Cerpen: M.Z. Billal
Malam ini ia memutuskan tidak berangkat. Ia mengirim pesan pembatalan janji kepada seseorang lalu menonaktifkan ponselnya. Ia merasa lelah. Belakangan dadanya dipenuhi perasaan tidak biasa. Seperti perasaan bersalah tapi juga kangen pada semua kenangan masa-masa sebelum ia terjebak keadaan. Ia ingin pulang kampung tapi hatinya masih berlimpah kegelisahan.
Maka di kamarnya yang sempit, ia menulis sepucuk surat untuk seseorang yang tidak pernah ia temui tapi dirindukan jutaan manusia. Entah kenapa tiba-tiba ia sangat merindukan seseorang itu. Padahal, karena kesibukannya, ia lebih sering tidak peduli kepada siapa pun. Ia tidak tertarik pada nasihat-nasihat bijak. Apa lagi yang beraroma religius. Ia betul-betul tidak suka orang menasihatinya. Menurutnya, menasihati orang itu mudah, cukup menyusun kata-kata manis agar orang terkesima dan jantung berdebar. Jujur ia memang kerap terperangkap perasaan-perasaan yang tercipta dari nasihat-nasihat itu. Namun apabila ia kembali pada kenyataan, hidupnya sehari-hari, seluruh nasihat itu terdengar seperti lelucon. Saat ia susah dan merasa sangat sedih tidak satu pun ada yang mau membantunya. Jadi, bukankah nasihat itu kadang lebih terdengar seperti umpatan halus untuk orang-orang yang berada di titik nadir kehidupan? Pikirnya demikian.
Namun barangkali munculnya perasaan tidak biasa itu disebabkan oleh Sahara. Ia yakin betul gadis kecil berjilbab putih itulah yang mengalirkan perasaan asing yang kini lebih sering membuat jantungnya berdegup cepat dan kakinya gemetar. Gadis yang kerap melintas di jalan depan rumah sewanya jelang petang menuju surau bersama teman-temannya, tatkala ia hendak berangkat ke tempat janji bertemu dengan seseorang. Gadis itu mengingatkan ia pada putri kecilnya di kampung. Yang sudah dua tahun tidak pernah ia ajak bicara melalui telepon. Ia merasa anaknya tidak perlu tahu bagaimana keadaannya. Cukup ia tetap bertanggung jawab dengan mengirimkan sejumlah uang perawatan kepada orang tuanya yang dengan ikhlas mengasuh putrinya itu.
Sahara, gadis kecil berjilbab putih itu, mirip sekali dengan putrinya, Hana. Walau tentu saja ia tidak benar-benar tahu seperti apa Hana sekarang. Namun melihat Sahara, putri kecil Ustaz Maarif dari beranda rumahnya itu, membuat ia betul-betul jadi merasa dekat dengan buah hatinya. Apa lagi saat terakhir kali ia menelepon, ibunya mengatakan kalau Hana sudah pandai mengaji. Tahun depan ia akan masuk SD. Ia jadi bertambah rindu dan semakin kuat untuk pulang kampung.
Namun, sekali lagi, ia merasa belum pantas untuk kembali ke kampung halamannya. Sejak ia memutuskan bercerai dari pria yang membuatnya mengandung Hana di luar ikatan pernikahan, ia pergi ke kota. Tidak pernah kembali, bekerja apa saja. Mulai dari tukang cuci piring di rumah makan, pelayan di warung kopi, buruh cuci pakaian, hingga akhirnya ia bertemu perempuan di persimpangan jalan pada suatu malam yang hening. Perempuan berpakaian serba ketat itu mengajaknya untuk menjalankan bisnis bersama. Sebuah bisnis yang bisa dengan cepat menghasilkan uang banyak hanya dalam semalam. Bisnis yang awalnya ia tolak mentah-mentah tapi kemudian ia jalani terus-menerus dari satu malam ke malam yang lain. Bisnis paling jahanam yang pernah ia lakukan.
Ia menjajakan tubuhnya kepada pria-pria haus gairah di persimpangan jalan kota pada malam hari, sampai memenuhi janji bertemu dari satu penginapan ke penginapan yang lain. Semua ia lakukan demi mendapatkan banyak uang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya di kota dan mengirimkan sebagian untuk orang tuanya di kampung. Ia mengesampingkan rasa lelah dan pelajaran moral yang ia dapatkan semasa sekolah dulu. Masa bodoh bahwa dunia asing nan kelam yang ia jalani akan menjebaknya. Ia betul-betul tidak peduli asalkan ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.
Akan tetapi, entahlah, belakangan ia mulai merasa tidak ingin meneruskan kehidupan gelap itu. Dadanya berlimpah ketakutan dan rasa cemas. Terlebih saat ia kerap melihat Sahara yang ceria, dadanya seperti tersulut perasaan yang membakar tubuhnya sendiri dalam api sesal yang berkobar. Ia sudah tidak tahan mendengar gosip-gosip, celaan, dan tudingan yang tidak salah kepada dirinya. Segala hujatan yang ditujukan pada dirinya tidak keliru. Benar adanya. Selama ini ialah yang mahir menyembunyikan kebusukan dirinya sendiri. Dan ketika semua itu mulai terkuak, ia tidak berdaya. Tidak pula ingin marah. Yang ia inginkan hanyalah sebuah pelukan dari sesuatu yang telah lama ia tinggalkan. Tuhan dan lelaki suci tempat seluruh umat kelak akan mengharapkan pertolongannya. Lelaki utusan pencipta semesta yang semua orang muslim memanggilnya Muhammad.
Ia pun lantas meneteskan air matanya. Malam mulai beranjak tua. Usai menonaktifkan ponselnya, ia bergegas bersalin pakaian. Seluruh gaun ketatnya ia kemasi ke dalam kantong plastik besar. Riasan yang melekat di wajahnya pun ia hapus bersih. Lalu ia segera mengenakan baju tidur lengan panjang dan sepotong kain penutup kepala. Jilbab satu-satunya yang ia miliki. Itu pun ia bawa dari kampungnya dulu. Sebab setelah ia memutuskan melepas jilbab, ia tidak pernah mengenakan kain penutup aurat itu lagi, bahkan membeli yang baru pun tidak.
Kemudian ia duduk di meja rias. Di atas lembar buku catatan kecil yang ia ambil dari dalam laci lemari pakaian, ia lantas mulai menulis sebuah surat yang ditujukannya untuk seseorang. Sebuah surat yang makin membuat hatinya kian tidak karuan. Ia sadar hal ini tidak akan mengurangi seluruh dosanya. Namun ia merasa sangat perlu mencurahkan isi hatinya kepada orang itu meski hanya bisa melalui sebuah catatan yang tidak akan pernah berharga di mata manusia manapun.
“Assalamualaikum, Baginda Nabi.” Ia membuka surat itu dengan ucapan salam. “Sungguh tidak layak aku menulis surat tercela ini kepadamu. Aku adalah cermin retak yang memantulkan segala jenis dosa dan perbuatan hina. Aku adalah bulir terkecil dari pasir pantai yang tercipta di muka bumi dan diterjang ombak raksasa. Aku adalah pembunuh bayanganku sendiri yang menyedihkan. Aku adalah apel busuk yang jatuh ke dalam selokan penuh kotoran. Aku adalah noda tinta paling tidak bisa dibasuh oleh jenis air apa pun. Aku adalah burung yang membawa kutukan dan mematuk-mematuk, memakan pengkhianatan. Dan aku adalah bahan bakar jahanam yang saat ini sangat takut terbakar di sana pada suatu masa kelak.” Air matanya pun menetes, menciptakan sebuah lingkaran di atas kertas surat itu.
“Wahai, Nabi. Tanpa aku menceritakan perkara hidupku, sebetulnya engkau dan Tuhan telah menyaksikan ini. Kau melihat aku memilih jalan lain yang gelap dan menakutkan, ketimbang jalan lurus berlimpah cahaya dan ketenangan. Aku sungguh tidak patut hidup sebagai manusia, apa lagi perempuan. Aku tidak menjadikan perempuan-perempuan saleh sebagai panutan. Aku berbuat keji pada diriku sendiri. Aku bermukim di lembah kelam, yang di sana pun hanya ada suara-suara nafsu dan ketidakpercayaan kepada risalahmu dan Dia Yang Maha Memberi. Aku kehilangan akal. Lebih gila dari orang-orang yang kehilangan kewarasannya.”
“Nabi tercinta, masihkah aku memiliki kesempatan untuk berbenah diri? Masihkah aku layak menemui ayah dan ibuku, putri kesayanganku, dan menyapa seluruh orang-orang baik setelah seluruh kenistaan menyungkup raga dan perasaanku sekian lama waktu berlalu? Lalu, masihkah aku berhak menjadi perempuan dan membersihkan diri dari seluruh noda menjijikkan yang melekat erat di tubuhku yang hina ini?”
“Wahai, Nabi. Demi malam yang tenang dan waktu pagi yang senantiasa menyertaimu dalam seluruh kebaikan, aku tidak menginginkan apa-apa, selain engkau senantiasa membimbing aku kembali kepada perjalanan langkah kaki menuju gerbang tempat orang-orang bertaubat dan menerima sentuhan kecil syafaatmu di padang persidangan kelak.”
Kemudian ia menutup buku catatannya seraya berurai tangis. Ia tahu seluruh kata-kata yang ia tulis dalam buku itu belum cukup untuk sebuah pengakuan dosa atas seluruh perbuatan buruknya. Surat itu dipenuhi kehinaan dan tidak pantas dibaca oleh seorang nabi suci seperti Nabi Muhammad. Rasanya ia ingin meledak saja. Meledak oleh rasa sesal, malu, dan benci pada diri sendiri. Ia merasa telah sangat lancang mencurahkan isi hatinya kepada seorang nabi.
Akan tetapi, sekali lagi, ia hanya ingin mengakui banyak hal yang ia sembunyikan. Rahasia kotor tentang seorang perempuan yang merendahkan martabatnya sendiri. Itu saja. Jadi semisal dalam waktu dekat ia mati, ia harus merelakan dirinya diseret ke dalam api terpanas dan paling abadi. Kendati ia tidak akan pernah siap untuk itu.
Lalu ia berhenti menangis. Menatap wajahnya yang basah di cermin. Ada rasa tidak sudi melihat sepasang matanya sendiri. Sampai kemudian ia mendengar ketukan di pintu depan beberapa kali dan jantungnya mulai berdebar aneh lagi.
Siapa yang mengetuk pintu lewat tengah malam begini? Ia bertanya-tanya sendiri. Ada rasa takut yang menyertai rasa penasarannya. Sebelumnya tidak pernah ada yang mengunjungi rumahnya, terlebih pada malam hari. Ia tidak begitu memikirkan soal hantu atau jin yang berniat mengganggu. Sebab hantu tidak akan mengusik perempuan penuh dosa seperti dirinya. Ia justru cemas semisal pelanggan yang ia tolak bertemu nekat menyambangi rumahnya dan melakukan tindakan pemaksaan untuk dilayani. Hal itu akan memperburuk keadaan.
Ia betul-betul semakin takut dan merasa terancam. Ia sungguh tidak ingin kembali pada jalan sesat sebagai perempuan yang menjual tubuh demi uang. Akan tetapi, ia juga merasa harus tahu siapa yang berani mengetuk pintu rumahnya. Masa bodoh siapa pun yang datang, ia harus lihat. Maka ia putuskan saja untuk bergegas ke pintu depan dan membukanya perlahan.
Ia pikir dirinya akan mendapati sebuah ancaman dan makian dari seseorang yang berada di luar. Semisal pria yang biasa menyewa jasanya sebagai pemuas berahi. Tapi ternyata tidak. Semua diluar dugaan. Alih-alih seorang pria gemuk yang suka membayar mahal dirinya, ternyata seorang wanita berpakaian serba putih berdiri di sana dan menatap lekat ke wajahnya. Wanita itu tak berhenti tersenyum meski ia sudah membalas tatapannya.
“Anda siapa?” tanyanya gugup, sambil mengedarkan pandangannya ke pekarangan rumah. Hatinya makin penasaran. Kenapa ada seorang wanita berpakaian putih datang ke rumahnya tengah malam begini. “Anda ada perlu apa?”
“Jangan bersedih,” kata wanita itu. Suaranya lembut dan sejuk seperti angin sepoi. Merasuk hingga ke relung dadanya. “Berhenti mencerca diri sendiri. Segeralah benahi bangunan jiwamu yang runtuh. Tegakkan tubuhmu saat lemah, letakkan dadamu pada kerendahan hati untuk sebuah keagungan. Pergilah bersujud dan kenakan ini. Jadilah perempuan yang menjaga diri.” Wanita itu lantas menyodorkan sebuah mukena yang terlipat rapi.
Ia masih belum mengerti apa yang diucapkan oleh wanita itu. Ingin ia menjawab, tapi bibirnya serasa dikunci. Namun saat ia menerima mukena tersebut, dadanya langsung bergemuruh dan sepasang matanya terasa panas. Wanita itu pun langsung lenyap. Hingga akhirnya tangisnya pun pecah dan seluruh pemandangannya menjadi gelap begitu saja. Sampai kemudian ia membuka matanya lagi, dan ia terkejut mendapati kenyataan aneh. Bahwa ternyata ia masih duduk di depan cermin rias. Tidak pergi ke mana-mana
Hanya saja, di atas meja rias itu betul-betul tergeletak sebuah mukena putih dan wangi. Tapi entah dari mana. Sebab ia sama sekali belum sempat membeli mukena sejak memutuskan jadi ‘perempuan penjelajah malam’. Mungkinkah mukena itu betul-betul pemberian wanita berpakaian serba putih tadi? Jantungnya berdegup sangat cepat dan air matanya kembali menetes.
***
Kurator: A. Warits Rovi
M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Karyanya termakhtub dalam beberapa kumpulan puisi Bandara dan Laba-laba (2019, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali), Antologi Rantau Komunitas Negeri Poci (2020)), Antologi Sebuah Usaha Memeluk Kedamaian (2021) dan telah tersebar di berbagai media seperti Pikiran Rakyat, Haluan Padang, Riau Pos, Fajar Makassar, Kedaulatan Rakyat, Radar Malang, Bangka Pos, ide.ide.id, biem.co, magrib.id, bacapetra.co dll. Fiasko (2018, AT Press) adalah novel pertamanya. Bergabung dengan Community Pena Terbang (COMPETER) dan Kelas Puisi Alit

