Image Slider

Istiqamah Kaji Qanun Asasi, Lakpesdam NU Pragaan Jelaskan Bahaya Tanazu’

Pragaan, NU Online Sumenep

Kajian bulanan Qanun Asasi oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Pragaan, pada Jum’at (15/1/2021) di aula Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) setempat telah sampai pada pembahasan surat Al-Anfal ayat 46 yang bunyinya: “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar.”

Ayat itulah yang dibahas mendalam oleh para kiai yang hadir pada acara tersebut.

KH Asy’ari Khatib mengatakan bahaya tanazu’ berselisih dan berbantahan yang tak argumentatif merupakan sikap yang dilarang oleh Nabi. Menurutnya, bukan pepesan kosong ayat ini menjadi penggalan serius yang ditaruh di Qanun Asasi NU. Dua ayat yang sesungguhnya saling bergandengan dengan ayat sebelumnya soal etika bertemu musuh tapi hanya ayat ini dicantumkan oleh beliau dalam Qanun Asasi, seperti Hadratussyekh KH M Hasyim Asyari ingin menegaskan bahwa bukan perbedaan yang membuat NU hilang kekuatannya, tapi sikap tanazu’ atau berbantahan dan berselisih.

“Perbedaan pendapat itu sangat manusiawi terlebih di NU. Tapi bukan itu yang bahaya, melainkan tanazu’ yang tidak perlu terjadi dalam tubuh organisasi. Itulah yang akan menghilangkan kekuatan kita,” kata Wakil Ketua MWCNU Pragaan saat menjelaskan kontekstualisasi ayat dengan keadaan NU kekinian.

Bahkan kata wa tadzhaba rihukum oleh sebagian ulama diartikan kekuasaan akan hilang. Kata ar-rih adalah kekuasaan. Kekuasaan sekalipun dijalani dengan tanazu’ maka akan goyah.

“Kata Plato, segenggam kekuasaan jauh lebih berharga dari berkeranjang- keranjang kebenaran. Karena kekuasaan memiliki power untuk membangun peradaban. Maka jangan bangun dengan sikap tanazu’ dalam internal organisasi,” pintanya puitis.

Guru senior Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah Guluk-Guluk tersebut menegaskan bahwa kekuatan Islam Indonesia atau Islam Nusantara yang sedang mengemuka saat ini, haruslah dijalani dengan tidak saling berselisih dan tidak saling berbantahan, agar menjadi power yang menggetarkan dunia. Beliau nengutip dawuh Gus Bahauddin Nur Salim bahwa Islam Indonesia itu bagaikan padi yang berberak ikut angin tapi tak patah. Berbeda dengan Islam di Arab Saudi yang diibaratkan seperti batang kurma, kokoh membentur angin.

“Menghadapi perbedaan itu kita harus hadapi dengan sabar, karena makna perjuangan menemukan ujung bahagianya jika selalu bersamaan dengan kesabaran,” ujarnya mantap.

Pada kesempatan yang sama K. Imam Sutaji juga memberikan masukan bahwa ayat itu mengingatkan kita, karena saat ini berhadapan dengan kelompok berbaju agama dan berlebihan dalam beragama. Menghadapinya harus menggunakan perjuangan analisis kawan dan lawan. Menurut kacamatanya, kemenangan bukan soal jumlah nominal tapi kesiapan hati untuk selalu mengabdi.

“Perjuangan yang sebenarnya bukan seberapa banyak yang kita dapatkan dan berikan, tapi seberapa besar kita mempersiapkan hati tetap tegar saat kita tak dibutuhkan, tapi hati tetap setia bersama dengan para pendiri NU,” kata Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumenep yang sangat inspiratif.

Pada malam itu pula, didepan puluhan penikmat kajian, K. Dardiri asal Pesantren Al-Asrar Panggung Pakamban Daya ini menekankan pada titik sabar.

“Ayat ini mengisyaratkan kita bahwa langkah NU difensif alias bertahan, bukan ofensif atau menyerang saat menghadapi musuh,” ujarnya menimpali.

Beliau contohkan Gus Dur saat dilengserkan, seharusnya beliau dan bangsa ini marah. Tetapi justru Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid mengambil langkah difensif, semata agar tak terjadi pertumpahan darah. Itu kesabaran di tengah kegaduhan.

Alumni Pondok Pesantren Nurul Islam Karangcempaka Bluto tersebut menegaskan bahwa sekeras apapun keadaan tidak boleh ada tumbal darah manusia.

“Manusia bukan tumbal, karena itu Nabi Ibrahim AS bukan menumbalkan Ismail AS, tapi menumbalkan keegoannya sebagai ujian keimanan dan kesabaran,” ungkapnya lagi.

K. Zubairi Hasyim selaku Ketua Lakpesdam NU Pragaan dan K Ach Subairi Karim sebagai Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep dalam kajian kontektual itu pula ikut berkomentar bahwa jika dikaji dari sisi sejarah, dari dulu hingga sekarang NU selalu menghadapi musuh yang ingin merubah moderasi Islam Indonesia. Juga realitas kondisi kebangsaan yang saat ini dihantam oleh radikalisme agama.

“Semua tantangan harus dihadapi dengan kesabaran,” sargasnya Kiai Ach Subairi Karim yang saat ini masih menjabat sebagai Wakil Ketua MWCNU Pragaan.

Tak sampai disitu, alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk tersebut menegaskan bahwa kedzaliman paling dzalim dalam pandangan agama adalah kebohongan penggunaan nama Allah untuk melegitimasi syahwat politik semata.

“Itu bahaya, karena dapat meretakkan hubungan sosial kebangsaan,” katanya setelah panjang lebar menjelaskan musuh dalam kehidupan berbangsa.

Adapun kajian tekstual pada ayat tersebut dijelaskan oleh K. Khairullah selaku Wakil Katib MWCNU Pragaan dan K. Jamali Salim sebagai Wakil Ketua MWCNU Pragaan yang saat itu mengkaji Kitab Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Baydawi. Beliau sepemahaman menjelaskan bahwa ayat tersebut sebagai pembelajaran bagi umat Islam yang membahas etika saat bertemu musuh.

“Kita jangan sekali-kali berharap bertemu musuh. Minta kepada Allah agar selalu dalam keadaan afiyah. Namun demikian kalau kita bertemu musuh, maka sabarlah, karena surga itu berada di bawah bayang-bayang pedang,” ujarnya menjelaskan sejumlah penafsiran dalam berbagai literatur kitab klasik.

Menjelang jam 23.40 WIB malam, kajian berakhir dengan doa.

Pewarta: Ach Subairi Karim
Editor: Firdausi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga