Bluto, NU Online Sumenep
Tantangan di era digital semakin kompleks. Salah satunya, merebaknya berita bohong atau hoaks yang kian masif. Untuk itu, kader Ansor Bluto, Prengki Wirananda mengajak santri memerangi berita bohong tersebut.
Ajakan itu disampaikan ketika mengisi kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Pondok Pesantren Nasyrul Ulum Aengdake, Bluto Sumenep, Ahad (11/07/2021). Ratusan santri sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut.
Prengki mengatakan, di era digital, kecepatan informasi tidak dapat dibendung. Setiap warga bisa mengunggah peristiwa apapun. Bahkan, bisa di-share ke sejumlah media sosial.
Kondisi tersebut sebenarnya sangat baik jika dimanfaatkan secara benat. Tetapi, pada praktiknya di lapangan, banyak oknum tidak bertanggung jawab yang justru memanfaatkan kecepatan informasi untuk menyebar berita bohong.
Ironisnya, masih ada warga yang tidak bisa memilah berita benar dan bohong. Akibatnya, meski berita hoaks, kerap saja disebar. “Kondisi seperti ini sangat memperihatinkan, harus diatasi,” katanya.
Pria yang juga Ketua Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Aengdake itu menyampaikan, para santri wajib berada di garda terdepan memerangi hoaks. Jika santri tidak mengambil peran, maka bukan tidak mungkin media sosial akan dikuasai para oknum tidak bertanggung jawab.
Menurut Prengki, sangat penting santri paham kaidah jurnalistik. Tujuannya, sebagai filter awal untuk memilah berita benar dan berita bohong. “Pelatihan jurnalistik seperti ini sangat penting untuk memberikan pemahaman kepada santri,” imbuhnya.
Prengki menyampaikan, generasi NU harus menguasai media. Kemudian, mewarnai media dengan hal positif sehingga yang dikonsumsi masyarakat juga positif. “Ayo kuasai media, jangan sampai gelombang perubahan besar ini dikuasi orang-orang tak bertanggung jawab,” pungkasnya.

