan akal, emosional, dan spiritual yang bergerak di semua kutub persoalan yang dihadapi siswanya.
Untuk itu, guru yang paling berkompeten meng-install sikap dan perilaku siswanya, tidak saja sebagai tenaga pengajar dan pendidik dengan hanya mendesain instruksional pembelajaran di sekolah atau madrasah, akan tetapi harus mampu membimbing siswanya ke arah perubahan sikap dan perilaku yang positif secara optimal. Tantangan dan sekaligus peluang ini harus bisa diperankan guru secara professional dan proporsional sehingga membentuk karakrakter religious pada siswa.
Melihat pentingnya guru dalam mewujudkan perwatakan religious siswa, maka setidaknya guru harus mampu mengkaji akar persoalan yang mendorong timbulnya sikap dan perilaku negatif pada siswa, guru harus menghindari penggunaan cara-cara kekasaran dalam menyelesaikan persoalan, dan pemberian reward and punishment haruslah bijaksana, jangan sampai menimbulkan reaksi dan rangsangan untuk mengulangi sikap dan perilaku negatif. Hal yang paling pokok juga dalam penyampaian pembelajaram adalah harus dilandaskan pada keikhlasan dan ketulusan guru, bukan pada royalty yang didambakan. Wallahu A’lam.
*) Mahasiswa Semester VIII Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021, dan Sekretaris Lajnah Falakiyah Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021.

