Cerpen oleh: Homaedi *
Sudah lama La’sap menaruh niatan bersama teman ngajinya bermalam di surau itu—tempat pertama ia mengenal huruf-huruf Tuhan, juga amalan-amalan lainnya dari balik kitab yang tampak kusut kekuning-kuningan.
Kitab yang menuntunnya ke jalan lain, jalan yang tak semua orang memahaminya. Jalan yang menurutnya melebihi batas kebenaran dari apa yang ia temukan setiap saat.
Penuh telaten ia telisik makna di dalam kitab, yang tersirat di setiap rentetan kalimatnya, selalu La’sap lakukan setiap menjelang petang. Sebelum wajah hari benar-benar tenggelam berubah kelam. Di surau itu, yang letaknya tak banyak menghabiskan langkah untuk sampai ke sana.
Corak surau yang mengkuno, juga beberapa gerabah yang menggantung di rusuk atap, tak meredupkan bara semangatnya mendalami bacaan-bacaan syarat makna—sebagai bekal meniti tangga hidupnya kelak.
Yang paling membuat La’sap betah berada di sana, ketika ia menatap sabuah relief yang menggatung di pojok dinding berlawanan kiblat. Kedua matanya akan terpaku terhadap benda tersebut, arahnya tak beranjak, seperti menemukan hal ihwal berdirinya surau yang sudah berabad-abad.
Surau yang bersih dan terawat membuat La’sap begitu nyaman menikmati jengkal per-jengkal irisan kayu membentuk kriya buatan Ki Moksa.
Ya, demikian orang-orang menyebut namanya, meski tidak setenar pemeran bintang film dan para penguasa yang selalu mengundang kemunafikan, Ki Moksa begitu dikagumi dan dihormati di tempat La’sap. Banyak warga kampung yang mau belajar padanya; Dari melantunkan seruan mengajak orang-orang untuk salat tiap waktu, hingga di ercaya menjadi muazin saat ada kematian.
Meski umur dan penglihatannya tak lagi muda, Ki Moksa tetap fasih melantunkan ayat-ayat Tuhan dengan lantang. Penuh penghayatan. Bermacam vokal. Suaranya jauh dari serak membuat La’sap dan ketiga temannya berhasrat menemui ia pada suatu malam. Belajar.
***
Nyala perak menyepuh, gelombang udara menghantam daun-daun, mengalir remang pada rerimbun bambu yang terus berderak. Suara beburung hantu sesekali terdengar di pepohonan. Pekat merambat, menghampiri La’sap yang menjatuhkan ingatannya pada perjanjian dengan tiga temannya itu.
Beberapa rerembukan telah mereka rampungkan kemarin saat bulat matahari menusuk ubun-ubun La’sap. Di kotakan sawah, seusai saling kait-mengaitkan tali layangan hingga tangannya memerah; Terkena sayatan saat menarik ulur talinya agar tidak putus.
Mereka sudah mengiakan, saling sepakat bermalam di surau. Hanya, kendala terberat saat La’sap minta restu pada Ibunya. Entalah? Seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Yang membuat La’sap jengkel saat Ibunya tak mengijinkan ia bermalam di tempat itu.
Seperti bulan lalu, setelah rerembukan mereka rampungkan, temannya pun mendatangi kediaman La’sap, mengajak ia bermalam di surau. Namun, patahlah niat ke tiga anak itu saat menghadapi Ibu La’sap. Padahal, di perjalanan mereka sudah menyiapkan beberapa strategi untuk melunakkan hatinya yang membatu.
Dengan nada lirih, seperti desir angin yang mengelus dan menusuk relung ketiga anak itu, mereka luluh begitu saja. Tak bisa berbuat apa-apa. Memasrah. Lalu buru-buru meninggalkan tempat itu dengan wajah tertekuk karena tumpahan kekecewaan.
Mereka tak paham, dan tak akan pernah paham sikap Ibu La’sap yang demikian, begitupun La’sap hanya bisa pasrah terhadap keputusan-keputusan yang seringkali tak sejalan dengannya. Sebagai anak yang ingin menuruti semua yang diinginkan Ibunya, La’sap memilih tak mengeluarkan urat leher meski sekonyong-konyong ia sangat geram dengan alasan-alasan yang menurutnya penuh ketimpangan.
La’sap membuka tirai jendela, melihat teman-temannya bercengkrama di bawah buram bulan yang tak menunjukkan warna sempurnanya. Ia mendengar sayup langkah, gemerisiknya makin menjauh.
Udara yang ringan diam-diam melelehkan butiran bening dari pelupuk La’sap. Menuruni pipi lesungnya yang terdapat titik-titik jerawat. Saat itulah ia akan mengurung diri dalam kamar. Meratapi takdir karena tak memiliki Ibu seperti ketiga temannya itu, yang sewaktu-waktu menuruti apa yang diinginkan anaknya.
Yang ia tahu, ibunya akan menjawab; “Surau itu tempat suci, tempat ibadah. Bukan tempat untuk tidur, apalagi berkumpul-kumpul. Ingat, kamu punya kebiasaan buruk saat terlelap.” Begitulah alasan-alasan yang sering ia dapati saat bertanya kepada Ibunya.
La’sap tak menjawab, namun, di hatinya masih terganjal keganjilan. “Apakah karena tempat itu suci, tempat ibadah, Ibu melarangku bermalam di sana?, Kau tahu ibu, di sana aku merasa kenyamanan yang amat sangat. Rasa nyaman yang tak semua orang mendapatinya, begitupun ketiga temanku.” Tapi ungkapan-ungkapan itu hanya menggeliat dalam benaknya saja. Mulutnya masih terkunci. Tak benarani menumpahkan.
***
Pintu kamar La’sap tertutup rapat. Tak ada udara menelusup ke dalamnya. Ia mengurung diri. Menelusuri kebiasaan buruk apa yang ditujukan padanya. Yang membuat Ibunya kukuh melarang ia bermalam di surau. “Apa karena aku sering ngigau saat terlelap?.” Ia merenung. Berpangku di pojok kamar. Arah matanya menjauh. “Tidak tidak, itu alasan paling dangkal buat orang seumuranku. Atau karena keseringan bermimpi?, Aku rasa,,,juga tidak. Bukankah setiap manusia pasti mengalami hal yang sama denganku, bermimpi saat terlelap?. Atau karena aku sering………..Ah, tidak,, itu hanya persaanku saja yang terlalu mendramatisir kebiasaan yang lalu-lalu. Bukankah sudah kuenyahkan kebisaan itu jauh-jauh.”
La’sap masih termangu, pikirannya berakar ke mana-mana. Butiran bening yang terus-menerus berkejaran perlahan berhenti begitu saja. Pintu sudah ia buka. Ada derit yang terdengar saat menutup dan membukanya.
Dengan perasaan yang entah, ibunya menghampiri La’sap dalam kamar. Memeluknya lekat-lekat. La’sap menyungging tipis meski butiran bening itu tidak benar-benar kering. Tak ada suara yang keluar dari keduanya, hanya tatapan saling jumpa pada titik yang sama.
Wajah La’sap membinar, tangannya menyeka sisa bening itu di pipinya. Jelas terlihat kelegaan mendalam setelah Ibunya mengiyakan apa yang ia inginkan. Bermalam di surau.
Derit bambu makin jelas terdengar, tumpang tindih bersahutan. Udara menelesip seketika. Membuai kelambu. Lalu senyap beberapa saat. Hilang tak membekas.
La’sap mulai mengatupkan mata, sedang Ibunya masih mengelus rambutnya yang lebat dan keriting. Terus-menerus ia lakukan, hingga La’sap benar-benar terpejam. Lelap.
“Kau tampak lebih dewasa anakku.” Ibunya terus-menerus membelai La’sap. Menatapnya tanpa kedip. Menampakkan kecintaan amat sempurna. Sunyi senyap menghampiri. Hanya sesekali cicit burung terdengar bersahutan di bawah paruh bulan.
***
Setelah kejadian itu, La’sap kembali merampungkan rerembukan bersama ketiga temannya. Ia meyakinkan mereka kalau dirinya sudah diperbolehkan bermalam di surau. Dan esok, sebelum bulat cahaya menyerbukkan sinarnya dari timur, ia sudah harus meninggalkan tempat itu.
“Ibu, sehabis pengajian aku tidak pulang malam ini.” La’sap meminta izin. Kepalanya menghadap ke bawah. Tampak gugup dalam berucap. Tak berani menatap Ibunya yang berhadap-hadap. Ibunya menghela napas. Menyungging tipis, lalu menelan ludahnya dalam-dalam. Ingin melarang, namun urung dilakukan.
“Aku bersama Munif, Gofur, dan Imron. Mereka sudah menungguku di pertigaan jalan seberang. Sesudah azan, aku akan pulang dan bangunkan Ibu sholat subuh.”
Ibunya mengangguk ragu mendengar ucapan itu, kembali tersenyum melihat keberanian anaknya. Ia tak dapat mencegah meski terasa berat mengijinkan berangkat menuju surau. Meninggalkannya sendirian di rumah.
Malam tampak asing. Ibunya menatap kamar La’sap yang kosong. Ia tak menyamankan diam. Tampak gelisah. Mondar mandir di ruang tengah.Tak biasa ia demikian. Menyendiri dalam sepi. Entah apa yang ia pikirkan?. Sesekali mengarahkan pandangnya ke ujung jalan.
Bulan celurit condong ke barat. Ia masih membinarkan penglihatannya meski sesekali kedua matanya mengatup dengan sendirinya. Lalu menatap jam yang masih menjangkau separuh jalan malam.
Ia rebahkan tubuhnya dalam kamar. Segumpal doa ia tasbihkan agar La’sap nyenyak di sana. Bersama ketiga temannya, mungkin juga dengan Ki Moksa.
Matanya mengatup rapat-rapat. Benar-benar terlelap. Tampak pulas, antara sadar dan tidak, tiba-tiba ia mendengar suara-suara, seperti bisik-bisik, namun jelas di telinganya. Entah?. Suara manusiakah atau mahluk lainnya. Sayup-sayup rasanya, makin dekat, tambah dekat, lalu hilang beberapa saat.
Ia tergeragap. Membinarkan pandangnya ke segala arah. Antara tidur dan jaga, suara itu makin jelas. Makin keras memanggilnya. Seperti bercakap-cakap. Yang sebentar menggema dan sebentar lenyap. Mimpikah?.
Aneh. Perlahan ia bangkit dari tidur, menggerak-gerakkan tubuhnya yang sepuh. Tidak, ia tidak sedang bermimpi. Ia mencoba tenang. Diam. Lalu melangkah ragu-ragu. Mencari datangnya suara itu.
Dan betapa kagetnya ia melihat Munif, Gofur, dan Imron sudah berdiri di depan pintu. Lebih mengagetkannya lagi, saat mereka menjelaskan kejadian semalam. Tepatnya kejadian yang menimpa La’sap, buah hatinya.
Ia tercengang. Lalu bergegas meninggalkan mereka. Menjinjing sarungnya yang warna kafan. Entah apa yang ingin ia lakukan?,Setelah mendengar anaknya demikian; Ngompol tengah malam. Di dalam surau.
*Penulis kelahiran Ambunten, saat ini tengah menyiapkan buku kumpulan cerpennya yang akan terbit.
Editor & Ilustrator Gambar: A. Warits Rovi

