Kota, NU Online Sumenep
Pengajian Umum rutin bulanan bersama dengan KH Thaifur Ali Wafa kembali dilaksanakan di Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) lantai I Sumenep pada Selasa (08/06/2021). Adapun kitab yang dikaji adalah kitab Firdausun Na’iem (Tafsir) karya beliausendiri dan kitab Nashaihul Ibad (Tasawuf). Pengajian ini dimulai sejak pukul 13.30 WIB.
Pada kesempatan tersebut, kiai yang berasal dari Kecamatan Ambunten Sumenep tersebut menjelaskan dengan detail tentang kalamulllah (Al-Qur’an) dalam sudut pandang pemahaman ulama Ahlussunnah wal Jamaah.
“Al-Qur’an adalah bukan makhluk karena ulama Aswaja, khawatir disamakan dengan kalamnya Allah yang qadim, cuma di maqam ta’lim, bisa dikatakan Al-Qur’an sebagai makhluk karena kenyataannya memang terdiri dari lafadz yang disusun,” papar pengasuh Pondok Pesantren Assadad Ambunten itu saat mengawali pengajiannya.
Beliau juga menyatakan bahwa para ulama pada zaman dahulu mendapatkan ujian yang besar tentang perdebatan Al-Quran sebagai makhluk dan bukan makhluk dengan seorang raja. Akan tetapi, Imam Syafi’i melakukan hilah sehingga menjadi selamat. Tetapi Imam Ahmad mengatakan bahwa Al-Qur’an bukan makhluk.
Kiai yang saat ini menjabat Mustasyar di PCNU Sumenep tersebut menceritakan kisah Imam Syafi’ie saat mengambil barokah dari murid kesayangannya, Imam Ahmad bin Hanbal yang mendoakan Imam Syafi’I selama 40 hari karena beliau sangat cinta kepada Imam Syafi’i.
“Ketika ada orang memberikan kabar gembira (bisyarah) maka sunnah diberikan hadiah, sehingga Imam Ahmad bin Hanbal memberikan bajunya kepada utusan Imam Syafi’i, dan baju tersebut dicelupkan ke dalam air oleh Imam Syafi’i dalam rangka tabarrukan kepada Imam Ahmad Bin Hanbal,” jelasnya.
“Al-Qur’an mengandung mukjizat. Salah satunya meskipun seringkali dibaca justru tidak akan pernah bosan-bosan untuk dibaca,” jelasnya mengungkap pendapat Qadhi bin Iyad.
Editor : Ibnu abbas

