Lenteng, NU Online Sumenep
Desa memiliki banyak sekali potensi yang masih belum dimanfaatkan atau belum diolah secara baik, terutama pada sektor wisata. Setiap desa memiliki potensi yang kadang masyarakat sekitarnya belum melihat potensi tersebut. Padahal sektor pariwisata merupakan salah satu sumber penghasilan dan mampu memberikan sumbangan yang sangat baik untuk kemandirian desa.
Hal itu disampaikan langsung oleh Anshori Ahmad selaku Ketua Kelompok 1 Posko 6 dalam kegiatan penelitian lapangan Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah Guluk-Guluk, Kamis (19/05/2022) di Dusun Toguluk Atas, Desa Ellak Laok, Lenteng.
“Akhir-akhir ini wisatawan beralih dari wisata konvensional ke wisata yang memiliki rasa peduli terhadap lingkungan, alam, dan budaya. Wisata yang memberikan penghargaan terhadap lingkungan, alam, dan budaya tidak lepas dari dukungan lingkungan yang berada di desa serta digerakkan untuk mendukung potensi wisata pedesaan,” katanya.
Menurutnya, potensi wisata lokal yang ada di desa memang akhir-akhir ini sangat diminati oleh wisatawan yang rindu pada alam terbuka, interaksi dengan lingkungan, dan masyarakat lokal.
“Seperti desa yang kami teliti saat ini menyimpan banyak potensi wisata, terutama potensi alamnya. Salah satunya di sana ada Gua Tijar dan pemandangan alam yang eksotis,” terang Siswa Kelas XII Bahasa MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk itu.
Pria asal Kalianget Barat, Kalianget ini juga menyatakan suatu wilayah wisata pasti memiliki daya tarik yang berbeda satu sama lainnya. Setiap desa bisa menjadi sebuah tempat wisata jika masyarakat, organisasi, dan pemerintah dapat mengolah potensi yang dimiliki oleh desa.
“Daya tarik setiap desa dapat terlihat secara langsung atau membutuhkan upaya untuk menggali kembali. Daya tarik desa wisata bisa berupa potensi alam seperti gunung, danau, sungai, pantai, laut, atau potensi budaya seperti adat-istiadat, museum, benteng, situs peninggalan sejarah, juga potensi buatan manusia,” jelasnya.
Santri Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk ini juga mengungkapkan beberapa langkah dalam upaya menggali potensi menjadi desa wisata.
“Pertama, melakukan pemetaan desa. Pemetaan desa dilakukan untuk mengidentifikasi potensi dan masalah yang terdapat pada desa. Untuk mengetahui tempat yang memiliki potensi sebagai destinasi wisata dan permasalahan apa saja yang ada,” ungkapnya.
Langkah kedua dalam menemukan potensi desa wisata adalah melakukan analisis karakteristik dan ukuran keberhasilan pengembangan desa wisata berbasis masyarakat.
Langkah ketiga yaitu merumuskan pola pengembangan untuk mendapatkan hasil dari analisis sebelumnya dan untuk mendiskripsikan pola pengembangan yang akan dilaksanakan.
Langkah keempat adalah melakukan analisis sistem dan elemen kepariwisataan. Analisis ini meliputi daya tarik wisata, akomondasi, insfrastruktur, promosi, minat wisatawan, dan masyarakat.
“Setelah menentukan potensi yang dimiliki desa, pemerintah bergerak bersama masyarakat untuk menjadikan desa wisata karena memiliki produk pariwisata atau yang disebut dengan destinasi wisata. Destinasi berkaitan dengan sebuah tempat atau wilayah yang memiliki sebuah keunggulan atau ciri khas untuk menarik wisatawan,” tegas Anshori.
Ia menjelaskan, ciri khasnya bisa secara geografis atau budaya, seperti pegunungan, laut, bukit, hamparan savana, budaya lokal seperti tarian lokal, perayaan adat, dan sebagainya.
“Untuk membuat sebuah destinasi wisata yang unggul, sebelum sebuah destinasi diperkenalkan dan dioperasikan seperti halnya desa wisata, terlebih dahulu harus mengkaji empat aspek utama (4A) yang harus dimiliki, yaitu attraction (daya tarik), accessibility (aksesibilitas/keterjangkauan), amenity (fasilitas pendukukung), dan ancilliary (organisasi atau kelembagaan pendukung),” sambungnya.
Di akhir penyampaiannya, ia menambahkan, destinasi wisata sebagai daya tarik wisatawan untuk berkunjung dan menikmati sangat penting untuk diperhatikan karena nilai jual dari tempat wisata adalah destinasinya.
“Mengelola potensi desa untuk dijadikan tempat wisata merupakan hal yang cukup sulit jika seluruh masyarakat tidak ikut mengambil peran dalam mengelola. Meskipun memiliki potensi yang sangat baik tetapi lingkungan masyarakat tidak mendukung, bisa jadi seluruh potensi tersebut tidak memiliki hasil atau malah akan diambil oleh kelompok dari luar desa sendiri. Prinsip pengembangan desa wisata adalah sebagai salah satu produk wisata alternatif yang dapat memberikan dorongan bagi pembangunan desa yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Editor : Firdausi

