Image Slider

Perempuan Tahfidz dan Lelaki Penyair

Cerpen: Lisyanto

Lelaki itu memegang sebatang pena di tangannya dengan erat sembari melepas satu kertas yang warnanya sudah usang, penuh dengan serpihan debu. Beberapa anak kata-kata mulai keluar dari rahim pena yang sedari tadi dipegangnya. Dengan sepucuk lilin yang setengah tubuhnya habis terpanggang, menyala-nyala sebagai purnama yang menyapu tubuh bumi ketika malam bertandang. Suara gesekan daun yang tertiup angin mengubah suasana menjadi lebih hidup, terkadang bunyi kucing terdengar merintih dari kejauhan. Akan tetapi ia tetap diam dengan sorotan mata yang sedang menggali imajinasinya, sebagai bentuk awal dari perempuan yang diam-diam ia cintai. Perempuan yang saat ini juga mencari cinta sejatinya, yaitu dengan menghafal Al-Qur’an. Perempuan itu adalah Najah Hatin Hidayah Putri. Perempuan yang wajahnya bercahaya, seperti purnama yang memancar. Perempuan yang memiliki suara merdu, dengan kata-katanya yang tak pernah kotor dan dusta. Perempuan yang juga sebagai penasihat bagi lelaki puisi itu. Dan perempuan itu adalah sumber dari puisinya.

Separuh tubuh lilin yang mulai tadi menyala rupanya sudah habis meleleh menyatu dengan bumi. Terlihat lelaki itu gelisah, mendapati suasana yang gelap. Lalu ia pergi meninggalkan batang pohon mangga yang setiap malam dijadikan sebagai menulis puisi, dan kebetulan jaraknya begitu dekat dengan kamar pondoknya.

“Kak, kayaknya dari tadi sampeyan kelihatannya bengong. Apa ada masalah?.” Tanya Rizal. Teman kamarnya, sebelum keduanya pulas memejamkan mata. Jam menunjukkan pukul 12:35 Wib.

“Sebenarnya hal ini terlalu berlebihan jika dikatakan masalah bagiku, Dik Rizal. Kamu tahu kan? Aku sekarang lagi bergelut dalam dunia literasi, utamanya puisi. Bagiku ia adalah jalan hidup menempuh rintangan yang selama ini datang bertubi-tubi. Kamu tahu sendiri kita ini adalah santri. Yang kesehariannya harus mandiri. Tanpa kehadiran orang tua kita, mampukah kita menjalani rintangan itu?, kecuali cara yang sedang aku lakukan saat ini. Menulis keadaan hati yang terkadang merintih seperti suara kucing yang kita dengar bersama, setiap malam. Menjadi puisi. Nanti setelah kita sudah berhenti, berkeluarga, dan diberikan keturunan oleh Sang Maha Pengasih dan Maha Pemberi setidaknya mereka bisa membaca perjuangan kita selama di pondok.” Nasehat sederhana Riski secara tidak sengaja meluncur begitu saja,

“Dan ada juga hal yang sedang terngian di benakku saat ini, Dik Rizal. Aku rasa sahabatmu ini sedang jatuh cinta pada perempuan komplek sebelah. Ia adalah perempuan yang sering muncul dalam puisi ku. Dan aku sendiri kemarin sore di kelas mendapat informasi dari temen kuliahku katanya ia juga sedang berjuang menghafal Al-Qur’an,” lanjutnya, mengakhiri diskusi hangat yang hanya ia yang tahu. Selanjutnya ia juga terdampar di alam lain, yaitu mimpi.

###

Embun baru saja terlepas dari ujung daun. Di jalan-jalan masih begitu sepi, hanya terdengar ceracau burung lantang mengitari angkasa. Meloncat dari satu dahan ke dahan yang lain dengan saling mengejar belalang dan ulat yang akan menjadi santapannya. Matahari masih terlihat kekuningan, hangatnya begitu menyegarkan. Meski beberapakali tertelan gulungan awan yang berlarian dari arah timur.

