Image Slider

Gelar Kepahlawanan Gus Dur

Oleh: Firdausi

Secara teoritis, gelar pahlawan nasional hanya diberikan kepada warga Indonesia yang berjuang melawan penjajah di tanah air yang saat ini menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Beliau lah yang gugur demi membela negara atau sesama hidupnya melaksanakan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi yang luar biasa bagi pengembangan dan kemajuan bangsa. Namun pengakuan kepahlawanan tersebut tidak selalu datang dari lembaga resmi pemerintah atau Parpol, dan juga agama. Yang tidak kalah penting lagi adalah gelar kepahlawanan datang sendiri dari pengakuan masyarakat.

Hal ini dialami oleh Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang memperoleh gelar tersebut dari masyarakat. Dari segala penjuru Indonesia, aneka golongan menziarahi makamnya setiap hari. Maqbarahnya yang terletak di Tebuireng, Jombang tidak pernah sepi dari peziarah.

Berbagai Universitas dan kelompok kajian selalu mengkaji pemikirannya yang memiliki kontribusi besar bagi keutuhan NKRI. Karena semasa hidupnya, pemikiran dan sikap Gus Dur menjadi perekat bagi keberagaman bangsa. Kaum pelajar, mahasiswa, pemikir dan intelektual meyakini bahwa beliau telah memberikan pengetahuan kepada seantero anak negeri tentang pentingnya melestarikan hidup dalam keberagaman. Menurut mereka, Gus Dur telah meninggalkan kita semua, tetapi ajaran pluralismenya tidak boleh ditinggalkan.

Ekspresi mencium tangan Gus Dur, mengkaji pemikirannya, hingga menziarahi makamnya adalah bentuk hakiki dari kepahlawanan. Kesederhanaan, keikhlasan, kegigihan, kepedulian pada masyarakat tidak bisa dilupakan begitu saja, terlebih bagi warga Nahdliyin. Mereka yang merasa ditolong dan diperjuangkan nasibnya, itulah yang sehari-hari berbondong-bondong menziarahi dan memadati makam cucu Hadaratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari.

Semua yang dilakukan oleh Gus Dur memberi pelajaran kepada khalayak bahwa kesungguhan dan ketulusan hati dalam mengerjakan sesuatu yang bersifat sosial akan memperoleh penghargaan. Gelar dan penghargaan tersebut untuk mengabadikan pemikiran kebhinnekaannya. Apalagi saat ini Indonesia dilanda dengan oknum yang suka menyalahkan, suka memprovokasi, main klaim, dan menyalahi budaya bangsa yang berakhlakul karimah. Oleh karenanya, untuk mengerem sikap tersebut, maka generasi muda NU harus menghidupkan dan mereaktualisasikan pemikiran sosok pemimpin yang yang diterima oleh lintas agama dan suku.

Gus Dur seorang pemimpin sejati yang mengorbankan pemikirannya, hartanya, tenaganya, dan nyawanya untuk bangsa dan negara. Ciri seperti itulah disebut pahlawan. Karena perjuangannya tidak mengharap upah, tetapi yang diharapkan adalah ridla dan ganjaran dari Allah SWT, bukan penghargaan duniawi. Gelar kepahlawanan yang bersifat resmi sangat relatif, tetapi penghargaan masyarakat atas jasanya, itu yang lebih penting. Sebab perjuangannya memberikan inspirasi bagi generasi penerus. Dalam perspektif Islam, disebut amal jariah. Ketika nama dan pemikirannya selalu menghiasi berbagai pertemuan, diskusi ilmiah, dan menjadi pedoman di lapangan pergerakan, itulah pahlawan.

*) Direktur NU Online Sumenep

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga