Kota, NU Online Sumenep
Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu badan otonom (banom) yang di dalamnya diisi oleh wanita muda NU yang didirikan pada 24 April 1950 Masehi atau 7 Rajab 1369 Hijriyah di Surabaya.
Besok, Sabtu (24/4/2021) bertepatan pada Hari Lahir (Harlah) Fatayat NU yang ke-71 tahun. Umurnya yang sudah tidak lagi muda, menandakan bahwa keberadaan organisasi keperempuanan ini selalu berada di garda terdepan dalam meneguhkan peran perempuan di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat.
Seperti yang disampaikan Nyai Dina Kamilia, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Sumenep, bahwa keberadaan Fatayat NU harus mampu meneguhkan peran perempuan di tengah-tengah masyarakat. Sebab menurutnya perempuan adalah bagian dari tonggak kehidupan sosial.
“Dengan Harlah ini saya berharap Fatayat NU Sumenep terus istiqamah menjadi wadah untuk meneguhkan kaum perempuan dalam menunjukkan karakter positifnya sebagai bagian dari masyarakat. Mengingat bahwa kaum perempuan adalah tonggak sosial dengan perannya sebagai istri, ibu dan sekaligus anak serta bagian dari warga negara dalam arti luas,” ungkap beliau yang akrab disapa Nyai Dina.
Beliau juga menekankan agar bagaimana Fatayat NU mampu beradaptasi dengan nilai-nilai kehidupan sosial. Agar keberadaan Fatayat NU dapat bermanfaat di tengah-tengah masyarakat.
“Yang terpenting adalah bagaimana perempuan bisa beradaptasi dengan nilai-nilai yang berada di sekitarnya. Perempuan harus terdidik dengan baik agar tidak tertinggal untuk juga mendidik anak muda penerus bangsa ini,” imbuhnya.
Husnul Khotimah, Ketua 1 PC Fatayat NU Sumenep menyebutkan bahwa dalam rangka memeriahkan Harlah ke-71, pihaknya telah dan akan menggelar kegiatan di semua lapisan struktural, mulai dari PC, Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pimpinan Ranting (PR).
“Kami di PC Fatayat NU Sumenep mengikuti rangkaian Harlah serupa dengan PW Fatayat NU Jawa Timur. Mulai kemarin kami melakukan ziarah ke Maqbarah Muassis NU, seperti Kiai Abi Sujak di kawasan Asta Tinggi Sumenep, Maqbarah Masyayikh Annuqayah di Guluk-Guluk, dan ke asta KH. Ali Wafa di Ambunten,” ujarnya.
Selain itu pihaknya juga mulai mengumpulkan mukenah untuk dibagikan ke beberapa masjid. Program edukasi pencegahan stunting untuk calon ibu dan ibu hamil. Berbagai kajian yang temanya berkaitan dengan isu-isu perempuan. Dan bahkan setiap PAC dan Ranting juga akan melakukan pengibaran bendera Fatayat NU selama sepekan.
Diharapkan semarak Harlah Fatayat NU ke-71 itu tidak hanya diperingati secara seremonial belaka. Melainkan mampu merefleksikan tanggungjawab yang sesungguhnya dan menjadi ajang untuk terus memperbaiki diri dalam berkhidmat.
Editor: A. Habiburrahman

