Image Slider

Kontestasi Pilkada Sumenep yang Harmonis

Oleh: Mufiqur Rahman

Sumenep memiliki sejarah yang baik dalam kontestasi politik, baik pemilihan kepala desa (Pilkades) hingga pemilihan bupati (Pilbub). Hari ini masyarakat Sumenep akan kembali menentukan hak politik mereka dalam Pilbub 9 Desember. Saya sama sekali tidak khawatir dengan proses ini. Karena sampai saat ini belum terdengar kabar isu konflik politik yang panas antar kedua kubu calon. Masyarakat terlihat biasa-biasa saja menghadapi dan menanggapi pesta demokrasi tersebut.

Pemilihan Bupati ini akan baik-baik saja, tidak akan ada konflik yang akan berlebihan, setidaknya hal tersebut karena dilihat dari beberapa factor; pertama, masyarakat Sumenep memiliki kultur politik yang baik. Dalam sejarah pemilihan bupati di Sumenep, belum pernah terjadi agitasi konflik politik yang berkepanjangan, walaupun Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jatim tahun 2015 menyatakan bahwa Sumenep adalah 10 dari 19 Pilkada yang rawan konflik. Tapi saya menilai konflik tersebut hanyalah konflik sesaat yang lazim terjadi dalam “musabaqoh” Politik yang tidak menimbulkan kegaduhan yang berkepanjangan. Apalagi dasar pernyataan Bawaslu tersebut hanya berdasar pada jumlah calon (yang selalu dua) bukan pada isu sensitif lainnya.

Kedua, masyarakat sumenep masih mempertahankan falsafahnya dengan baik. Falsafah seperti bhupak phebuh Guru Ratoh dimana kiai masih menjadi figur sentral masyarakat yang didengar dawuhnya dan ditaati. Memang sampai hari ini politik di Sumenep tidak dapat dipisah dari peran kiai. Baik kiai sebagai pengusung calon, maupun sebagai ketua tim pemenangan atau Vote getter. Dapat dianalisa dengan baik selama ini belum pernah ada kiai di Sumenep yang konfrontatif dan membuat kegaduhan politik sehingga terjadi kekerasan dan anarkis. Dalam hal ini, dalam pandangan saya Sumenep diuntungkan dengan peran dan sikap kiai moderat yang menyejukkan dalam setiap pesta politik ini.

Isu Rasisme

Sejauh saya melihat, belum ada atau hampir tidak ada isu rasis yang dimainkan oleh kedua kubu calon. Hal ini dikarenakan tatanan sosial masyarakat Sumenep sudah terbentuk dengan baik dan harmonis. Setidaknya ada 6 suku yang hidup damai, antara lain; suku Madura sendiri, suku Arab, suku Mandar, suku Bugis, suku Bajo, dan Tionghoa. Bahkan keenam suku tersebut telah sepakat menjaga perdamaian dalam keberagaman. Keberagaman suku ini disebut Pelangi yang mewarnai kehidupan masyarakat Sumenep yang multikultur. Kita wajib bersyukur bahwa hingga saat ini Pemerintah Sumenep telah merawat keberagaman ini dengan baik. Saya melihat upaya itu ada dan dilakukan dalam beberapa momentum, salah satunya pementasan seni dan budaya yang menampilkan budaya antar suku di Sumenep. Saya kira ini sangat bagus bila pagelaran semacam ini nantinya ditingkatkan menjadi pagelaran tahunan atau berkala.

Kembali lagi kepada isu rasisme di Sumenep tidak akan tumbuh karena kuatnya hubungan antar suku yang harmonis. Dalam beberapa penelitian disebutkan, harmonisasi tersebut terjadi karena sudah diwariskan oleh orangtua antar suku. Adanya perkawinan silang antarsuku dan juga karena faktor ekonomi. Ini menjadi modal sosial Sumenep untuk terus damai dalam kontestasi apa pun, termasuk pemilihan bupati dari dulu hingga sekarang.

125 Pulau

Kehebatan Sumenep juga bisa kita lihat pada 125 pulau yang dirawat dengan baik sehingga tidak terdengar sekali lagi konflik antar pulau. Inilah yang membedakan Sumenep dengan daerah lain di Indonesia yang cendrung konflik karena perbedaan suku dan letak geografis. Sumenep yang—bisa dikatakan dengan—suku dan jumlah Pulau terbanyak di Jawa timur mampu membangun harmonisasi dengan baik. Saya melihat adanya pemerataan pembangunan di Sumenep menjadi kunci hamony ini. Kemudian adanya Perda pulau yang juga memberikan dampak positif terhadap terciptanya kehidupan masyarakat kepulauan. Sehingga proses kontestasi politik ini berjalan dengan baik di kepulauan. Apalagi saya mendengar rencana KPU untuk menggunakan pesawat helikopter dalam antar jemput surat suara ke daerah kepulauan akan menjadikan proses ini lebih efektif dan efisien dalam rangka mengurangi tingkat dugaan kecurangan yang akan terjadi. Sehingga akhirnya saya dapat memastikan dengan modal sosial dan kultur politik ini. Masyarakat Sumenep telah matang dan memendung gejolak atau konflik politik. Masyarakat Sumenep dengan kedewasaanya akan mengantarkan proses ini dengan kultur keadaban politik yang baik dan membanggakan.

*) Pengurus Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) PCNU Sumenep

 

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga