Oleh: Ahmad Fatoni
Judul : KH. Maimoen Zubair; Sang Kiai Teladan
Penulis : Amirul Ulum
Tahun Terbit : Februari 2020
Percetakan : Global Press
Tebal : 178 Halaman
ISBN : 978-602-5653-50-6
Buku KH. Maimoen Zubair; Sang Kiai Teladan bukan biografi pertama yang ditulis oleh Amirul Ulum. Di antara karya yang lain adalah, K.H. Zubair Dahlan: Kontribusi Kiai Sarang untuk Nusantara dan dunia Islam, Ny. Khairiyah Hasyim Asy’ari: Pendiri Madrasah Kuttabul Banat di Haramain dan juga beberapa karya lainnya seputar tokoh pesantren. Amirul Ulum sendiri merupakan santri KH. Maimoen Zubair (alm). Beberapa kali mendapat kesempatan mewawancarai langsung Mbah Maimoen beserta putranya.
Buku yang berjudul KH. Maimoen Zubair; Sang Kiai Teladan dicetak ulang dengan niat untuk memperingati 40 hari wafatnya Mbah Maimoen. Buku tersebut membahas kehidupan pengasuh Pendiri PP. Al Anwar Sarang itu dengan runtut. Diawali dengan asal-usul berdirinya Pondok Pesantren Sarang—sebelum berdiri banyak pondok pesantren di daerah Karangmangu, Sarang. Seperti halnya penjelasan penulis, Pondok Pesantren Sarang berdiri pertama kali oleh Kiai Ghozali bin Lanah. Beliau merupakan seorang yang Alim. Ia belajar kepada orang tuanya yang bernama Lanah, bekas tentang Pangeran Diponegoro. Kemudian Kiai Ghozali kecil mondok pertama kali di daerah Belitung, masih termasuk kecamatan Sarang. Jika ada di titik PP. Al Anwar 1, daerah belitung berjarak sekitar 3 KM ke arah Barat. Dulunya, pesantren tersebut diasuh oleh Kiai Mursyidin.
Kiai Ghozali adalah kiai alim serta generasi yang pertama kali menuntut ilmu di Haramain, sekitar pertengahan abad ke XII H. Kemudian rihlah ilmu ke Haramain dilestarika oleh keturunannya sampai sekarang. Sepulangnya dari Makkah, Dia mendirikan Pondok Pesantren Sarang. Ia mendapat tanah waqaf dari Saman bin Yaman, seorang dermawan yang kaya raya di Sarang pada zamannya. Generasi Kiai Ghozali ini adalah fase pertama perkembangan Pondok Pesantren Sarang. Fase kedua, pada zaman Kiai Umar bin Harun. Fase ketiga, pada zaman Kiai Fathurrahman bin Ghozali, fase keempat pada zaman Kiai Ahmad bin Syuaib dan Kiai Zubair bin Dahlan (Ayahanda Mbah Maimoen).
Dari jalur Kiai Lanah, ayah dari Kiai Ghozali, melahirkan kiai Sarang yang alim dan Allamah. Salah satunya adalah KH. Maimoen bin Zubair, lahir pada tanggal 28 Oktober 1928 M dari pasangan KH. Zubair bin Dahlan dan Nyai Mahmudah. Kelahirannya bertepatan dengan hari di mana pemuda dan pemudi melakukan sumpah pemuda setia terhadap negara.
Sebelum menimba ilmu ke luar Sarang, Mbah Maimoen digodok langsung oleh orang tuanya dalam pendidikan keagamaan, yaitu Kiai Zubair Dahlan. Dari ayahnya, ia menghafalkan beberapa kitab matan serta mengikuti pengajiannya. Di antara kitab yang dikaji oleh Ayahnya yang pernah diikuti oleh Mbah Maimoen adalah Kitab Fathul Qarib, Fathul Mu’in, dan Fathul Wahab.
Setelah itu ia berkelana, mencari ilmu ke Pondok Pesantren Lirboyo asuhan Mbah Manab. Pada saat itu Indonesia sedang memproklamirkan kemerdekaan. Selama di pesantren itu, ia juga belajar kepada Kiai Marzuki, Kiai Mahrus Ali, dan Kiai Ma’ruf Kedunglo.
Tak hanya alim dalam literatur kitab berbahasa Arab, tercatat dalam buku, bahwa Mbah Maimoen juga membaca koran, majalah, dan buku-buku. Hal ini diperintahkan langsung oleh Ayahnya sejak umur 15 tahun. Kiai Zubair juga mengajarkan kepada Mbah Maimoen menulis Latin, Honocoroko dan cara berbahasa melayu dengan baik.
Pada saat menuntut Ilmu di Lirboyo ia tidak semerta-merta tenang seperti santri pada zaman sekarang. Ia harus menghadapi kekacauan negara Indonesia atas penjajah Belanda. Di bawah komando KH. Hasyim Asy’ari tentang Resolusi Jihad pada tanggall 22 Oktober 1945, ia ikut juga memperjuangkan Indonesia bersama para santri dan Kiai.
Ketika sudah aman, Mbah Maimoen diajak oleh Kiai Ahmad bin Syuaib dan pamannya, Kiai Abdurrahim bin Ahmad untuk naik haji. Selain itu tujuan perjalanan mereka agar Mbah Maimoen dapat belajar di Haramain seperti tradisi leluhurnya, yaitu Kiai Ghozali bin Lanah. Dia belajar kepada ulama terkemuka yang mengajar di Masjid al-Haram dan Darul Ulum. Seperti Sayyid Alawy bin Abbas al-Maliki, Syeikh Muhammad Amin Al-Kutbi, Syeikh Abdul Qadir al-Mandili, syeikh Yasin bin Isa al-Fadani dan lain sebagainya. Ia belajar banyak kitab. Di antara sekian kitab, hanya ada tiga yang dapat dihatamkan, yaitu kitab Waraqat, Baiquniyyah, dan kitab karya Syeikh Zam-Zami dalam bidang Ilmu Tafsir. Sementara, dari Syeikh Yasin bin Isa al-Fadani ia mendapat banyak sanad kitab yang bersambung kepada mushannifnya. Begitu juga dengan putranya, Kiai Abdullah Ubab dan Kiai Muhammad Najih ketika belajar di Makkah kepada Sayyid Muhammad Al-Maliki.
Kembalinya ke tanah air ia tak langsung turun tangan untuk mengajar, kehausannya terhadap ilmu masih menggebu-gebu. Ia lanjutkan untuk mengaji kepada para ulama terkenal kealimannya yang bertebaran di Indonesia, seperti Kiai Asnawi Kudus dan Kia Abu Fadlol Senori.
Mbah Maimoen tidak mempunyai niat untuk mendirikan pesantren. Sepulangnya dari belajar ia dinikahkan dengan Ny. Fahimah Baidhowi dan pada tahun 1953 M. ia dibuatkan rumah di seberang utara jalan Pantura. Kemudian atas bantuan Kiai Ahmad bin Syuaib dan perintah dari ayahnya, berdirilah Musollah yang menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Al-Anwar. Setelah musollah berdiri pada tahun 1964 M. banyak santri yang mengaji kepadanya, beberapa juga menetap. Santri-santri itu menyebut musollah Mbah Maimoen dengan sebutan POHAMA “Pondok Haji Maimoen”.
Karena kealiman Mbah Maimoen, pesantrennya berkembang dengan pesat. Santrinya semakin banyak, sampai berdiri Pondok Pesantren Al-Anwar yang kelak berkembang pesat. Sekarang pondok yang didirikannya mempunyai empat cabang. PP. Al-Anwar 1 dengan basis salaf. Sementara Al-Anwar 2, 3, dan 4 berbasis formal tanpa menghilangkan tradisi ngaji kitab-kitab ulama salaf.
Mbah Maimoen adalah ulama yang semangat menyebarkan ilmu agama kepada santri-santrinya. Sejak pulangnya dari menuntut ilmu sampai akhir hayatnya ia tidak absen memberikan ilmu kepada santrinya. Ia juga mengadakan pengajian khusus masyarakat umum pada hari Ahad di Musollah Al-Anwar yang diisi dengan Kitab Tafsit Jalalain. Semangatnya dalam mengajarkan ilmu keagamaan tak pernah kendor hingga kemudian ia berangkat haji yang terakhir kalinya pada tanggal 26 Juli 2019. Lalu, Ia wafat hari Selasa pada tanggal 06 Agustus 2019 di Makkah.
Sebelum meninggalnya, ia sempatkan sowan kepada cucu gurunya, Sayyid Alawi Al-Maliki. Lalu sang Sayyid berkata “Barang siapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah Kiai Maimoen Zubair.” Mendengar doa mulia itu. Mbah Maimoen langsung mengamini seraya menangis.
Sebagian dari buku ini sudah dibahas dalam buku Amirul Ulum sebelumnya. Selain itu, yang menjadi keunggulan dari buku ini, penulis mengambil sumber dari wawancara langsung terhadap KH. Maimoen Zubair serta putra-putranya dan rangkuman pengajian Mbah Maimoen. Ada tambahan dari cetakan sebelumnya, terdapat bab yang khusus menjelas cerita wafatnya Mbah Maimoen, baik sejak pemberangkatan sampai dikebumikannya di Ma’la, Makkah.
Sumenep, 2020
*) Santri Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang

