Giliraja, NU Online Sumenep
Berbagai pondok pesantren di kawasan Madura telah tiba saatnya masa liburan. Waktunya bagi para santri rehat sejenak pulang ke rumah, mengisi masa libur dengan kegiatan yang banyak manfaat, khususnya menjelang ramadhan. Banyak cara dalam memanfaatkan liburan pondok menjelang ramadhan, diantaranya kajian, lomba, seminar dan lainnya.
Beragam komunitas santri asal Giliraja menggelar kegiatan positif mengisi liburan mereka, salah satunya adalah Komunitas Taretan Giliraja (Kontag). Komunitas santri yang sedang mondok di berbagai pesantren luar Giliraja ini menyelenggarakan kegiatan Pekan Seni dan Literasi dengan tema “Eksistensi Moral di Era Milenial”. Kegiatan tersebut mengundang santri yang ada di pesantren se- Giliraja.
Panitia Pekan Seni dan Literasi yang diinisiasi oleh Kontag mengemas acara dengan tiga kegiatan utama, yaitu seminar, lomba bebat ilmiah teoritik dan lomba baca puisi. Kegiatan tersebut dilaksanakan sejak Jum’at (9/04/2021) hingga Ahad (11/04/2021), yang terpusat di Balai Desa Banbaru, Giliraja, Sumenep.
Faishol Adi Rahman, Ketua Pelaksana Pekan Seni dan Literasi menuturkan, bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menjalin silaturahim dan mengasah kreativitas santri. Selain itu, juga untuk menjaring minat dan bakat untuk saling berkompetisi menjadi yang terbaik.
“Acara semacam ini bertujuan untuk ajang silaturahim dan unjuk kreativitas antar santri di Giliraja. Kita akan saling mengenal lebih akrab, saling berkompetisi menjadi yang terbaik, serta saling mengetahui kelebihan dan kekurangan antar santri yang ada di Pulau Giliraja,” ujarnya, Sabtu (10/04/2021).
Lebih lanjut, Faishol sapaan akrabnya, berharap agar momentum liburan hendaknya menjadi ajang pengaplikasian ilmu yang telah didapat di pesantren. Liburan atau pulang ke rumah bukan berarti bebas dari peraturan-peraturan sebagaimana di pesantren.
“Saat liburan, santri menjadi barometer bagaimana ia bisa menyerap pelajaran yang ada di pondok. Harus menjunjung tinggi akhlak atau sikap yang baik, meskipun tidak sedang di pesantren. Dan yang tak kalah penting adalah santri harus kreatif serta produktif. Semisal rajin membaca buku, latihan menulis dan membantu pekerjaan orang tua,” ungkap Faishol, saat ditemui pada acara lomba debat ilmiah teoritik.
Sementara itu, Ongky Arista UA, inisiator lahirnya Kontag, yang didapuk menjadi juri lomba debat ilmiah teoritik mengapresiasi kegiatan Pekan Seni dan Literasi. Dirinya mengajak kepada seluruh masyarakat untuk mendukung kegiatan positif yang dimotori oleh santri saat liburan ini.
Wartawan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Biro Pamekasan ini menambahkan, bahwa acara anak-anak muda, utamanya santri, yang positif dan kreatif harus selalu didukung. Karena hari ini, kegiatan kreatif dan positif mulai terkikis dan tergeser oleh aktivitas lain, seperti main game.
“Spirit berkegiatan Kontag ini besar. Mereka iuran setiap minggu di pesantren, dan sedikitnya itu perlu diapresiasi,” pungkas pria yang menulis novel Teror Moral.
Pewarta: Kurdianto Allaily
Editor: A. Habiburrahman