Seorang gadis dengan mushaf Al-Qur’an yang dipeluk di dadanya sedang berjalan santai menuju surau dekat pondoknya. Mukena berwarna putih bersih tetap membalut tubuhnya yang putih, ia terlihat hanya sendirian. Sembari membuka kitab suci yang dipeganginya lembar demi lembar. Mengawali perjalanan di pagi yang dingin. Ayat demi ayat mulai dibaca dengan pelan-pelan dan penuh makna. Suaranya bisa menggetarkan hati seseorang yang mendengarkannya.

“Ustadzah Hatin ?”suara perempuan memanggilnya dari belakang.

“Iya, Dik Zahro. Ada apa?” Hatin menutup Al-Qur’annya dengan wajah yang begitu tenang, lebih tenang dari telaga.

“Saya ingin menyetor hafalan Al-Qur’an, dari Juz 2 surah Al-Baqarah Ustadzah.”

“Baiklah, silahkan, Dik. Pelan-pelan saja yah. Supaya hatimu lebih tenang, dan hafalanmu tidak gampang hilang begitu saja.”

Pagi itu, suasananya begitu tenang. Sepasang perempuan saling melantunkan ayat-ayat suci dengan suara yang begitu merdu. Hingga bola matahari cahayanya semakin merayapi tubuh bumi. Begitu menyengat tubuh.

Sepanjang jalan setapak dipenuhi santriwati yang baru datang dari sekolah formal. Berjejer ke sana-sini seperti segerombolan tawon yang kehilangan ratunya. Riuh seperti gulungan gelombang yang besar menghantam karang di tepi laut. Apalagi seragam yang dipakai semua sama. Jubah panjang yang berwarna merah jambu sempurna memberi nuansa indah pada semua pasang mata yang menatapnya. Jadi tidak heran, jika menemukan santri putra berdiri di depan kantor pesantren dengan satu kaki dan di tangannya Mushaf Al-Qur`an berukuran jumbo sedang dibacanya. Itu adalah penyebab pelanggaran bagi yang sudah berani menunggu santriwati lewat sepulang sekolah.

“Menurutmu aneh gak, Dik?”

“Maksud ustazah aneh yang bagaimana?” Zahroh merasa penasaran dengan pertanyaan ustazahnya itu.

“Begini, minggu yang lalu saya secara tidak sengaja bertemu dengan santri putra kompleks sebelah. Kelihatannya dia adalah pengurus. Terlihat dari tingkah dan tutur katanya yang wibawa. Dan waktu itu saya pergi ke toko buku dekat kompleks putra untuk membeli kitab Fathul Izzar karena mendapat perintah dari Bu Nyai untuk mengajari kepada santriwati kelas 3 yang hendak berhenti mondok.” Terangnya.

“Nah, apanya yang aneh ustadzah,” dengan polosnya Zahro kembali bertanya.
“ Malu saya, Dik!” kedua pipinya merah merona

“Gak papa Ustadzah, barangkali setelah berbagi cerita keresahan ustazah bisa sedikit mereda.”

“Baiklah, Dik. Ceritanya lanjutkan nanti ya. Sekarang saya minta bantu kepadamu. Saya ingin mengulang kembali ayat-ayat yang sudah saya hafalkan dari kemaren. Tolong ditegur ya, Dik jika salah.”

Perlahan bola matahari merayapi cakrawala. Tempurung kepala berdenyut-denyut kepanasan. Angin semakin membawa hawa hangat pada celah-celah ruang yang disinggahi para santri. Derap kaki waktu semakin jauh melangkah. Sebentar lagi panggilan Adzan Ashar akan dikumandangkan, dan spontan para santri akan berlarian merebut tempat untuk berwudlu’. Lalu berhamburan di sepanjang jalan menuju musholla, memakai baju putih. Persis seperti kapas yang berterbangan di udara.

