Image Slider

Cinta karena Sang Maha: Cinta itu Apa Adanya, Bukan karena Ada Apanya

Oleh: Aldi Hidayat

Tulisan ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari esai penulis jauh-jauh hari sebelumnya yang bertajuk, “Pacaran: Cerminan Kontaminasi Pola Pikir Muda-Mudi Islam” dan cerpen penulis yang berjudul, “Perempuan Tidak Paham Cinta”. Tulisan pertama sempat menyinggung perbedaan cinta, suka, nafsu dan hawa nafsu. Tulisan kedua mengisahkan tentang cinta sejati. Tulisan sekarang ini mengkaji ulang semua itu dengan beberapa perubahan dan penambahan gagasan.
Tentu beredar di sekitar kita ungkapan “Cinta karena Allah”. Bagaimana bentuk konkretnya dalam kehidupan? Tulisan ini akan membidiknya sebagai bahan kajian. Sebelum melangkah ke sana, penulis hendak menyodorkan perbedaan aneka rasa tertarik. Pertama, suka yaitu tertarik, karena suatu alasan. Tertarik macam ini dapat terancam kurang setia, sebab masih dilatabelakangi alasan. Jika kenyataan yang menjadi alasan kemudian berkurang, maka suka berpotensi ikut berkurang.

Kendati demikian, tentu ada suka yang bisa bertahan seiring perputaran roda zaman. Kedua, nafsu yaitu tertarik, karena ingin menikmati. Nafsu dan suka sejatinya sama-sama mencuat, lantaran suatu alasan. Bedanya, nafsu lebih menjurus pada hasrat menikmati, bukan menyayangi dan mengasihi. Ketiga, cinta. Apa itu cinta? Paragraf berikut ini akan mengupasnya lebih lanjut.

Cinta itu urusan hati. Hati adalah rasa. Rasa pada titik tertentu terpisah dari bahasa. Karena itu, bahasa cinta biasanya bahasa kiasan. Hal ini karena rasa berada di luar teritorial bahasa. Gampangnya, citarasa makanan saja susah, bahkan mustahil kita utarakan, apalagi bahasa perasaan. Oleh karena cinta berada di luar medan bahasa, maka cinta yang sejati sebenarnya muncul tanpa alasan. Dalam satu tarikan nafas dengan hal ini, Sujiwo Tejo, budayawan Indonesia terkini, berujar, “Jika kau masih bisa menjawab pertanyaan mengapa kau mencintainya, berarti itu bukan cinta, tapi kalkulasi. Cinta tidak butuh karena dan karena”. Lebih tegasnya, cinta sejati itu apa adanya, bukan karena ada apanya.

Lebih lanjut, salah satu tanda cinta ialah ketika berpapasan. Bilamana Anda bertemu seseorang yang memikat, lalu Anda merasa ingin menikmati, maka itu adalah suka atau bahkan nafsu berahi. Sebaliknya, jika Anda merasa rindu, sayang dan kasih, maka itu adalah cinta. Nafsu bertujuan menikmati, sedangkan cinta bertujuan menyayangi dan mengasihi.
Bagaimana menyayangi ala cinta? Di sini kita mengacu kepada hadits Nabi SAW:
تنكح المرأة لأربع: لجمالها، ولمالها، ولنسبها، ولدينها
Artinya: Perempuan dinikahi karena empat sebab; karena kecantikannya atau karena hartanya atau karena leluhurnya atau karena agamanya.

Kebanyakan orang memahami empat hal tadi sebagai alasan dalam menikah. Jika dibuat premis ala Manthiq, maka pemahaman tersebut berbunyi, “Menikah itu berdasarkan cinta. Cinta itu karena cantik atau harta atau leluhur atau agama.” Pemahaman ini menegaskan bahwa cinta mesti beralasan. Masalahnya sekarang, bagaimana jika kenyataan yang menjadi alasan tersebut berkurang? Jika si pasangan itu shaleh, bagaimana cinta Anda, bilamana keshalehannya berkurang atau ada orang lain yang lebih shaleh darinya? Mungkin ini ditanggapi, “Cinta itu harus setia”. Jika demikian, berarti setia tersebut dipaksakan. Kalau dipaksakan, maka itu bukan cinta. Cinta itu tanpa paksaan dan tekanan.

Karena itu, hadits ini bagi penulis bukanlah bahwa Nabi SAW mengajarkan kita cinta yang beralasan. La>m jar pada hadits tadi bermakna ta’li>l, bukan sababiyyah. Ta’li>l berasal dari kata ‘illah yang berarti tujuan (Periksa karya penulis, Kasyf al-Ma’a>ni> al-Khafiyyah fi> ‘Ilm al-Furu>q al-Lughawiyyah, hlm. 46-47). Jika diterjemahkan, maka ia bermakna “demi” bukan “karena”. Jadi tujuan cinta ialah menjaga dan meningkatkan keindahan pasangan, agar tidak ternodai perzinaan, memberi jaminan harta, sebab nafkahnya ditanggung suami, memberinya keturunan, karena nikah memang bertujuan melestarikan keturunan dan menjaga agama, karena nikah akan menyempurnakan separuh agama. Demikian pandangan penulis mengenai cinta karena Ilahi atau cinta sejati. Wallahu A’lam.

*) Alumnus PP Annuqayah Lubangsa Guluk-Guluk Sumenep

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga