Lenteng, NU Online Sumenep
Nahdlatul Ulama (NU) adalah suatu organisasi keagamaan resmi yang menjaga dan melestarikan sunnah-sunnah Rasulullah SAW agar tetap lestari sampai sekarang.
Demikian penjelasan KH Mohammad Hosnan saat mengisi acara ngaji ke-NU-an yang diselenggarakan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Lembung Barat, Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Lembung Barat, dan KKN Posko 35 Instika Guluk-Guluk, Ahad (21/08/2022) malam di Balai Desa Lembung Barat, Lenteng.
“Inilah perbedaan besar organisasi NU dari organisasi yang lainnya. Sejarah awal dari berdirinya NU ini adalah berangkat dari tradisi kebanyakan masyarakat yang dulunya hanya melakukan perkumpulan-perkumpulan biasa,” jelas Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Sumenep itu.
Menurutnya, pada babakan selanjutnya, para ulama menjadikan NU sebagai wadah penyebaran dan pelestarian ajaran keislaman. “Dengan diadakannya wadah perkumpulan seperti kebiasaan masyarakat, akan tetapi diarahkan pada aspek keagamaan yang berdasar pada Ahlus sunnah wal Jama’ah (Aswaja),” terangnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Kusuma Bangsa Guluk-Guluk ini juga mengungkapkan, tujuan berdirinya organisasi NU ini adalah meminimalisir perselisihan yang terjadi sesama agama Islam.
“Peran NU di sini adalah menjadi pengikat masyarakat Islam saat ini yang memang sudah jarang lagi dengan sesama muslim memiliki konfilk internal,” ungkap alumnus Program Doktoral Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang ini.
Lantas ia menambahkan, tantangan besar yang dihadapi organisasi NU saat ini adalah pada aspek amaliyah yang dilakukan dengan menghipnotis masyarakat awam untuk mencela pemimpin organisasi ini.
“Meski bukan dalam aspek kepemimpinan besar, namun bisa juga pemimpin ranting NU. Inilah yang menjadi masalah besar organisasi NU saat ini yang dijadikan alat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab melalui masyarakat awam untuk menghentikan program pelestarian Aswaja,” tuturnya.
Kemudian, ada tiga ciri utama ajaran Aswaja yang selalu diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Pertama, at-Tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan.
“Kedua, at-Tawazun atau seimbang dalam segala hal, termasuk dalam penggunaan dalil ‘aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits),” tandas Wakil Rektor II Instika Guluk-Guluk itu.
Ketiga, al-I’tidal atau tegak lurus. “Selain ketiga prinsip ini, golongan Aswaja An-Nahdliyah juga mengamalkan sikap tasamuh atau toleransi, yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Namun bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda tersebut dalam meneguhkan apa yang diyakini,” tegasnya.
Kiai Hosnan mengutarakan, permasalahan lain yang dihadapi NU di sini adalah serangan serangan dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk memberantas organisasi NU dengan segala kegiatan-kegiatan keagamaannya.
“Hal ini dilakukan karena peran NU di sini bukan hanya dalam aspek keagamaan saja, namun juga pada kenegaraan. Kita tahu bahwa organisasi NU ini adalah organisasi yang ikut terlibat dalam mempertahankan kemerdekaan NKRI, sehingga mereka yan berusaha dan menunggu jatuhnya bangsa kita memulai penyerangannya pada organisasi besar yang memang menjadi wadah kemerdekaan negara Indonesia ini,” jelasnya.
Rektor Institut Sains dan Teknologi (IST) Annuqayah Guluk-Guluk ini menyatakan, KKN tahun 2022 ini sedikit berbeda dari tahun-tahun yang sebelumnya yaitu merealisasikan program integratif dengan konsep adanya program Pengabdian kepada Masyarakat (Pkm) dan Riset.
“Tujuan diadakannya program ini adalah pengintegrasian anggota KKN dengan seluruh komponen-komponen yang ada di tempat KKN diadakan. Baik itu dari desa setempat dan lembaga pendidikan yang ada ataupun berbagai organisasi yang terdapat di desa tempat KKN tersebut,” pungkas Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk ini.
Editor: Abdul Warits

