Image Slider

LTMNU Sumenep Sebut Masjid sebagai Wahana Ibadah dan Pemberdayaan Masyarakat

Pragaan, NU Online Sumenep

Masjid tidak hanya menjadi tempat untuk beribadah bagi masyarakat muslim. Lebih dari itu, masjid adalah sarana pemberdayaan terhadap masyarakat dari berbagai aspek kehidupan sebagaimana pada zaman Rasulullah.

Begitulah yang disampaikan oleh M. Syukron Hamidi, salah satu Pengurus Lembaga Takmir Masjid Nahdhatul Ulama (LTMNU) Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumenep saat diundang Podcast di Studio II TVNU Sumenep pada Jumat (15/04/2022).

Pria yang kini menjadi Dewan Pengasuh di PP. Al-Falah Lenteng barat ini lebih lanjut menambahkan bahwa masjid  adalah tempat yang sakral di bumi dan salah satu lembaga yang memiliki berfungsi ganda.

“Fungsi masjid sangat luas sebagaimana dicontohkan pada zaman Nabi. Selama ini masjid hanya digerakkan sebagai pusat peribadatan saja. Tidak pernah digerakkan kepada hal-hal yang sifatnya sosial, kemasayarakatan, pemberdayaan,” kata Wakil Kepala SMK Annuqayah ini.

Untuk mencapai tujuan ini, maka masjid harus memilki penggerak masjid yang mengerti akan manajemen. Ia pun bertekad ke depan LTM PCNU Kabupaten Sumenep akan menjadikan masjid sebagai subjek bukan lagi sebagai objek. Karena, menurut lelaki yang baru saja diamanahi sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Ranting (PR) Nadhatul Ulama (NU) Desa Lenteng Barat ini fungsi dan peran masjid masih mengalami penyempitan makna di Kabupaten Sumenep.

“Untuk mewujudkan hal ini, maka kita butuh kreativitas dari pengelola masjid agar bisa memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitarnya sehingga kemudian ada revolusi tata kelola masjid. Masjid yang dikelola dengan sederhana itu akan tetap menjadi pasif,” kata Ketua BPD Desa Lenteng ini.

Saat ditanya tentang masjid ideal di Kabupaten Sumenep, ia mengatakan bahwa masjid yang ada di Kabupaten Sumenep masih belum dikatakan ideal sesuai dengan keputusan dirjen Bimas islam Nomor DJ.II/802 Tahun 2014 yaitu aspek idarah (pengelolaan) meliputi perencanaan, pengorganisasian, keuangan, pengawasan dan pelaporan). Aspek Pemakmuran masjid seperti penyelenggaraan kegiatan peribadatan, majelis taklim, pembinaan Remas, PHBI, Pengadaan Perustakaan dan madrasah, koperasi dan layanan kesehatan. Ri’ayah yaitu aspek pemeliharaan bangunan, peralatan, kebersihan, lingkungan keamanan dan arah kiblat.

“Selama ini kami turun ke berbagai kecamatan masih belum ada yang ideal. Tapi, yang mulai melangkah menuju ideal secara utuh dan secara perkembangannya sudah mulai ada masjid yang menyediakan kotak nasi yang bisa diakses oleh semua orang,” katanya kepada NU Online Sumenep.

Ia mengapresiasi kinerja dari pengurus Takmir yang sudah dengan suka rela mengelola masjid. Karena menurutnya menjadi takmir adalah orang-orang terpilih di sisi Allah dan masyarakat. Selain itu, pengabdian yang dilakukan dengan suka rela di Masjid merupakan orang-orang yang memiliki ketulusan yang luar biasa.

“Kesukarelaan itu akan mengundang rahmatnya Allah. Maka, dedikasikanlah diri anda dengan sebaik mungkin. Karena dedikasi atau mengabdikan dalam kebaikan adalah kebaikan itu sendiri,” pungkasnya.

Editor : Ibnu Abbas

 

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga