Image Slider

Ra Mamak Ulas Esensi Madrasah saat Dialog di Nasy’atul Muta’allimin Gapura

Gapura, NU Online Sumenep

Dewan Masyaikh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, bahas urgensi pendidikan di madrasah. Menurut Ra Mamak, sapaan akrabnya, hanya di madrasah pendidikan yang esensial diajarkan.

“Maka penting hadirnya madrasah untuk mengajarkan pendidikan yang esensial,“ ujarnya saat menghadiri acara Dialog Inspiratif bersama Guru Madrasah Aliyah (MA) Nasy’atul Muta’allimin, Gapura, di Aula KH Zubairi Marzuqi, Senin (6/6/2022).

Namun demikian, Kiai muda yang kini tengah menyelesaikan program doktoral di Yogyakarta itu mengatakan, bahwa saat ini banyak pendidikan agama Islam, akan tetapi tidak menggambarkan esensi nilai pendidikan agama Islam itu sendiri.

Oleh karenanya, menurut Ra Mamak, guru harus menjadi ta’lim bil-isyarah yaitu pendidikan dengan contoh, sebab pendidikan secara esensi adalah guru itu sendiri.

“Karena hanya guru yang bisa digugu dan ditiru,” tambahnya.

Dirinya pun mencontohkan Pondok Pesantren Annuqayah yang pada tahun 1933 pertama kali mendirikan Madrasah Muallimin dengan menggunakan kurikulum sendiri. Bahkan Annuqayah pada tahun itu sudah menggunakan Bahasa Indonesia.

“Karena guru harus selalu mengikuti perkembangan zaman, maka tahun 1933 berdirilah madrasah Tsanawiyah dan kemudian berdiri juga Madrasah Aliyah,” kisahnya.

Dari madrasah, lanjut Ra Mamak, para santri belajar menguatan tauhid, ilmu agama dan yang lain untuk kemudian juga mampu menjaga NKRI. Oleh karenanya, beliau berharap dalam konteks kekinian sanad keguruan madrasah mestinya juga harus terlembagakan.

“Madrasah itu pada awalnya ada di Tebuireng yang dimotori KH Hasyim Asy’ari. Dibentuk kelas untuk belajar kitab. Sehingga kini berkembang pesat dunia pendidikan yang berbasis madrasah. Sebab hanya di madrasah guru pejuang yang sebenarnya. Guru madrasah pejuang sejati, karena kalau mengajar di madrasah tidak ada tunjangan apa-apa, sementara kalau di sekolah mereka mendapat tunjangan gaji bulanan,” dawuhnya.

Lebih dari itu, menurut Ra Mamak, pendidikan di madrasah berkembang tidak kaku dan ruwet. Para santri bisa tidak seragam, bisa juga seragam. “Jadi santai, tidak ruwet,” katanya, sambil diikuti tawa para guru.

Di era yang serba kemajuan ini, Ra Mamak pun berpesan agar pendidikan di madrasah harus mengarah pada nilai-nilai dan pengalaman yang menyeluruh. Selain itu beliau juga menegaskan pentingnya akhlaqul karimah, karena proses berjalannya agama pasti diwadahi kebudayaan.

“Akhlakul karimah itu bukan hanya tingkah laku, akan tetapi lebih dari itu, yaitu nilai-nilai universal. Dari ini arah pendidikan sebenarnya adalah untuk membimbing bukan untuk mengubah. Makanya kalau santri mau jadi guru yang digugu dan ditiru pertama harus mengajar-bertani-berdagang,” ungkapnya.

Terakhir beliau berpesan agar madrasah tidak berdiri sendiri, tapi harus melibatkan lembaga lain, seperti para wali santri, lembaga ormas, dan lembaga penyiaran di media sosial.

Hadir dalam acara tersebut, jajaran guru di masing-masing jenjang pendidikan formal. Mulai dari PAUD, TK, MI, MTs. dan MA.

Editor: A. Warits Rovi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga