Oleh : Dr. Fathurrosyid, M.Th.I
Suatu Hari, Hasan al-Basri, disowani wali santri yang berharap mendapat solusi di saat ia gundah karena anak perempuan satu-satunya di lamar banyak lelaki dari berbagai profesi, mulai dari petani, pedagang, dosen, politisi, jendral hingga menteri. Resiko perempuan cantik menjadi rebutan lelaki adalah niscaya.
يا سيدي قد خطب ابنتي جماعة. فممن ازوجها؟ قال زوجت ممن يتق الله. إن احبها اكرمها وان ابغضها لم يظلمها.
“Wahai Tuan Hasan al-Basri, anak gadiksu menjadi rebutan para lelaki. Lalu, dengan siapakah seharusnya saya menikahkannya? Hasan al-Basri menjawab tegas, “Nikahkanlah dengan lelaki yang takwa, sebab lelaki takwa akan senantiasa menghormati saat ia mencintainya dan tidak akan berbuat dzalim saat ia membencinya”.
Pesan moral yang dapat kita ambil dari pendapat Hasan al-Basri di atas, adalah indikator “ketakwaan” calon pendamping hidup adalah berdasarkan sikap dan karakternya pada saat menjalin komunikasi dan berinteraksi.
Gaya komunikasi dan interaksinya, menurut Hasan al-Basri, adalah jika ia sedang mencintai, maka ia akan menghormati (ان احبهااكرمها). Sebaliknya, jika ia sedang benci, maka ia tidak akan berbuat dzalim kepadanya (ان ابغضها لم يظلمها).
Kondisi cinta dan benci berdasar pada teori psychological science, kata “ahabba” adalah situasi “good mood”. Lelaki takwa, dalam kondisi good mood, tentu ia akan memberikan apreseasi (ikraman) dengan mencurahkan seluruh jiwa dan raga untuk kebahagiaan pasangannya.
Iluatrasinya, segala yang ia punya, maka akan senantiasa diberikan pada pasangannya, bahkan untuk sesuatu yang belum ada sekalipun, ia akan berjanji untuk dapat mewujudkannya. Ungkapan “jangankan harta, matipun aku rela. Apa yang engkau minta, akan selalu tersedia. Jangankan orang lain melihatnya, disentuh nyamukpun sungguh aku tidak akan rela” adalah cara komunikasi, ekspresi dan interaksi lelaki takwa yang sedang good mood.
Sebaliknya, dalam psychological science, kata “abghadaha” adalah suasana hati yang “bad mood”. Artinya, lelaki takwa yang sedang dalam kondisi bad mood, maka ia tidak akan menzalimi pasangannya. Ia senantiasa menghindari perilaku yang dapat mengecewakan perasaan pasangannya. Lelaki takwa yang sedang bad mood, ia tidak akan melakukan perlawanan serupa. Jangankan melukai fisik pasangannya, menyakiti psikis sekalipun, ia tentu tidak akan berani melakukannya. Ia rela menyembunyikan segala kekesalan dibalik keperkasaanya, demi membahagiakan pasangannya. Ia rela air matanya berlinang disetiap bait doa sujudnya, demi cinta sejatinya, bahkan ia rela dan selalu bersedia menggantikan sakit yang dialami pasangannya.
Semoga cinta kita, sejati dan abadi selamanya. Bagi yang Nge-Jomblo, mari merapat.
*Dekan Fakultas Ushuludin Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-guluk, Sumenep.

