Image Slider

Zubaidah binti Ja’far, Permaisuri Raja yang Dermawan

Oleh: Firdausi

Di belakang pria hebat, pasti ada sosok wanita kuat. Begitulah peran Zubaidah binti Ja’far, istri Khalifah kelima Dinasti Abbasiyah, yakni Harun Al-Rasyid. Wanita yang menjadi kesayangan rakyatnya adalah seorang wanita kaya yang memiliki kedudukan mulia. Karena beliau selalu memerhatikan kebutuhan rakyatnya. Permaisuri Harun Al-Rasyid merupakan lambang kewanitaan pada masa Keemasan Dinasti Abbasiyah.

Ia menikah dengan Harun Al-Rasyid pada zaman pemerintahan Al-Mahdi pada tahun 165 H. Panggilan Zubaidah diberikan sang kakek, karena kulitnya putih bersih dan sikapnya yang lembut. Kegigihan dan kejeniusannya memancarkan kharisma tersendiri di antara para wanita Arab. Tak heran beliau dihormati dan disegani. Karena ia piawai menggubah syair dan gurindam. Tak jarang ia berdebat dengan para lekaki dalam bidang ekonomi dan kesenian. Bahkan, saking cintanya pada suaminya, ia tak hanya mendampingi saat kegiatan kerajaan, acap kali sang suami meminta pendapat istrinya.

Selain berwajah cantik, kelebihannya tampak pada wawasannya yang bijak. Sehingga Zubaidah dikenal sosok wanita negarawati yang ulung. Ia mempunyai pengaruh besar di bidang ekonomi dan ilmu pengetahuan di kalangan komunitas Arab. Bahkan ia melantik puteranya Al-Amin untuk meneruskan tongkat estafet kerajaan setelah Harun Al-Rasyid wafat.

Saat mendampingi suaminya, ia dikenal boros di bidang pembangunan dan pengembangan tata letak kota. Zubaidah mengadakan renovasi jalan di Baghdad sampai ke Makkah untuk mempermudah jamaah haji. Di sepanjang jalan itu, dibangun penginapan, pemandian, dan perusahaan industrial. Di samping itu, ia juga membangun masjid yang saat ini diberi nama masjid Zubaidah Ummi Ja’far.

Kedermawanannya juga dibuktikan saat melakukan proyek air minum di Makkah. Karena saat ia menunaukan rukun Islam kelima, tahun 186 H, Zubaidah melihat banyak penduduk mengalami kesulitan air minum. Seluruh arsitek dari seluruh negeri dipanggil untuk menyelesaikan proyek ini walaupun menelan biaya besar. Pada masa itu, proyek tersebut memakan biaya sebanyak 1.700.000 dinar. Jumlah yang besar kalau dikurskan ke rupiah pada masa itu.

Sumber air yang diambil dari mata air pegunungan, terutama berasal dari gunung Hunain yang kemudian disalurkan lewat pipa yang menembus Makkah. Air tersebut bisa diminum oleh jamaah haji yang sedang kehausan.

Selain itu, bakat seni yang dimilikinya ia tuangkan dalam untaian puisi yang dikuatkan dalam pegelaran kesenian. Tak jarang Zubaidah mengirimkan surat kepada Sultan dalam bait-bait indah. Dukungannya sangat besar untuk mencari kader atau regenerasi di bidang seni dan keilmuan. Hingga akhirnya ia menawarkan hadiah besar bagi sastrawan dan ilmuwan yang ingin mengembangkan karyanya di Kota Baghdad. Muncul anggapan bahwa kisah 1001 Malam terinspirasi dari kehidupan Sultan Harun dan Zubaidah.

Perdebatan antara Sultan dan Permaisuri

Tampuk pemerintahan yang diamanahi pada suami, menjadi perhatian Zubaidah. Terkadang Sultan meminta pertimbangan pada permaisuri dalam mengambil keputusan. Alasannya, karena keputusan selalu tepat.

Pada suatu hari, terjadi perdebatan antara Harun Al-Rasyid dengan Zubaidah. Yang diperdebatkan adalah siapa yang akan menggantikan posisi raja setelah wafat. Zubaidah bersikeras mencalonkan Al-Amin sebagai penggantinya. Apalagi secara usia, Al-Amin lebih tua daripada Al-Ma’mun. Sedangkan Sultan mencalonkan Al-Ma’mun putera dari seorang ibu dayang yang bernama Marajil. Namun ibunya wafat saat masih dalam keadaan nifas setelah melahirkan Al-Ma’mun.

Pada perdebatan itu, kedua anak tersebut diuji dalam tata cara beretika. Zubaidah mengagumi keunggulan Al-Ma’mun. Namun saat sang suami wafat, ia melantik Al-Amin dengan maksud ingin mengetahui kemampuan anaknya dalam menjalankan pemerintahan. Saat terdengar kabar terbunuhnya Al-Amin, Zubaidah mengakui kesalahannya, karena salah melantik pemimpin. Sehingga ia mengangkat Al-Ma’mun sebagai penerusnya.

Al-Ma’mun merupakan orang kedua yang berkuasa di keturunan Harun Al-Rasyid. Setelah wafat, keturunanya tidak bisa meneruskannya, kekuasaan diteruskan oleh Al-Mu’tasim atau keponakannya. Kini nama Zubaidah binti Ja’far harum dalam sejarah Islam. Ia meninggal di Baghdad pada tahun 216 H.

*) Pembina TVNU Sumenep 

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga