Lenteng, NU Online Sumenep
Peringatan Isra’ Mi’raj hendaknya dijadikan oleh umat Islam sebagai kekuatan dan penambah semangat. Hal itu berdasarkan apa yang dialami Nabi Muhammad SAW yang mengalami kesedihan dan cobaan sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj.
“Bagaimana Rasulullah SAW menghadapi masalah besar, ditinggalkan oleh apa yang dicintai yaitu istrinya, Khadijah, yang memberikan dukungan dengan semangat, pikiran, dan harta kekayaannya,” ujar KH Toyyibul Irsyad saat mengisi Peringatan Isra’ Mi’raj Masjid Al-Musyarrafah Lembung Barat, Lenteng, Jum’at (18/02/2022) malam.
Kewafatan Siti Khadijah tersebut, membuat Rasulullah SAW seperti burung kehilangan satu sayapnya. Hanya dengan sayap sebelah menggambarkan betapa tidak mudahnya untuk terbang seperti biasanya.
“Lalu Rasulullah SAW juga ditinggalkan oleh pamannya, Abu Thalib yang selalu melindunginya,” lanjutnya.
Namun Rasulullah SAW kuat dan ikhlas sehingga dapat menghadapi semua cobaan tersebut. Allah SWT menghibur Rasulullah SAW melalui peristiwa Isra’ Mi’raj.
Hikmah dari peristiwa tersebut, bahwa peringatan Isra’ Mi’raj menjadi sumber energi bagi kita. “Seorang yang tadinya penakut menjadi pemberani, yang semula diam menjadi bergerak, dan yang tidak mengajak (kepada kebaikan) menjadi suka mengajak,” papar Pengasuh Pondok Pesantren Tanwirul Islam Sampang ini.
Namun, dakwah yang perlu dilakukan harus mengedepankan ajakan, bukan ejekan. “Dakwahnya mengajak, bukan mengejek,” ujarnya.
Kekuatan dalam menghadapi semua cobaan dan ujian juga harus menjadi pegangan umat Islam saat ini. Bagi warga NU yang dicoba dengan rongrongan dan upaya pecah belah oleh pihak-pihak yang membenci NU, ujian, dan cobaan penting dihadapi dengan tetap menjaga persatuan.
“Pertanyaan selanjutnya, mengapa peristiwa Isra’ Mi’raj ini spektakuler, karena perjalanan sangat jauh sementara waktu ditempuh sangat ringkas, bukan satu malam melainkan sebagian malam saja,” tanyanya kepada hadirin dan hadirat.
Maka dari itu, sambung Kiai yang berasal dari Sampang ini bahwa ketika Nabi Muhammad SAW menceritakan peristiwa yang dialaminya tersebut, hampir tidak ada yang percaya, karena tidak masuk akal suatu perjalanan dari Makkah ke Palestina hanya dilampaui selama setengah malam.
“Bahkan Abu Jahal dan Abu Lahab berkata, saudara-saudaraku penduduk Makkah, inikah Muhammad yang kau yakini sebagai Nabi, ternyata ia sudah gila. Katanya dari Masjidil Aqsa tadi malam, (tapi) hari ini ada lagi di Makkah,” ungkapnya.
Ketidakpercayaan mereka disebabkan pada masa itu kendaraan yang biasa digunakan adalah onta. Sedangkan perjalanan paling cepat dengan onta dari Makkah ke Palestina membutuhkan waktu satu bulan untuk pergi dan satu bulan untuk pulang, artinya memakan waktu dua bulan.
“Mereka tidak tahu bahwa perjalanan Isra’ Mi’raj ini bukan kehendak Nabi SAW melainkan kehendak Allah SWT,” pungkasnya.
Di kesempatan yang sama, Kiai Safrawi mengatakan dalam sambutannya bahwa kegiatan ini bertujuan melestarikan tradisi keislaman yang dibawa oleh para kiai, ulama, dan ustadz yang telah memberikan pendidikan kepada masyarakat.
“Besar harapan kami kepada para hadirin dan hadirat untuk selalu mengingat dan mengikuti jejak Rasulullah SAW sebagai nabi yang membawa misi Islam yang rahmatan lil alamin,” kata pengurus Takmir Masjid Al-Musyarrafah ini.
Peringatan Isra’ Mi’raj ini, kata Pengasuh Mushala Al-Muttaqin Lembung Barat ini, juga mengajarkan kepada kita untuk selalu menjaga dan memelihara shalat. Hal itu karena esensi dari perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha sampai ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat lima waktu.
Editor : Firdausi

