Guluk-Guluk, NU Online Sumenep
Mensyukuri kemerdekaan Indonesia yang didapatkan melalui perjuangan, bukan karena pemberian, adalah suatu keharusan. Sebagai generasi bangsa yang diwarisi nikmat kemerdekaan oleh para pahlawan, sudah selayaknya dijaga dan dipertahankan dengan sungguh-sungguh.
Penegasan ini disampaikan KH Muhammad Shalahuddin A Warits, Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, saat mengisi Orasi Kemerdekaan di acara Haul Syuhada KH Abdullah Sajjad yang diselenggarakan oleh PAC GP Ansor Guluk-Guluk, di Lapangan Kemisan. Ahad, (27/8/2023).
Pria yang akrab disapa Kiai Mamak ini mengingatkan, bahwa acara besar yang dihelat itu jangan lantas membuat lupa untuk bersyukur. Sebab, berkumpul bersama, mengenang perjuangan Kiai Sajjad dalam melawan penjajah adalah bentuk kebanggaan.
“Bahwa kita memiliki pahlawan kemerdekaan. Lahir, berjuang dan syahid melawan penjajah di Guluk-Guluk ini. Tak lain adalah KH Abdullah Sajjad,” ungkapnya.
Rasa syukur yang diwujudkan dalam bentuk kebanggaan menjadi sangat penting ditanamkan. Mengingat, saat ini, masyarakat sudah mulai dicerabut dari akar sejarahnya sendiri. Sehingga silau dengan hal-hal lain yang justru jauh dari realitas kehidupan masyarakat di sekitarnya.
“Kita mulai diperlihatkan ke hal-hal yang lebih menarik yang asalnya dari luar. Seperti smartphone, dulu televisi, bangga dengan barang-barang itu yang asalnya dari jauh sana. Tetapi kita terkadang lupa untuk membanggakan hal-hal yang ada di sekitar,” tambahnya.
Hal itu juga terjadi pada aspek sejarah kemerdekaan. Dimana masyarakat dibuat silau hingga akhirnya berbangga dengan pahlawan-pahlawan nan jauh. Namun pahlawan yang ada di sekitar kehidupan sendiri sering dilupakan kiprahnya. Padahal ia sangat memiliki akar sejarah yang kuat dengan kehidupan masyarakat sekitar.
Kiai Mamak menegaskan, bahwa apa yang disampaikan tidak lantas menafikan kiprah dan perjuangan para pahlawan. Tetapi justru kebanggaan terhadap apa yang ada di kejauhan membuat lupa mensyukuri dan membanggakan pahlawan sendiri.
“Jangan sampai lupa bersyukur, bahwa kita punya kebanggaan yang ada di sekitar kita, kepunyaan kita sendiri. Yakni masyaikh kita sendiri. Harus kita tunjukkan, jangan sampai mengurangi rasa syukur kita,” terangnya.
Kegiatan yang digelar oleh MWCNU dan GP Ansor Guluk-Guluk, menurut Kiai Mamak, adalah wujud syukur dan kebanggaan terhadap pahlawan sendiri. Itulah yang menjadi esensi daripada mempertahankan kemerdekaan.
Dikisahkan Kiai Mamak, bahwa Sang Syahid, Kiai Sajjad wafat pada 1947. Menghembuskan nafas terakhir karena harus berurusan dengan penjajah. Karenanya, Pengorbanan besar yang dilakukan Kiai Sajjad, mulai dari harta, benda, jiwa hingga raga, jangan sampai dilupakan karena silau dengan hal-hal menarik lainnya yang ada di kejauhan.
“Berbanggalah karena berada di situs bersejarah, memiliki pahlawannya sendiri. Dulu, di sekolah-sekolah banyak foto pahlawan ditempelkan. Tapi tidak ada pengingat, bahwa di sini ada pahlawan kita sendiri,” paparnya.
Sebagai suatu bangsa yang senantiasa mensyukuri kemerdekaannya, lanjut Kiai Mamak, sudah seharusnya berpegang teguh kepada nilai-nilai yang diwariskan oleh para syuhada. Salah satu upaya berpegang teguh kepada nilai-nilai itu diwujudkan dengan tidak melupakan akar sejarah.
“Kita ini malah dijauhkan dengan realitas kita sendiri. Sehingga kami titipkan, jangan lupakan akarnya,” pintanya.
Kiai Mamak lantas menyebut, bahwa sedari awal, pesantren, kiai dan santri selalu berada di garda terdepan dalam mengawal kemerdekaan. Namun demikian, ketika sudah merdeka, pesantren justru dilupan. Maka, ia meminta segala hal yang berkaitan dengan permasalahan Guluk-Guluk, seyogyanya para kiai dan pesantren dilibatkan untuk musyawarah.
“Saya titipkan, Guluk-Guluk kalau ada apa-apa mari dimusyawarahkan dengan Masyaikh. Libatkan Masyaikh untuk bermusyawarah demi kebaikan Guluk-Guluk ke depannya,” tandasnya.
Diketahui, Haul Syuhada Kemerdekaan KH Abdullah Sajjad ini dihadiri segenap Masyaikh Pondok Pesantren Annuqayah, Syuriah dan Tanfidziyah PCNU Sumenep, MWCNU Guluk-Guluk, lembaga pendidikan dan pesantren, serta ribuan masyarakat dan santri.
Editor: Abdul Warits

