Oleh: Lukmanul Hakim
Bertolak sekitar 7 tahun yang lalu, penulis masuk ke dalam jeruji besi suci bernama pondok pesantren. Pesantrennya cukup terkenal di Madura yakni Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Sumenep. Di pesantren, penulis ditempa dengan beragam pengalaman yang pada akhirnya dapat dijadikan pegangan untuk menjalani hidup di masa depan.
Penulis nyantri ke pondok pesantren tersebut mungkin tidak begitu lama, yaitu kisaran 7 tahun saja. Meski begitu, di waktu yang singkat tersebut, penulis merasakan pengalaman sebagai seorang santri yang gokil dan mungkin hari ini tidak bisa penulis ulangi lagi.
Di pondok, cenderung memiliki peraturan yang agak ketat seperti pesantren pada umumnya. Sehingga dalam kegiatan sehari-harinya diisi dengan mencari ilmu dan beribadah kepada Allah SWT, yakni berupa kegiatan sekolah formal, sekolah madrasah diniyah, jam belajar, organisasi daerah, shalat lima waktu secara berjamaah, gerakan batin dengan pembacaan surah Yasin, dan lain sebagainya.
Namun, bukan itu yang mau penulis bahas. Penulis memikirkan beberapa hal umum yang mungkin terjadi dan hanya santri saja yang bisa merasakan. Misalnya, dari pengalaman paling menyenangkan sampai pengalaman paling mengerikan. Untuk itu penulis akan uraikan sebagai bahan nostalgia ketika masih nyantri di pesantren.
Sandal Pun Bisa Ghosting
Bukan hanya hati saja yang bertepuk sebelah tangan, tapi bagi penulis sandal pun bisa bertindak demikian. Sebagai seorang santri, kehadiran sandal nyatanya merupakan elemen paling penting dalam kegiatan sehari-harinya. Betapa tidak, siang hingga malam, sandal menjelma sebagai anggota tubuh tambahan. Sehingga kehilangan sandal rasanya ibarat kehilangan sesuatu yang berharga.
Jika dihitung-hitung, mungkin ada beberapa puluh pasang sandal yang pernah penulis miliki. Bukan karena penulis kolektor sandal, tapi keadaanlah yang memaksa penulis. Walau begitu, penulis diajari untuk husnudzon. Hal itu diterapkan ketika ada teman lain yang menggunakan sandal yang mirip seperti milik penulis. Sontak rasa hati ini pun dituntut untuk diam dan legowo.
Baik di dunia persandalan dan dunia percintaan, semuanya harus dijalani dengan tabah. Tetapi untuk keduanya penulis katakan sama-sama kurang beruntung. Bedanya, ketika sandal penulis hilang, penulis masih bisa mencari gantinya lagi. Sebaliknya, ketika pasangan penulis yang hilang, itu menjadi permasalahan. Karena, di toko-toko sama sekali tidak ada.
Filosofi Dasar Pesantren ‘Satu untuk Semua’
Enaknya jadi santri adalah semua yang dimiliki teman adalah milik kita juga. Begitu pun sebaliknya, apa yang kita punya adalah milik bersama. Kalau diingat lagi, hal paling indah ketika mondok adalah di saat salah satu teman kita mendapat kiriman makanan dari orang tuanya.
Sebagai santri yang filosofis, penulis berusaha menerapkan sekuat mungkin filosofi dasar yang tertanam, yakni satu untuk semua, satu rasa, dan sama rata. Biasanya wali santri yang mengirim makanan pun tidak hanya membawa satu porsi, melainkan satu ember. Itulah hari di mana santri bisa makan enak bergizi.
Bukan hanya itu, penggunaan peralatan seperti buku, bolpoin, peci atau kopiah, dan baju juga dimaknai sebagai milik publik. Sehingga jika kita masuk ke kamar pondok, kita bebas memilih baju mana yang paling cocok untuk kita. Ya, meskipun itu bukan sepenuhnya milik kita. Makanya jika kalian menemukan seorang santri yang selalu memakai baju bagus dan seolah tidak pernah ganti, itu sebenarnya menghindari bajunya dipakai santri lain.
Sinetron Unik di Lesantren ‘Pakaian dalam yang Sering Tertukar’
Pada kenyataannya, filosofi satu untuk semua tidak selalu mengenakkan. Beberapa santri yang agak nakal tampaknya menggunakan wacana tersebut sebagai media pembenaran. Pasalnya, filosofi satu untuk semua perlahan merambah ke dunia ‘pakaian dalam’ juga.
Sebagian santri tidak memakai pakaian dalam. Bukan karena kotor atau tidak punya, akan tetapi bingung mau pakai yang mana. Mau pakai ini, tapi bukan punya miliknya. Mau pakai itu, tapi ukurannya tidak pas. Dari situ, lahirlah beberapa pilihan, yaitu terpaksa memakai apa yang bukan miliknya, atau tidak memakainya sama sekali. Jadi, sebagian memilih opsi yang terakhir.
Alarm Terbaik Bunyi Pentongan Kayu Pengurus
Beberapa kali dua teman penulis mendapati alarm ini. Sebab, kadang-kadang mereka berdua ketiduran ketika menghadapi shalat Subuh dan Asar. Pesona alarm ini diluncurkan ketika santri hendak pergi ke masjid guna shalat berjamaah.
Pernah seketika, dua teman penulis lagi asyik tertidur di kamar pondok. Waktu itu menjelang Subuh. Padahal, sebelum Subuh pun para santri harus bangun. Ya, ada yang hafalan, mandi, olahraga, maupun salat sunnah. Tapi, dua teman penulis tadi tidak melakukan itu. Sehingga, pada akhirnya, di detik-detik akhir kenikmatan tidur mereka berdua, sebuah gayung melayang beserta airnya, “Byuuoorr.” Tidak hanya itu, sajadah maut sang pengurus pun juga ikut menyabet.
Selain Kudis, Bukan Santri Namanya jika Tidak Berkutu
Istilah Kudis mungkin menjadi salah satu identitas penyakit santri. Namun, hal terpenting yang harus diperhatikan selain itu adalah rasa gatal yang tidak selalu terjadi di badan. Akan tetapi, ada rasa gatal yang juga menyerang rambut. Hal ini disebabkan karena adanya makhluk tak berdosa bernama “Kutu” rambut.
Bagi seorang santri, Kudis dan Kutu adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Hal tersebut disebabkan karena filosofi yang tadi itu, yakni satu untuk semua. Akibatnya, barang yang dipakai bersama-sama memantik penularan Kudis dan Kutu menjadi sangat cepat.
Penulis dan dua teman penulis pun pernah menjadi korban. Selama setahun penulis mengalaminya. Rasanya, sudah tidak karu-karuan. Saking meratanya, setiap hari kami bereksperimen menjajal berbagai macam Shampoo dan ramuan tradisional penghilang Kutu yang merupakan rekomendasi santri pondok yang sudah dulu sembuh. Hasilnya, memuaskan, meski harus menunggu setahun dulu.
Tetapi meski begitu, kehidupan pesantren tidak selalu soal pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan saja. Dari itu, selamanya penulis akan menerapkan atmosfer dunia pondok pesantren yang adem, toleran, kekeluargaan, dan menjadi generasi mundzir al-Qaum.
*) Wisudawan Terbaik Instika Guluk-Guluk Tahun 2021, Mahasiswa Pascasarjana Instika Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk, Dewan Redaksi Jurnal Pentas MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk, dan Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Tahun 2014-2021.

