Cerpen: Fathorrozi
“Kau tahu Syaikhana Muhammad Khalil Bangkalan Madura?” tanya Kiai Misnadi pada putranya, Hatim al-Hasyimi, sewaktu berkunjung ke pondoknya; Qarnul Islam Ledokombo Jember.
“Seorang wali kutub itu, Abah? Cerita sekilas tentang beliau saya tahu, tapi secara detail, saya tak tahu persis,” tegas Hatim saat itu.
“Beliau itu punya santri yang sangat alim dan dikenal tawadu,” abah Hatim mulai bercerita. Hatim mendengarkan penuh perhatian. “Si santri sangat rajin belajar dan tekun berdoa. Kendati ia dari kalangan tidak mampu, tapi semangatnya dalam belajar tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan.”
“Teruskan, Abah!” Hatim tidak sabar, ingin tahu kelanjutannya.
Kiai Misnadi terkenal sebagai tokoh agama di desanya. Beliau mengajari anak-anak tetangga untuk mengaji Al-Qur’an di surau kunonya. Begitulah, setiap malam pengajiannya terlaksana. Kecuali malam Jumat dan malam Selasa. Malam Jumat diganti pembacaan selawat diba’ lalu dilanjutkan selawat burdah. Sedangkan malam Selasa diadakan pengajian kitab kuning bersama warga sekitar.
Kiai Misnadi adalah sosok pendidik yang ikhlas. Beliau juga ingin anaknya sukses seperti guru-gurunya dan salafusshalihin, agar bisa meneruskan bahkan menumbuhkembangkan surau peninggalan leluhurnya. Maka tidak jarang, ketika Kiai Misnadi menjenguk sekaligus mengirim putranya ke pondok, beliau memupuk putranya dengan berbagai wejangan mutiara penuh hikmah.
“Si santri tadi dengan penuh kesabaran berangkat pagi-pagi buta ke ndalem Kiai Muhammad Khalil untuk menimba ilmu,” lanjut Kiai Misnadi. “Letak rumah si santri dengan ndalem Kiai Khalil sangat jauh jaraknya. Tapi baginya, hal itu tidak menjadi aral serius yang akan menyurutkan niatnya. Apa kitab ilmu fiqih yang dipakai santri sini?” tanya Kiai Misnadi di sela-sela ceritanya.
“Kalau setingkat saya, pakai kitab Safinatu an-Najah. Tingkat yang lebih atas, pakai kitab Fathu al-Qarib, Fathu al-Mu’ien, Fathu al-Wahhab, Iqna’ dan lain sebagainya,” jawab Hatim.
“Kalau kitab nahwu?”
“Yang sering diajarkan guru saya adalah Awamil dan Mukhtashar Jiddan alias Jurmiyah.”
“Nah itu, ilmu fiqih dan ilmu nahwu yang dipelajari oleh si santri dengan apa yang dipelajari santri sini itu sama kitabnya. Tapi, kenapa ilmu yang diperolehnya kok beda? Belajarnya sama, kitab yang dipelajari juga sama, tapi kok bisa beda barakah? Kenapa?” tanya Kiai Misnadi lagi.
Hatim menggelengkan kepala.
“Itu sebabnya, di saat santri itu berangkat dari rumahnya menuju ndalem Kiai Khalil, selama dalam perjalanan si santri tersebut membaca surah Yasin sebanyak empat puluh satu kali. Pulangnya juga demikian. Ia membaca surah Yasin sejumlah empat puluh satu kali. Nah, di sinilah letak perbedaan santri itu dan santri masa sekarang.”
“Sambil berwirid membaca empat puluh satu surah Yasin, ia berjalan dengan langkah pelan. Hatinya tiada henti mengingat Allah. Sangat tawadu. Ia selalu menjaga pandangannya. Berjalan menunduk. Setiap kali berjumpa dengan kotoran sapi alias calathong, sejenak ia hentikan langkahnya. Ia perhatikan kotoran sapi itu dengan cermat, sembari berkata: ‘kamu dan saya masih lebih hina saya, Thong. Kamu yang hina ini, masih lebih hina saya, Thong’. Pengakuan itu sekaligus disertai dengan deraian air mata. Sungguh-sungguh ia menghayati setiap kata demi kata. Menusuk dalam nurani dan perasaannya. Manakala pulang dari ndalem Kiai Khalil dan jika ia jumpai barang yang sama, maka lagi-lagi ia berhenti dan menghinakan dirinya dengan lebih hina daripada kotoran sapi. Sungguh, tiada ketakabburan secuil pun yang menempel. Ia betul-betul santri yang telah menemukan jati dirinya dengan selalu merasa lebih hina daripada kotoran sapi sekalipun,” lanjutnya.
Kiai Misnadi masih istirahat. Beliau mengambil air putih lalu meneguknya. Ketika stamina pulih kembali, beliau meneruskan lagi ceritanya.
“Tak berlangsung lama, ketika si santri itu sudah terjun ke masyarakat dan mulai mengarungi kehidupan yang sebenarnya, ia ternyata menjadi kiai masyhur yang disegani masyarakat dan menjadi pengasuh di salah satu pesantren yang terbilang pesantren besar pada masanya.”
“Jadi, kau juga harus berusaha menirunya. Kalau sudah mau berangkat ngaji dan sekolah, bacalah amalan yang bermanfaat sekalipun bukan surah Yasin. Istikamahkan! Biar dapat ilmu tambahan. Dan yang tak kalah penting lagi, kau harus selalu rendah hati. Jangan sekali-kali bersifat takabbur, karena itu adalah musuh Allah,” saran Kiai Misnadi.
“Siap, Abah.”
“Terus setelah si santri tadi bergelar ulama kharismatik, lambat-laun santri-santrinya mulai berjubel belajar ilmu agama padanya. Sekalipun ia sering dihormati orang, namun dirinya tetap senantiasa merendah. Tak sekecil biji zarrah pun ada perasaan membanggakan diri.”
Hatim terus memandang wajah abahnya. Ia tambah saksama mendengarkan cerita Kiai Misnadi.
“Terbukti ketika para tamu memenuhi ruang depan si santri yang telah menjadi kiai itu, ia tidak langsung menyambutnya. Ia masih sibuk masuk ke dapur. Ambil air, lalu dituangkan ke tanah. Ia ulek-ulek sampai becek. Ngacember. Sekejap kemudian, ia tempelkan ke permukaan dadanya. Jika terlihat masih terlalu tipis, ia ambil lagi, lalu dilapisi lagi. Jika kurang tebal, ia ambil dan ia tempelkan lagi. Begitu selanjutnya hingga sinar yang memancar dari dadanya sungguh-sungguh tak terlihat oleh para tamu. Dikala pancaran cahaya dadanya sudah tak lagi tampak, ia pakai bajunya. Lantas menemui tamu yang mayoritas para wali santri dengan maksud silaturrahim dan menanyakan kondisi putra-putrinya. Terus seperti itu, sepanjang ia menemui tamu-tamunya. Sungguh mapan nian hatinya. Tak ingin mengumbar keistimewaan dirinya kepada khalayak. Ia sembunyikan kelebihannya agar tak satu orang pun tahu. Biar hatinya tidak digerogoti takabbur. Agar hatinya tak dihinggapi riya’ atau penyakit hati lainnya.”
“Tapi, dengan dasar apa Abah tahu kalau santri itu dari dadanya memancar cahaya? Padahal tutur Abah barusan, santri itu selalu menyembunyikan keistimewaannya pada orang lain,” di kepala Hatim menggelayut tanda tanya.
“Kelebihannya bukan rahasia lagi. Tatkala ia meninggal dunia, saat mau dimandikan, ternyata dari dalam dadanya memancar gugusan cahaya menerangi sekitarnya. Bahkan pada waktu dishalati, cahaya tersebut tidak juga pudar. Malah mengalahkan cahaya puluhan lampu di sekitar masjid pesantren.”
“Kalau boleh saya tahu, siapa nama si santri itu, Abah?”
“Abu Syamsuddin. Namun semenjak si santri itu meninggal dunia, tetangga, masyarakat maupun para wali santri menyebutnya Kiai Lathong. Dan makam tempat beliau beristirahat selamanya, dinamai Buju’ Latthong yang terdapat di Batu Ampar Barat desa Proppo Pamekasan Madura. Sebab, manakala beliau berjumpa dengan kotoran sapi atau calathong, spontan beliau berhenti dan mengajak kotoran itu untuk bercakap sejenak. Serta tanah becek yang beliau tempelkan ke dadanya agar lentera cahaya tidak kelihatan itu, menurut hipotesa orang adalah kotoran sapi.”
“Begitu, Nak, ceritanya. Apakah kau bisa meneladani Kiai Lathong?” Kiai Misnadi menyudahi ceritanya.
“Insya Allah, Abah.”
“Syukurlah jika kau punya kemauan untuk meneladaninya dalam mencari ilmu dan saat terjun di tengah masyarakat kelak. Satu lagi permintaan Abah.”
“Apa, Abah?”
“Di sini kau jangan terkontaminasi oleh teman sejawatmu. Jangan sampai terpengaruh oleh kelakuan nakal teman-temanmu. Apalagi sampai kau dikendalikan oleh mereka. Tirulah falsafah ikan tongkol. Sekalipun ia hidup di tengah air laut yang asin, tapi tubuhnya tidak ikut asin. Begitu pula denganmu. Jika teman-teman sekelilingmu tidak rajin, ingatlah, kau jangan sampai terpengaruh mereka. Kamu harus punya prinsip!”
“Berhati-hatilah mencari teman! Jangan berteman bersama mereka yang selalu melanggar aturan pesantren, agar kau tidak kena kualat. Jika kau dekat dengan penjual parfum, kau juga dapat harumnya. Dan jika kau dekat dengan penjual ikan laut, kau akan kebagian amisnya.”
Dan seterusnya.
Dapat dipastikan, setiap kali Kiai Misnadi mengunjungi Hatim ke pesantren, beliau selalu menasihati. Tiada jemu setiap saat. Sebab beliau ingin pewarisnya kelak adalah seorang yang saleh.***
Ledokombo, 23 November 2021
*) Fathorrozi, alumnus Pascasarjana Universitas Islam Negeri KH. Achmad Siddiq Jember. Aktivitas kesehariannya mengamalkan ilmu di Pondok Pesantren Nurul Qarnain Sukowono Jember dan mengelola YPI Qarnul Islam Ledokombo Jember.

