Oleh: Mamluatul Hikmah
Judul Buku : Menjalin Ikatan Cinta Allah
Penulis : Aisyah Al-Bau’niyah
Penerbit : Turos Pustaka
Cetakan : April, 2021
Tebal : 208 halaman
ISBN : 978-623-7327-52-3
“Ku hapus namaku dan jejak tubuhku
Aku menghilang dariku selagi ada-Mu
Dalam fanaku telah fana kefanaanku
Dalam fanaku aku menemukan kamu”
Begitu kira-kira puisi yang dinukil oleh Aisyah Al-Ba’uniyah untuk dapat menggambarkan cinta Ilahi yang sebenarnya. Buku yang diterbitkan pertama kali dalam terjemahan bahasa Indonesia oleh Turos Pustaka ini yang berjudul “Menjalin Ikatan Cinta Allah” karya Syaikhah Aisyah Al-Ba’uniyah (1460-1517).
Buku ini merupakan salah satu kitab rujukan terbaik untuk menjalin ikatan cinta dengan Allah SWT. Sebab, isi buku ini sangat pas untuk dibaca oleh kalangan umat Islam baik tua atau muda, kaya atau miskin, ulama atau orang ‘awam. Karena, buku ini memberikan empat tahapan spritual yang jelas untuk meraih cinta-Nya serta dapat membersihkan jiwa dan kembali pada-Nya.
Adapun prinsip yang pertama; Aisyah Al-Ba’uniyah mendefinisikan tobat sebagai kembali ke asal. Seorang salik harus melakukan tobat lahiriyah dan batiniyah. Dengan cara menyesali dosa, melepaskan diri darinya dan memiliki tekad untuk tidak mengulanginya. Allah maha baik, Allah maha penyayang, Allah maha pengampun. Sebesar apapun dosa kita, Allah akan mengampuni asal kita mau kembali kepada Allah dan bermunajat kepada-Nya. Allah adalah pengelola urusan hamba-Nya, pengatur hati hamba-Nya dan pengendali kondisi spritual hamba-Nya. Segala perbuatan ditentukan oleh Allah SWT, yang membuat kehidupan bahagia, yang memberi kita rezeki, yang membuat hati kita tentram, tentu semua itu Allah yang mengatur. Maka dari itu berlomba-lombalah dalam kebaikan, jangan merasakan kemesraan kecuali dengan Allah, jangan mempersembahkan hati kepada mereka, dan jangan sampai memberikan kediaman khusus untuk menetap kecuali dalam naungan Allah.
Prinsip kedua; Ikhlas. Menurut Aisyah Al-Ba’uniyah amal yang sedikit sudah mencukupi bila dilakukan atas dasar keikhlasan. Keikhlasan dengan nafsu bertujuan untuk menghindar dari perasaan selalu kurang. Keikhlasan dengan hati bertujuan untuk menutup mata dari melihat orang lain. Sedangkan keikhlasan dengan jiwa bertujuan untuk membersihkan diri dan berkeinginan diistimewakan menjadi tampil apa adanya.
Ikhlas adalah cahaya yang melenyapkan kegelapan yang dibawa nafsu dan setan. Amal adalah mata air, dimana riya adalah penoda dan ikhlas merupakan rahasia dari rahasia-rahasia Allah yang akan menjernihkan noda kotoran. Hanya dari Allah SWT. Taufik yakni pertolongan dan keikhlasan akan datang bermula.
Prinsip yang ketiga; Dzikir, yakni mengingat Allah dengan berprilaku sesuai syariat sehingga dibalas oleh Allah dengan karomah. Aisyah Al-Ba’uniyah mengakui bahwa mengingat Alah itu lebih berat ketika tanpa ada hasrat meminta imbalan. Dzikir merupakan sarana untuk mencapai apa yang diharapkan. Jika kita mengingat Allah dengan ketulusan, tentu Allah akan ingat kepada kita dengan keistimewaan Jika kita mengingat Allah dengan ketakutan, niscaya Allah akan ingat kepada kita dengan penyatuan Jika kita mengingat Allah dengan kefanaan, niscaya Allah akan ingat kepada kita dengan kebersamaan dalam keabadian
Prinsip ke empat; Mahabbah (Cinta). Aisyah Al-Ba’uniyah menerapkan bahwa cinta Ilahi mensyaratkan peniadaan selain-Nya dari dalam hati secara total, agar yang mencintai menyatu dengan Dia yang dicintai. Tentu prinsip yang ke empat ini merupakan prinsip yang paling dekat dengan Allah. Barang siapa yang sampai meraih pada prinsip ini maka ia akan menjalin keabadian Cinta dengan Allah.
Dalam buku ini juga diceritakan siapa laki-laki yang lidahnya basah hanya karena menyebut Allah? Bagaimana tanda-tanda cinta Allah? Seperti apa derajat cinta Allah yang amat tinggi? Semua pertanyaan-pertanyaan yang mungkin masih mengganjal dalam pemikiran pembaca mengenai 4 tahapan menuju surga-Nya. Tentu semua sudah terjawab dalam buku Menjalin Ikatan Cinta Allah ini.
Setiap hukum dan anjuran yang diselipkan dalam buku karya Syaikhah Al-Ba’uniyah ini terjamin kebenarannya, karena bersumber langsung dari Al-Qur’an dan Hadits, serta kitab-kitab karya ulama Islam ulama terkemuka. Dan juga kisah-kisah sahabat Rasulullah, seperti halnya dalam perkataan Abu Utsman “Rindu adalah buah cinta. Barang siapa yang mencintai Allah, niscaya rindu untuk berjumpa dengan-Nya”. Dzun Nun Al-mishri juga berkata, “Rindu adalah derajat tertinggi dan tingkat mistik teratas”. Ketika seorang sudah berhasil meraihnya, niscaya dia tidak sabar menunggu datangnya kematian karena saking rindu berat dia kepada Tuhan-Nya. (Hal. 157).
Peribahasa yang digunakan dalam buku ini menggunakan gaya naratif tentang kisah-kisah perjalanan para sahabat. Sehingga dapat menarik minat pembaca karena penasaran akan karya dari sufi wanita terbesar setelah Rabi’ah Al-Adawiyah ini. Buku ini sangat layak dibaca oleh hamba Allah yang kerap kali berkeinginan menjadi hamba yang mencintai Allah dan dicintai Allah.
Cinta merupakan fitrah manusia; sesuatu yang suci, bersih, dan mendamaikan. Namun pada era modern ini, cinta justru sering kali menjadi malapetaka dan menjerumuskan manusianya, ketika kita tidak tau cara mencintai dengan benar. Sejatinya manusia, cinta yang paling tinggi untuk kita persembahkan hanya kepada Allah, dan hanya kepada-Nya kita kembali.
*Santri PP. Annuqayah Kusuma Bangsa Putri.

