Image Slider

Kenapa NU Bertahan Sampai Saat Ini? Begini Penjelasan Ketua LDNU Sumenep

Gapura, NU Online Sumenep

Kiai Imam Sutaji, Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumenep memberikan alasan, mengapa NU sampai detik ini bertahan. Menurutnya, ada 4 alasan yang melatar belakangi NU bertahan.

Sebagaimana keterangan yang ia temukan dari kitabnya Habib Alwi bin Thahir Al-Haddad. Terdapat kesamaan dengan jam’iyah. Pertama, pengurus NU tidak menuntut haknya terpenuhi. Jika demikian, maka organisasi ini akan bertahan ila yaumil qiyamah.

“Pengurus NU tidak terjangkit penyakit was-was atau tidak mudah curiga. Namun, jika Indonesia mau dikoyak-koyak, NU yang menjadi lawan pertamanya. Semua lini di post-post pemerintahan bisa dikonfirmasi lewat pintu NU,” paparnya saat mengisi penguatan ideologi ke-NU-an di kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gapura, Ahad (31/12/2022).

Selanjutnya, pengurus NU tidak suka mencari muka. Jika memang ada, itu oknum dan tak mungkin bertahan lama. Sebaliknya, jika NU dijadikan batu loncatan politik, mereka tak akan lama juga. Yang terakhir adalah memiliki kemauan besar, tapi tak punya kemampuan dan dilakukan secara bertahap.

Kiai Imam Sutaji mengutarakan, akhir-akhir ini dihadapkan dengan transrasional. Baginya, sudah melampaui apa yang dipahami pengurus. Bahkan terjadi dari tingkat Pengurus Besar (PB) hingga Pengurus Cabang (PC). Untuk memahami hal itu, ia mengajak pada pengurus untuk membudayakan kumpul-kumpul dan bertabayun.

“Tidak hanya di masa sekarang. Nabi pernah dibantah seorang sahabat di saat kaum muslimin memenangkan perang Hunain. Pembagian ghanimah atau harta rampasan perang, lebih banyak diterima oleh kaum Muhajirin yang baru memeluk Islam. Sedangkan kaum Ansor yang berdarah-darah membela nabi sejak awal, mendapat sedikit,” terangnya.

Secara fitrah atau naluri kemanusiaan muncul dalam benak kaum Ansor. Kala itu, kata dia, Sa’ad bin Abi Ubadah mengatakan bahwa nabi tidak adil dalam pembagian ghanimah. Kisah ini, menurutnya, sama dengan kebijakan-kebijakan NU yang menurut bawahan kontroversi dan tidak cocok.

“Ini yang mestinya ditabayuni, didudukkan dalam diskursus keilmuan. Bukan dirundingkan dengan sikap yang kurang baik,” pintanya.

Editor: A Habiburrahman
ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga