Giliraja, NU Online Sumenep
Seperti pada tahun sebelumnya, momentum Idul Fitri lazim dimanfaatkan oleh berbagai perkumpulan di Giliraja untuk menyelenggarakan ajang silaturahim. Mulai dari pertemuan keluarga, hingga reuni alumni atau ikatan alumni pondok pesantren. Mereka mempererat jalinan persahabatan, persaudaraan serta saling mengenal satu sama lainnya.
Salah satu perkumpulan yang menggelar silaturahmi di Giliraja adalah Ikatan Keluarga Besar Al-Amien (IKBAL) Prenduan Sumenep. Kegiatan ini terpusat di halaman Masjid Baiturrahman Desa Lombang Giliraja, Ahad (16/05/2021).
Dalam acara itu, pihak panitia mendatangkan santri aktif dan alumni lintas angkatan, serta jenjang unit pendidikan yang ada di Al-Amien, mulai dari alumni Tarbiyatul Mu’allimien al-Islamiyah (TMI), Al-Amien Putri 1, Al-Amien Pondok Tegal (Ponteg), Al-Amien Tahfidh, dan Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan.
Saat diminta memberikan sambutan atas nama santri alumni senior Giliraja, Ustadz Fardi mengungkapkan arti penting menjaga hubungan antara santri dan alumni dengan para guru atau dengan pihak pesantren. Ia mengutip perkataan KH. Muhammad Idris Jauhari yang mendefinisikan alumni sebagai seseorang yang pernah mondok meskipun hanya sebentar saja.
Alumni TMI tahun 1990 tersebut menambahkan, bahwa kegiatan tersebut merupakan ajang silaturahim untuk saling mengenal sesama alumni lintas angkatan.
“Siapapun yang pernah singgah dan berniat nyantri di Al-Amien Prenduan, mereka adalah alumni dan diakui sebagai santri Al-Amien. Mereka yang pernah nyantri di Al-Amien, baik yang lulus atau tidak, diharapkan mempunyai keterikatan secara emosional dengan pesantren. Jangan putus komunikasi, minimal mendoakan untuk para masyayikh serta kemaslahatan pesantren,” ujar Fardi, yang saat ini sedang menjabat Kepala MTs. Nurul Huda Banbaru Giliraja.
Pada kesempatan yang sama, K. Subhan Khotib Ketua IKBAL Giliraja mengurai secara singkat tentang esensi dari IKBAL sendiri. Ia juga mewanti-wanti kepada alumni untuk mempertahankan lima sifat yang harus dimiliki setiap santri Al-Amien Prenduan. Yaitu ikhlas, mandiri, ukhuwah islamiyah, sederhana, dan bebas.
“Kenapa organisasi alumni Al-Amien diberi nama Ikatan Keluarga Besar? Karena kita sebagai alumni Al-Amien harus mempunyai ikatan lahiriah dan bathiniah kepada para masyayikh atau dengan pondok,” ulasnya.
Mantan Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Giliraja tersebut pun menyebutkan, bahwa kita harus berpikir tentang apa yang dapat berikan untuk Al-Amien, sebagai tempat menimba ilmu di pesantren.
“Apa yang bisa kita perbuat untuk Al-Amien? Apa kontribusi kita terhadap pesantren yang telah banyak berjasa menempa kita? Pesantren Al-Amien itu besar. Kita harus menjaga nama baik pesantren. Jangan sampai kita hanya memanfaatkan nama besar pesantren,” ucap K. Subhan.
Hadir juga pada kesempatan itu, KH. Suyono Khatthob, Mudir Ma’had TMI Putri. Pria kelahiran Giliraja ini lebih menekankan pada peran santri di berbagai lini kehidupan. Ia berharap kepada santri dan alumni Al-Amien agar membawa misi dakwah izul islam wal muslimin sesuai profesi yang ditekuninya.
“Pendiri Al-Amien itu adalah seorang aktivis dakwah dan ahli tirakat, sedikit makan dan banyak dzikir serta fikir. Alumni hendaknya meneladani beliau, siap terjun ke medan dakwah di mana saja. Silakan berbeda profesi, thoriqot dan beda partai. Tapi misi dakwah izul islam wal muslimin harus ada dalam jiwa kita masing-masing,” ujarnya
Lebih lanjut, ia berharap agar santri dan alumni Al-Amien hendaknya produktif serta inovatif, bermoral dan menebar manfaat bagi masyarakat.
“Jadilah kalian sebagian santri yang mempunyai akhlak mulia (ahsanukum khuluqon), banyak menebar manfaat bagi masyarakat (anfa’ukum linnas). Ingatlah, eksistensi pondok Al-Amien tergantung terhadap alumni. Masyarakat akan tertarik ke pondok kita, jika alumni itu banyak bermanfaat atau berkiprah,” pungkas KH. Suyono.
Editor: Ach. Khalilurrahman