Setelah shalat berjamaah, Hatin mempunyai tanggung jawab untuk mengajari para santriwati baru mengaji Al-Qur`an sebelum mereka genap satu tahun bermukim. Dan setelah itu mereka akan sama persis seperti santriwati-santriwati yang lain yaitu menghafalkan ayat-ayat suci Tuhan. Dimulai dari surah Al-Baqarah ayat 1 sampai 10 sebagai awal pelatihan baru mereka menghafalkan. Ia tidak pernah mengeluh atau bahkan marah menuntun mereka yang sudah menjadi anak didiknya.

Baginya cobaan yang selama ini bertubi-tubi datang adalah bentuk rasa cinta Tuhan kepadanya. Maka dari itu ia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk tetap mengingat Tuhan. Pernah suatu waktu ia jatuh sakit karena semalaman tidak tidur demi mendoakan anak didiknya supaya cepat hafal dan tetap kerasan, dan paginya ia tetap bersemangat menuntun mereka yang ingin menyetor beberapa ayat yang sudah dihafalkan. Dan setelah itu penyakitnya semakin parah, tanpa sadar ia pingsan di dalam kamarnya, buru-buru petugas kesehatan membawanya ke rumah sakit untuk segera diobati.

###

“Beberapa hari yang lalu aku bertemu santriwati, Dik. Ia sepertinya sedang membeli salah satu kitab yang jarang digunakan kita , yaitu Fathul Izzar. Kebetulan saya juga ada kepentingan untuk membeli salah satu buku antologi puisi Ceracau Si Gila karya Muhammad Ali Faqih, ke toko buku yang sama. Lalu ia terlihat malu saat secara tidak sengaja aku melirik kitab yang dipegangnya. Buru-buru perempuan itu langsung menenggelamkan tubuhnya ke balik gedung, lalu hilang dari pandangan. Sungguh aku dibuat terpanah, lupa untuk meluncurkan sepatah kata-kata.” Rizal mulai menatap heran, tidak begitu percaya atas apa yang sudah diungkapkan teman sakaligus gurunya itu.

“Halah,! kakak mungkin jatuh cinta.”Ucapnya dengan nada mengejek.

Angin berdesir pelan, memeluk tubuh yang penuh kerinduan. Bintang berzikir di kedipannya, bulan menyala sempurna bertandang di atas cakrawala. Sebatang lilin mulai menyala. Secarik kertas terlepas dari kawanannya, dan di ujung tangan lelaki itu adalah pena yang sudah siap berjuang menempuh nama baru. Nama yang sering menjadi jalan untuk puisinya.

“Begitu sulit untuk melupakan wajahnya, Dik,” Rizki kembali angkat bicara, memecah keheningan di antara mereka berdua.

“Gila kau, Kak, sudah berapa puisi yang kau buat untuknya?”

“Tiada puisi dariku untuknya. Karena sampai sekarang gejolak cinta ini ternyata juga melumpuhkan akar dari imajinasiku. Akan tetapi setiap jejak senyumnya menapaki mataku, maka di situlah sebenarnya puisiku terbentuk, Dik.” Sampai saat ini lelaki itu ternyata benar-benar sering memikirkan perempuan yang belum tentu bersanding di buku takdirnya’

“Setiap malam kita selalu berteduh di bawah pohon ini, Kak, memahat kata-kata dalam lembar buku. Engkau juga telaten mendidikku mengajari menulis puisi. Meski terkadang aku sadar, Kak, puisimu yang terlahir adalah janin luka yang kau simpan rapat di ceruk dadamu. Kenapa kau tak pernah bercerita padaku, Kak. Kenapa?.” dengan sorotan matanya yang tajam dan menyala adik kelasnya bertanya.

“Karena aku tidak mau semua orang ikut sedih ketika mengetahui apa yang sedang menimpaku, Dik, cukup hanya aku yang merasa terpanah duka.”

Puisinya kembali tumpah dari ujung sanubarinya. Nama Hatin adalah penawar dari kerontang tinta yang sedang ia tulis malam itu. Apa yang sedang kau lakukan di sana?, samakah sepertiku yang tak pernah gugur mengeja namamu.

”Kau tidur duluan, Dik, karena puisiku masih tumbang.”

Separuh tubuh purnama tenggelam di laut awan, sunyi semakin mencekam, riuh suara santri sudah lenyap digiling waktu. Sepasang mata lelaki itu sudah terpejam.

###

“Sepertinya tadi malam tidurku terganggu, Dik. Bermimpi lelaki yang kemarin bertemu di toko buku. Dan kenapa wajahnya tetap melekat di pelupuk mataku? Ada apa ini. Tidak biasanya aku memikirkan lelaki yang bukan mahram. Apalagi aku tidak tahu asa-usulnya dari mana. Bertemunya saja karena tidak sengaja.” Hatin bercerita panjang lebar tentang mimpinya, dan Zahro sendiri menduga mungkin lelaki yang di mimpinya itu adalah Rizki, puisinya yang sering masuk koran dan media lainnya, ternyata nama lelaki itu tidak asing diperbincangkan. Utamanya Zahro yang juga menyukai dunia literasi.

Ceracau burung memancing pagi untuk segera menyingsing. Aroma bunga mawar menyeruak. Hatin dan Zahro berangkat ke kampusnya melewati lorong-lorong kecil yang kebetulan juga jalan tikus para santri putra. Karena mereka berdua ingin membeli buku untuk bahan tugas referensi mata kuliahnya. Sepanjang perjalan mereka berdua hanya berjalan seperti biasa, terkadang bercerita renyah untuk memperlambat langkah kakinya.

“Kamu?” Hatin dan Zahroh tercengang tidak percaya apa yang tampak di depan matanya. Seperti sambaran petir di musim hujan, seperti bola api yang melalap jerami. Hari ini seperti takdir yang tak pernah direncanakan bagi mereka yang diam-diam sama merindu.

Beberapa menit berlalu begitu saja, tetapi kedua perempuan muda itu tetap tidak menjawab lemparan suara yang keluar dari mulut Rizki. Kebetulan kedua lelaki itu juga ingin membeli buku untuk bahan bacaan di pondoknya, sebelum pergi ke kampus.

Begitu cepat tangan Hatin merangkul tubuh Zahro pergi jauh-jauh dari tempat itu. Tiada sepatah kata yang terlempar dari kedua perempuan yang pipinya sama-sama bersemu merah jambu. Jantung Hatin berpacu melebihi langkahnya, buru-buru wanita itu mengucapkan kalimat istighfar. Sekarang yang ada pada benak Hatin hanyalah ingin cepat pulang. Mengambil Mushaf Al-Qur`an lalu membacanya, menghafalkan beberapa ayat yang masih belum selesai melekat di sanubarinya.

”Pantaskah kau melekat di dasar dadaku, seperti ayat-ayat tuhan ini? Sementara kau belum mengucapakan ikrar di depan aba-ku.” Gumam Hatin

Beda dengan Rizki. Lelaki itu sempat menggores lembaran bukunya beberapa kata yang menjadi puisi. Puisi yang baru terlahir dari hasil pertemuan yang tanpa terduga. Berharap jauh-jauh hari ke depan rindunya menemukan penawar. Seperti ayat-ayat Tuhan yang menjadikan segala masalah bisa mereda. Dan impian mengucapkan ikrar atas tali yang ingin selalu didekapnya, yaitu tali pernikahan.

Annuqayah, Juni 2021.


*) Lisyanto, adalah nama asli dari Gemilang.L. Pernah belajar di MI Mathalibul Ulum (Batuputih daya), Mts. Al-Munawwarah (Batuputih Kenek), MA 1 Annuqayah (MASA), dan sedang kuliah di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika). Aktif di Liur Pena Sastra (Iksbat), LPM Fajar (Instika), PMII Guluk-guluk, dan mengabdi di KP2 (Lubangsa).

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga