Image Slider

Peduli Literasi di Kepulauan, Santri Annuqayah Giliraja Desak Maksimalkan Perpustakaan

Giliraja, NU Online Sumenep

Di era digital ini, seringkali sebuah pertemuan dilakukan di dunia maya. Bahkan dunia nyata pun terkadang terasa hampa, yang dekat terasa jauh dan yang jauh terasa dekat.

Sebab itulah, Jaringan Santri Annuqayah (JSA) pulau Giliraja tidak pernah putus asa untuk terus menjalin silaturahmi dunia nyata mengasah kreativitasnya dalam berkarya. Mereka berkumpul untuk berbagi ilmu tentang literasi di di rumah Moh. Helmi desa Banbaru Giliraja, Senin malam (10/05/2021).

Menurut Maghfiri Rofiqi, Ketua Jaringan Santri Annuqayah (JSA) Giliraja mengungkapkan, bahwa forum diskusi atau akopmpol sakancaan adalah program JSA guna memanfaatkan liburan panjang santri selama ramadhan.

“Forum seperti ini biasa kami lakukan selama liburan, sesama santri menjalin silaturahmi dan urun rembuk solusi menghadapi realitas sosial kekinian. Saya bersama teman-teman santri lainnya ingin juga berkontribusi kepada masyarakat meski hanya lewat gagasan. Pada pertemuan kali ini, kita berdiskusi tentang literasi di Giliraja,” ungkap Fengki, sapaan akrabnya.

Sementara itu, Dodi Hermawan, moderator yang memimpin diskusi JSA ini mengatakan, bahwa minat baca yang rendah ada kaitannya dengan ketersediaan bahan baca. Santri juga dituntut memberikan solusi nyata bagaimana Giliraja ini menjadi pulau literasi, bagaimana masyarakat Giliraja khususnya generasi muda agar gemar membaca.

“Mari kita bersama membangun Giliraja, sedikitnya kita mengambil peran dalam gerakan literasi, mendorong lembaga pendidikan di Giliraja agar memanfaatkan perpustakaan sebaik mungkin. Bukan sekadar itu, mari kita upayakan pengadaan bahan baca. Mereka yang tak membaca, ada kemungkinan karena memang tak ada bahan untuk dibacanya,” ujar Dodi.

Pada kesempatan yang sama, Febriyanto, Mahasiswa INSTIKA yang didapuk menjadi pembicara utama, mengharap dukungan semua pihak agar generasi milenial Giliraja gemar membaca, bukan hanya buku digitial yang berseleweran di android, tetapi juga buku fisik.

“Seperti yang kita lihat sekarang, meskipun anak-anak lebih suka membaca melalui android, bukan berarti kita tidak bisa mengalihkan kesukaannya. Kita harus membantu mereka untuk mencintai buku fisik dengan mulai mendapatkan buku sesuai tema, hobi yang digemarinya,” ungkap Febri.

Febri menambahkan, lembaga pendidikan di Giliraja hendaknya mempunyai perpustakaan yang representatif dengan tata kelola yang profesional, mempunyai buku dengan genre yang beragam. Jangan sampai perpustakaan sekolah itu hanya sekadar menjadi gudang tumpukan buku pelajaran atau LKS yang kurang bermanfaat.

Lebih tegas lagi, pria kelahiran Desa Jate Giliraja ini menginginkan supaya tiap desa di Giliraja menyisihkan anggaran desanya (DD/ADD) untuk pengembangan literasi di desanya masing-masing.

“Sebenarnya jika mau, desa tidak akan rugi amat mengucurkan DD-nya untuk pengembangan perpustakaan yang ada di sekolah/madrasah ataupun di desa, justru desa akan lebih maju masyarakatnya. Dan sangat menarik sekali jika tiap desa mempunyai perpustakaan atau pojok baca di tempat umum,” pungkas Febri memungkasi diskusi bertajuk Menggugah Semangat Membaca di Pulau Giliraja.

Editor : Abdul Warits

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga