Oleh: Muhtadi
Judul Buku: Fikih Pandemi dalam Islam
Penulis: Zakaria al-Anshari
Penerbit: PT. Rene Turos Pustaka
ISBN: 978-623-7327-47-9
Pandemi bukan hal baru di dunia Islam, sebab beribu-ribu abad tahun yang lalu—sebelum Nabi Muhmmad SAW—pandemi banyak menimpa kaum-kaum nabi yang lain. Hal ini seolah menegaskan bahwa pandemi bukan sesuatu yang baru bagi umat manusia yang notabene menjadi objek dan subjek bagi pandemi itu sendiri. Sehingga tidak perlu risau dan heran bila di masa sekarang pandemi kembali hadir dengan gejala yang berbeda. Momentum kali ini tentu berbeda cara mengatasinya dengan pandemi di masa lampau. Inilah yang harus disikapi dengan bijak oleh oknum yang bersangkutan, sehingga adanya gerakan tersebut tidak menambah risau manusia banyak.
Fenomena inilah yang sedang kita hadapi bersama, pandemi yang enggan berkesudahan. Telah banyak upaya dilakukan instansi nasional untuk menghilangkan pandemi corona virus dairase atau covid-19. Akan tetapi, dari upaya tersebut tidak ada hasil positif yang didapatkan. Seolah-olah pandemi ini menjadi simbol berakhirnya siklus kehidupan manusia, sebab banyak statemen yang menciut bahwa keberlangsungan hidup manusia ditentukan oleh berakhirnya covid-19.
Instansi nasional yang sedang gencar melakukan vaksiansi setelah pembatasan bersekala besar (PSB) tidak memiliki dampak yang signifikan. Vaksinasi inilah yang menjadi harapan umat manusia, karena diduga dampak yang dihasilkan dari vaksin ini memiliki dampak yang positif dan signifikan. Akan tetapi dari beberapa golongan ada yang tidak sejalan mengingat vaksin dibuat oleh umat non-muslim. Ketidaksejalanan ini yang menjadi new problem karena ada yang berpraduga bahwa vaksin bercampur dengan benda-benda haram.
Barangkali atau bisa saja momentum inilah menjadi sesuatu yang pas dengan kehadiran buku ini. Buku yang memiliki solusi bagi setiap kalangan, terelebih umat Islam dalam mengatasi pandemi. Dengan hadirnya buku Fikih Pandemi dalam Islam menjadi sebuah solusi kongkret yang relevan dengan kondisi. Dengan begitu refleksi manusia akan kebenaran dan kenyamanan sosial bisa berlangsung secara humoris dan toleransi. Di ranah ini, buku ini semakin memiliki point yang komprehensif lagi aktual dengan realita yang ada.
Buku yang tidak teramat tebal ini mengajak pembaca untuk menjadi manusia yang tidak buta hati dan mata. Pandemi yang meresahkan tidak harus menjadi berpecahnya setiap individu dengan individu lainnya. Sikap toleransi menjadi sebuah pilihan yang tidak bisa dipungkiri, mengingat sesama manusia—adanya pandemi—saling menjauhi karena dianggap personal lain mengidap covid-19. Hal inilah yang harus disikapi dengan bijak oleh setia manusia saat ini.
Tuhfaf ar-Raghibin fi Bayan Amr ath-Thawa’in yang tak lain judul asli dari buku ini tidak mengajak pembaca untuk menjadi manusia yang ahli di bidang kedokteran melainkan mengajak pembaca untuk menjadi insan yang toleransi dengan tidak saling menuduh (shu’udzan) terhadap individu lain. Karena di dalam buku ini kita akan mengetahui bahwa Umar bin Khattab—sahabat Nabi—membatalkan kunjungannya ke Syam tepat di tengah perjalanan. Pun juga akan mengajari anda bagaimana menjalankan protokol kesehatan menurut Islam.
Sehingga tidak heran bila, Zainunddin Abu Yahya Zakaria bin Muhammad bin Ahmad bin Zakaria al-Anshari, atau Zakaria al-Anshari menulis kitab (buku) ini demi memberikan pemahaman singkat tentang bagaimana Islam menangani taun (musibah) di masa lalu. Meski sejatinya kitab ini adalah ringkasan dari maha karya gurunya¸ al- Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani dari kitab “Badzl al-Ma’un fi Fadhl ath-Tha’un” dengan kejelian yang mendetail membuat buku ini ringan untuk dibaca oleh siapapun karena sudah di filter dari induk kitab wabah.
Ketelitian, Zakaria Al-Anshari, semakin kompatibel dengan meletakkan sumber hadits Nabi dan nash-nash al-Qur’an. Sehingga buku ini sangat layak dihidangkan kepada petugas covid-19 karena selama pandemi merkalah yang sering turun lapangan hingga mengorbankan jiwa demi sesama manusia. Menjaga diri di tengah terjadinya wabah dari hal-hal yang disarankan oleh para tabib. (hal.87). Dari itulah mereka yang gugur di lapangan menjadi bukti nyata bahwa mereka tidak memikirkan nasib mereka sendiri, karena sosialisme mereka sudah terbangun kuat untuk membantu sesama.
Kehadiran buku ini seoah menjadi tanda akan bahwa perkembangan Islam di masa lalu tentu menjadi sebuah pedoman untuk mengikuti arus jalan kehidupan yang kadang tidak tentu arah dan berliku-liku. Disinilah letak kebaikan buku ini hadir, menghadirkan suatu hal lama yang relevan dengan keadaan sekarang. Sehingga sangat layak jika buku yang mudah dan praktis ini menjadi sebuah sandaran bagi insan kedokteran dalam menangani covid-19 yang tentunya akan berakhir jika tetap semangat melakukan yang terbaik buat bangsa dan diri sendiri.
Jember, 2021
Muhtadi, Penulis kelahiran Gedangan, Sukogidri, Ledekombo, Jember. Mengabdikan dirinya untuk ilmu di Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Aktif di Organisasi Ikatan Santri Annuqayah Jawa (Iksaj) dan Komunitas Penulis Kreatif (KPK)-Iksaj.

