Image Slider

NGALIM NYONTEK

Ngalim: “Maaf Pak, boleh saya minta waktu sedikit?”

Pak Ahmad: “Boleh, ada apa kelihatannya serius banget?”

Ngalim: “Anu…Pak, mmm… saya mau nanya, kenapa nilai Kaidah Fiqh saya kok jelek. Padahal jawaban yang saya tulis persis yang ada dalam kitab?”

Pak Ahmad: “Sebelum saya jawab pertanyaan itu, saya mau nanya dulu sama sampean. Benar sampean nyontek?”

Ngalim: “Sebenarnya tidak tepak kalau Bapak pakai istilah nyontek. Wong saya tidak sembunyi-sembunyi. Karena saya kira kemarin itu open book.”

Pak Ahmad: “Nah itu sebabnya, Lim. Sya juga tidak habis pikir, kenapa sampean berani membuka buku dengan terang-terangan begitu. Padahal nilai hariannmu kan bagus.”

Ngalim: “Begini, Pak. Sebenarnya saya tidak bermaksud nyontek. Tapi karena lembar soal tidak ada keterangan ujian ini tertutup, maka saya buka kitab. Kan al-ashlu fil-asyya’i al-ibahah hatta yadulla dalilun ‘ala-t-tahrimi; asal sesuatu itu boleh sampai ada petunjuk yang melarangnya?”

Pak Ahmad: “Kalau ceritanya begitu, saya minta maaf, Lim. Dalam masalah ini, saya tidak memakai kaidah yang sampean sebut tadi. Saya memegangi kaidah sebaliknya, yang dipakai Imam Abu Hanifah,  al-ashlu fil-asyya’i at-tahrimu hatta yadulla dalilun ‘ala-l-ibahah; asal sesuatu itu haram sampai ada petunjuk yang membolehkannya. Dan dari dulu kaidah itu tidak pernah saya tulis.”

Ngalim: “Oooh… kalau begitu, saya permisi, Pak.”

Sumber: Hamzah Sahal, Humor Ngaji Kaum Santri, LKiS, 2005. Hal. 5

 

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga