Ganding, NU Online Sumenep
Di antara urgensi reuni adalah menghapus rasa iri dan dengki. Sebab, ketika seseorang hendak reunian berarti itu sudah mempunyai niatan untuk menguatkan ketersambungan dan menganyam kembali benang kusut yang sebelumnya sempat dibiarkan dan dilupakan.
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Kiai Izzul Muttaqin, Bendahara Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumenep saat mengisi ceramah agama dalam kegiatan Reuni Alumni Rayon Al-Qamary Pondok Pesantren Annuqayah Latee II Guluk-Guluk dan Haul Bapak Mudhar-Bapak Sa’runi, Rabu (26/04/2023) di Desa Gadu Timur, Ganding.
Di lanjutnya, pentingnya pelaksanaan reuni alumni adalah mendoakan para guru yang merupakan bagian dari langkah konkret pengabdian seorang murid pada gurunya.
“Mendoakan guru merupakan sebuah keniscayaan dalam acara reuni alumni ini,” terang alumni Pondok Pesantren Annuqayah Latee Guluk-Guluk ini kepada NU Online Sumenep, Jum’at (28/04/2023).
Ketua Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk ini menambahkan, reuni alumni juga berfungsi menjaga hubungan baik antara sesama yang merupakan cerminan keimanan seseorang.
“Apalagi menjaga hubungan baik sesama alumni yang diharapkan terjalinnya sinergitas positif sehingga mengharumkan almamater tercinta,” tandas Kiai Izzul.
Ketua Forum Dai PC LDNU Sumenep ini juga mengungkapkan, reuni alumni memiliki manfaat positif bagi santri yang masih aktif di pesantren.
“Reuni alumni adalah tradisi baik yang secara bergilir akan dicontoh dan dilestarikan oleh generasi ke generasi ke depan,” ungkap kiai muda yang kini diamanahi Pengasuh Mushala Asy-Syadiliyah Bataal Barat, Ganding itu.
Menurutnya, reuni juga bagian dari ajang silaturahim yang secara jelas diperintahkan oleh Allah SWT dalam QS. Ar-Ra’d ayat 21:
وَا لَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ مَاۤ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖۤ اَنْ يُّوْصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَ يَخَا فُوْنَ سُوْٓءَ الْحِسَا بِ ۗ
Artinya: “Dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 21).
Di samping itu, ada juga hadits Nabi yang menjelaskan tentang perintah silaturahim ini:
عن أبي أمامة الباهلي: ألا إنّهُ لا نبيَّ بَعدي، ولا أمَّةَ بعدَكُم ألا فَصلُّوا خَمسَكُم وصوموا شَهْرَكُم، وصِلوا أرحامَكُم وأدُّوا زَكاةَ أموالِكُم طيِّبةً بِها أنفسُكُم تدخُلوا جنَّةَ ربِّكم
Artinya: “Dari Abi Umamah Al-Bahili: Rasulullah SAW bersabda: ‘Ketahuilah bahwa tiada Nabi setelahku dan tiada umat lagi setelah kalian, oleh karena itu laksanakanlah shalat lima waktu, berpuasalah di bulan puasa, sambunglah silaturrahim, dan tunaikanlah zakat harta kalian seraya dengan kebaikan jiwa kalian, maka masuklah kalian ke dalam surga Tuhan kalian.”
Terkait hari raya, Kiai Izzul jadi teringat pada sebuah ungkapan yang dikutip oleh Al-Maghfurlah KH Ahmad Basyir Abdullah Sajjad bahwa, “Hari raya itu bukan hanya sekadar perihal baju baru, akan tetapi hari raya sebenarnya adalah orang yang senantiasa bertaubat kepada Allah SWT.”
Editor: Firdausi

