Image Slider

Nyala Kreatifitas: Membaca Masalah yang Belum Tuntas

Oleh: Aldi Hidayat

Gus Dur pernah berkata, “Indonesia tidak krisis orang pintar, tapi krisis orang kreatif”. Apa bedanya pintar dan kreatif? Pintar biasanya dikaitkan dengan orang yang berprestasi dalam dunia akademik. Ironisnya, pengertian tersebut terbatas pada kecerdasan logis-matematis (memahami materi sekolah dan kuliah) dan linguistik (berbahasa, entah lisan atau tulisan). Terkait hal ini, Indonesia sejatinya tidak kekurangan. Tidak hanya berpestasi pada ranah regional dan nasional, tetapi tembus ke ranah internasional. Kendati demikian, mengapa Indonesia tetap belum maju? Dalam hal filsafat, nyaris tidak ada tokoh bangsa yang memberi sumbangsih teori baharu dan memukau. Dalam bidang teknologi transformasi, hampir seluruhnya mengimpor dari mancanegara. Dari sudut ekonomi, bangsa masih terkatung-katung. Dr. K.H. M. Afif Hasan dalam bukunya, “Questionaire Konsistensi Keaswajaan”, memaparkan bahwa hutang luar negeri Indonesia pada periode pertama presiden Jokowi melampaui angka 5 triliun USD (Dolar Amerika Serikat). Lain lagi dengan masalah pengangguran tiap tahunnya. Lain lagi dengan tradisi korupsi yang tentu saja salah satu faktornya ialah krisis ekonomi. Masih banyak lagi masalah bangsa ini, padahal orang-orang pintar bertebaran di mana-mana. Ada apa gerangan?

Seperti kata Gus Dur, Indonesia kekurangan orang kreatif. Apa itu kreatif? Kreatif ialah kemampuan menciptakan hal baru yang betul-betul menarik dan menguntungkan. Kurangnya kreatifitas bangsa terlihat misalnya dari fakta bahwa mahasiswa jurusan ekonomi setelah wisuda bukan menjadi pengusaha, melainkan menjadi guru ekonomi atau tidak sama sekali. Jebolan jurusan teknik hanya menjadi pekerja suatu pabrik atau perusahaan lainnya, bukan menjadi pendiri pabrik baru atau lain semacamnya. Lulusan jurusan sosial bukan menjadi tokoh yang bisa membaca kenyataan secara lebih jernih, namun sekadar menjadi guru yang tugasnya hanya mengutip pandangan tokoh-tokoh dari luar, bukan mencetuskan teori baru yang lebih hebat. Penyebutan contoh ini bukan bertujuan menghina, tetapi sekadar menunjukkan betapa kreatifitas bangsa adalah sesuatu yang sangat kentara.

Di Madura saja, sumber daya alam sangat melimpah, namun pemberdayaan masyarakat atasnya mohon maaf masih itu-itu saja. Sekadar amtsal, petani tidak memiliki jaminan untuk kaya. Jika ingin kaya maka merantaulah ke Jakarta, Malaysia, Saudi Arabia dan lain sebagainya. Tiadanya potensi kaya bagi petani bukan lantaran sumber daya alam tidak menjanjikan, namun kita terlalu minim kreatifitas, sehingga tidak dapat membaca peluang yang ada. Hal yang sama juga menimpa para nelayan. Menurut penuturan aparatur desa Tanjung ketika penulis melaksanakan KKN di sana masyarakat lebih suka menjual hasil melautnya secara borong, bukan dikelola lebih baik dan lebih kreatif lagi. Akibatnya, ekonomi daerah tersebut belum menjanjikan. Pada akhirnya, merantau menjadi tujuan.

Akhlak yang dikoar-koarkan dalam lembaga selama ini terbatas pada pengertian sopan-santun. Akhlak tidak sesederhana itu. Akhlak yang sebenarnya adalah bagaimana kita menyejahterakan umat lahir-batin. Dan ini tidak cukup dengan ramah-tamah kepada orang, tetapi mewujud aksi kreatif bagaimana pengetahuan yang ditabung selama ini dapat mengentaskan umat dari belenggu pengangguran, kemiskinan, kelaparan dan hal lain yang seragam.

Guna membangun kesadaran tentang kreatifitas, penulis akan menyodorkan segelintir saran. Pertama, jangan mau terpenjara anggapan umum. Anggapan umum salah satunya adalah bahwa jika ingin sejahtera, maka merantaulah. Kita mesti yakin bahwa sumber daya alam atau potensi pribadi sangat menjanjikan. Contoh, tembakau hanya dibuat menjadi rokok. Apakah tembakau hanya untuk itu? Bukankah pasti ada manfaat lain yang bisa menjamin kesejahteraan ekonomi? Bagaimana membuktikannya? Tentu saja, mereka yang lulusan IPA mesti meneliti lebih lanjut tentang manfaat apa lagi dari tembakau? Setelah ditemukan, akan dikemanakan hasil penelitian tersebut? Tidak menutup kemungkinan bahwa tembakau bisa menjadi obat sering tidur dan lain-lain.

Kedua, prinsip integrasi yakni menyatukan aneka keahlian. Ceramah biasanya berlangsung 1 atau paling banter 2 jam. Habib Husein Ja’far al-Hadar meracik ceramah baru. Beliau memadukannya dengan konser musik dan stand up comedy (lawak). Hasilnya, ceramah tersebut berlangsung selama 8 jam, bahkan hasil donasi hadirin mencapai 100 juta. Gagasan ini layak dilanjutkan. Ceramah di Madura ke depan bisa berupa perpaduan antara ceramah, konser musik dan ludruk. Tentu saja, mesti ada kecanggungan sosial. Dalam artian, musik dan ludruk yang dipentaskan tidak bertentangan dengan ceramah. Ini memang langka. Akan tetapi, bukankah sesuatu yang besar berawal dari langka untuk kemudian menjadi luar biasa? Islam pada mulanya langka, tapi waktu lantas membuktikan sebaliknya. Demikian. Wallahu a’lam.

*) Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Sumenep

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga