Oleh: Lukmanul Hakim
Mengkaitkan pesantren dengan tasawuf bukan suatu hal yang sulit. Pada lembaga pesantren mengajarkan agama Islam sebagai pedoman hidup atau sering juga disebut Tafaqquh fi al-Din dengan menekankan kehidupan moral dalam masyarakat. Karena memiliki usia yang cukup tua dan lama, pesantren sering disebut lembaga pendidikan Islam tradisional. Dari ketradisionalan ini sering dihubung-hubungkan dengan kenyataan bahwa pesantren masih sangat terkait dengan pola pemikiran ulama-ulama salaf seperti ulama ahli fiqih, tafsir, hadits, tauhid, dan tasawuf yang tentunya menekankan pentingnya karakter atau akhlak keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.
Sedangkan pondok pesantren, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab Islam klasik, dan kiai adalah merupakan elemen dasar dari pondok pesantren. Adapun kiai merupakan unsur yang paling penting dari suatu pesantren, bahkan seringkali merupakan pendirinya. Nampak ada kesamaan dalam hal orientasi antara pesantren dan tasawuf, yakni sama-sama berorientasi keakhiratan.
Di samping itu, kepentingan dunia adalah sekunder, sehingga segala urusan di dunia diorientasikan untuk mendekatkan diri dan menemukan Tuhan yang berarti menemukan kebenaran atau istilah dalam tasawuf ialah Haqiqah. Jika dilihat dari segi orientasi, pengelolaan, interaksi di dalamnya, kepemimpinan dan sebagainya, terlihat jelas ajaran tasawuf sangat terrefleksi dalam pesantren.
Sistem pendidikan yang menyeluruh, di mana santri harus bisa dan selalu berusaha untuk menerapkan segala yang dipelajari di pesantren dalam bentuk perilaku, jelas mengindikasikan ini.
Semangat kebersamaan, pengembangan rasa ikhlas, qanaah, jujur dan sebagainya, serta semangat ke-Tuhanan yang demikian tinggi menjadikan dirinya sulit untuk memisahkan diri dari tasawuf. Di pesantren, tasawuf menemukan tempat untuk bersemi, sampai keluar lingkungan pesantren, sehingga terjadi interaksi antara nilai-nilai tasawuf dengan nilai-nilai budaya lokal.
Dengan demikian, pesantren juga menjadi medium terbentuknya Islam kultural di Jawa -Madura khususnya, dan Indonesia umumnya. Posisi yang sentral demikian ini, pada tataran tertentu telah menjadikan pesantren sebagai pembentuk kultur Islam di Indonesia.
Dalam konsep zuhud sebagai maqam, dunia dan Tuhan dipandang sebagai dua hal yang dikotomis. Contoh yang jelas adalah ketika Hasan Al-Bashri mengingatkan kepada khalifah Umar Ibn Abd. Aziz: “Waspadalah terhadap dunia. Ia bagaikan ular yang lembut sentuhannya namun mematikan bisanya. Berpalinglah dari pesonanya, karena sedikit saja terpesona, anda akan terjerat olehnya.”
Zuhud adalah masalah jiwa, bukan masalah fisik. Pekerjaan fisik itu adalah masalah aktivitas anggota badan, sedangkan zuhud merupakan pekerjaan ruhani atau hati. Dengan demikian, zuhud tidak boleh mengurangi aktivitas fisik.
Begitu pula aktivitas fisik tidak boleh mengurangi zuhud. Orang yang sedang bekerja atau melakukan aktivitas yang berhubungan dengan dunia, tidak berarti dia tidak zuhud. Begitu pula orang yang tidak bekerja dan hanya berdiam diri, tidak berarti ia orang zuhud. Ada atau tidaknya aktivitas fisik, tidak menandakan ada atau tidak adanya zuhud dalam hati.
Penerapan jiwa kesederhanaan juga diajarkan di pesantren, sederhana bukan bermakna miskin, bukan bermakna tidak punya harta. Sederhana itu sikap yang wajar terhadap harta, sesuai kebutuhan dan tidak berlebih-lebihan.
Sederhana di sini bukan bermakna pasif atau nrimo, juga bukan bermakna miskin dan melarat. Justru dalam jiwa kesederhanan terdapat nilai-nilai kekuatan, ketabahan, kesanggupan, dan penguasaan diri dalam menghadapi permasalahan hidup.
Di balik kesederhanaan ini terpancar jiwa besar, berani maju, dalam menjalani hidup tanpa pantang mundur dalam segala situasi, bahkan akan menumbuhkan mental yang kuat dan karakter yang Islami. Sehingga, pertumbuhan dan kemajuan pondok pesantren tergantung kepada gaya kepemimpinan kiai atau pengasuhnya sebagai tokoh kunci yang memberikan pengajaran, kebijakan, arahan, dan aktifitas di dalam kehidupan pondok pesantren.
*) Wisudawan Terbaik Tingkat Institut di Instika Guluk-Guluk Tahun 2021, Mahasiswa Prodi PAI Program Pascasarjana Instika Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Guluk-Guluk, dan Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Tahun 2014-2021.

