Kota, NU Online Sumenep
Pesantren sebagai salah satu sub-sistem Pendidikan Nasional yang indigenous Indonesia, bahkan dipandang oleh banyak kalangan mempunyai keunggulan dan karakteristik khusus dalam mengaplikasikan nilai etika bagi anak didiknya (santri).
Berangkat dari hal tersebut, Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Sumenep yang bekerjasama dengan Pascasarjana Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, menggelar Webinar dengan tajuk ‘Akar Historis Etika Pesantren di Nusantara’. Acara tersebut dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting dan luring digelar di ruang setempat, Sabtu (18/12/2021).
Penulis buku Akar Sejarah Etika Pesantren di Nusantara, KH Aguk Irawan MN selaku penyaji I membeberkan seluk beluk menyoal etika pesantren. Mulai dari segi historis, praktik, dan peran serta hubungan sebagai kultur sebuah pesantren. Berbagai sumber referensi ditelusuri kemudian digali demi sebuah bukti kesejarahan yang otentik.
“Persentuhan dengan berbagai kebudayaan yang sudah mengakar di Nusantara membuat kultur pesantren mengandung nilai-nilai etika yang beragam dan universal. Konsep dari etika tersebut menjadi identitas yang khas dari kultur pesantren. Perilaku hasil inkulturasi yang kemudian membentuk dasar etika itu masih dapat disimak pada beberapa pesantren di Indonesia. Sebut saja pada praktik barokah, ijazah, mematung atau membungkukkan badan, mencium tangan, selamatan, sowan, boyongan, dan sistem ma’had (asrama),” tuturnya saat mengawali penyajian.
Pengasuh Pondok Pesantren Baitul Kilmah Yogyakarta itu juga mengulas tentang ihwal barokah dari seorang guru dan ijazah terhadap ilmu.
“Anggapan ihwal barokah seorang guru, dan ijazah terhadap ilmu atau mantra yang diajarkan sudah menjadi manifes dalam realitas kehidupan masyarakat Nusantara sejak masa lampau. Kepercayaan ini menjadi tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Ditelusuri sesuai aspek kesejarahan, pada masa agama Hindu di Jawa dan Bali mayoritas masyarakat menganut ajaran Saiva-Siddharta. Aliran ini sangat esoteris, seperti yakin akan kemampuan guru sebelum menerima ilmu, dan pemberian ijazah yang telah diperoleh seorang murid,” jelasnya.
Beliau juga membahas sisi menarik dari pesantren berupa tradisi sowan kepada kiai dan boyong pasca belajar kepada kiai. Menurutnya, sejatinya telah membudaya pada tradisi masyarakat Hindu-Budha.
“Praktik sowan atau menghadap seorang yang menguasai ilmu pengetahuan untuk belajar, minta petuah, pendapat, serta pandangan atau hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan telah dilakukan masyarakat sejak berabad-abad silam. Kenyataan akan keberadaan praktik sowan dan boyongan ini terdapat dalam berita Tiongkok peninggalan abad ke VII dan ditemukan di Jawa Tengah, yakni prasasti Tuk Mas dan prasasti Sojomerto,” pungkasnya.
Sementara itu, H. Damanhuri yang didaulat sebagai penyaji kedua membicarakan tentang etika di pesantren. Menurut kacamatanya, ikhtiar mempertahankan tradisi adiluhur senantiasa dilakukan dalam lingkungan pesantren.
“Etika pesantren tradisional (salaf) memiliki akar dan jejak-jejak sejarah panjang mengacu ke peradaban pra-Islam yang dapat ditelusuri. Berawal dari uraian demi uraian dalam buku ini siapa saja bakal mendapat pemahaman bahwa etika pesantren adalah hasil inkulturatif dari kearifan lokal dan syariat Islam,” pengurus LPT NU Sumenep itu.
Wakil Rektor I Instika Guluk-Guluk itu mengatakan bahwa buku yang ditulis oleh KH Aguk Irawan MN memberikan keterangan antropologis tentang etika pesantren itu sendiri.
“Buku hasil konversi dari Disertasi Aguk Irawan ini begitu kaya akan informasi. Keberhasilan Aguk Irawan dalam menghadirkan keterangan antropologis memberi penerangan bahwa etika pesantren itu bukanlah suatu sistem yang memaksakan kebudayaan. Buku penting untuk mengenal pesantren lebih dekat,” tandasnya.
Pewarta: Lukmanul Hakim
Editor: Firdausi

