Image Slider

Ketua NU Sumenep: Ekosistem ke-NU-an Ada di Kampung

Kota, NU Online Sumenep

Sabtu (15/01/2022), semua Badan Otonom (Banom) di lingkungan NU Sumenep bertemu di kantor Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sumenep. Banom NU yang hadir antara lain, PC Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU), Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU), dan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa.

Sekretaris PC GP Ansor Sumenep, M Imam Haromain merasa tersanjung rapat ditempatkan di gedung Ansor. Beliau juga katakan bahwa sinergitas antar Banom di lingkungan PCNU Sumenep sangat diperlukan untuk menjalin kegiatan antar Banom yang dirasa cocok, seperti kerja sama Ansor dengan Pagar Nusa dalam Diklatsar dan latihan-latihan silat.

Sementara itu sambutan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep KH A Pandji Taufiq mengungkapkan, semua segmen alat kelengkapan lembaga dan Banom sudah ada di PCNU dan masing-masing sudah terlihat aktif luar biasa. Beliau mengenang, di tahun 2010 lalu, saat itu Ansor belum punya seragam Barisan Ansor Serbaguna (Banser).

“Alhamdulillah ada ahlal khair yang menyediakan seragam Banser sampai 150 paket. Kini seragam Banser, Ansor atau seragam yang lain sudah bisa diupayakan mandiri seiring menguatnya kelembagaan,” ujarnya.

Berdasarkan realita, tambahnya, NU dan sayap Banomnya sudah sampai ke tingkat ranting dan komisariat, khususnya di lembaga pendidikan. Tapi harus juga disadari keadaan sudah bergerak dan berubah, maka harus bergerak lebih maju lagi untuk memperbaiki shaf dalam satu gerakan dan satu komando.

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk itu menyadari bahwa keunikan NU dalam penyatuan shaf salah satunya karena ruang keberagaman yang dibuka lebar serta kekhasan tersendiri yang tidak dimiliki organisasi lain.

“Dinamika, keragaman dan sikap egaliter di NU itu justru sisi lain yang merupakan kelebihan tersendiri yang bisa dinikmati sekalipun terlihat sulit diatur,” ucapnya.

Tak sampai di situ, perbedaan di NU, menururtnya, menjadi kekuatan tersendiri. Kadang warna perbedaan itu tidak ada di organisasi apapun selain NU.

“Karena dipimpong dengan perbedaan dan keberagaman itulah maka NU menjadi kenyal dalam pergaulan sehingga menjadi kuat,” imbuhnya.

Kedepan, harapnya, beliau menginginkan NU bukan hanya ada, tetapi memberikan bermanfaat.

“Senjata yang paling baik adalah persatuan dan kesatuan di tengah samudera NU,” tuturnya.

Untuk menguatkan kemanfaatan itu, maka PCNU mengharapkan struktur NU dan Banom di tingkat ranting mutlak diperlukan.

“NU hadir di kampung, karena ekosistem ke-NU-an kita ada di tingkat kampung, berbasis mushala dan masjid, sehingga ekosistem warga NU tak terganggu,” katanya.

Selain di kampung, kuatnya struktur di komunitas urban tak boleh dipandang sebelah mata. Penting karena di sana ada perang ideologi yang sengit dan keras. Dari sisi ekonomi juga melihat pedagang kaki lima semakin tersingkir dengan hadirnya gerak ekonomi global.

Kiai Pandji juga melihat tanah mulai dikuasai kaum kapital, pedagang global terlihat semakin kuat karena ada karpet merah dari keadaan, menjadikan pedagang lemah semakin tersingkirkan. Itu semua menjadi soal tersendiri bagi NU.

Di akhir pengarahannya, beliau meminta kepada Banom untuk menyiapkan kegiatan yang berorientasi pada penguatan ideologi dan kelembagaan di Hari Lahir (Harlah) ke-99 NU.

“Kegiatan wajib berupa Haul Muassis yang dilaksanakan secara serentak tanggal 18-19 Februari 2022,” tandasnya.

Editor: Firdausi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga